
***
Dor!
"Aarg!" Teriak Alvin kesakitan kala peluru dari Robert menancap di kaki kanannya.
"Demi mewujudkan keinginan Tuan Loven, aku bisa saja membunuhmu." Ujar Robert tersenyum licik.
Walaupun kaki kanannya terluka, tapi Alvin masih bisa bertarung untuk melawan Robert. Beberapa senjata tersembunyi di pakaiannya, bisa dia gunakan.
Dengan cepat Alvin melempar senjata tersembunyi miliknya. Namun dapat dihindari dengan mudah oleh Robert yang begitu Agresif.
"Lupakan semua senjatamu yang tidak berguna itu. Lebih baik kau terima saja tawaranku, aku akan memberikan Putrimu tapi tidak dengan Miya. Dia harus tetap tinggal bersamaku dan menjadi penerus Tuan Loven."
"Sampai mati pun, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Teriak Alvin mengeluarkan senjatanya.
Dor!
Dor!
Dor!
Robert bukanlah saingan Alvin, lihatlah bagaimana Robert dengan mudahnya menghindari tembakkan dari Alvin. Tubuhnya begitu lentur Dan gesit. Peluru yang Alvin daratkan, tak satupun dapat mengenai Robert.
"Saat aku katakan kau harus mati, maka kau harus mati. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku." Ucap Robert.
Dor!
Satu tembakkan Robert daratkan tak dapat dihindari oleh Alvin. Darah segar merembes dari perutnya. Alvin begitu tak menduga akan keganasan Robert. Secepat itu, bahkan dirinya belum sempat membalas ucapan Robert.
__ADS_1
Uhuukk
Alvin terbatuk bersamaan dengan darah mengalir dari mulutnya.
"Sial!" Umpat Robert kala sekelompok pengawal berbaju Serba hitam melayangkan hujanan peluru kearahnya. Robert pun melesat pergi terus menghindari hujan peluru M-16 yang mengincarnya.
"Astaga, cepat kita bawa Alvin. Dia terluka parah!" Seru Anan.
"Kalian tetap temukan Robert. Bagaimana pun caranya, kalian harus menemukannya!" Titah Anan lalu pergi membawa Alvin menuju jetnya yang berada di luar ruangan.
Ketika tiba di luar kapal, pesawat milik Alvin telah mengudara dibawa oleh Robert untuk melarikan diri.
"Cepat hubungi Mansion. Minta mereka kirimkan pesawat jet, Haven." Titah Anan.
"Tidak perlu Tuan. Masih ada satu lagi pesawat kita di pulau. Aku akan menghubungi pengawal yang berjaga disana untuk membawa pesawat itu kesini." Jawab Haven.
"Syukurlah, kita harus cepat. Kalau tidak Alvin tidak akan terselamatkan." Seru Anan.
"Alvin kau sadar, aku mohon bertahanlah." Mohon Anan terus memangku kepala Alvin dan menekan kuat luka di perut Alvin.
"Ba-bagaimana keadaan Mi-miya da-dan—Put-riku?" Tanya Alvin terbata.
"Kau tenanglah, Alvin. Miya dan Naumi baik-baik saja. Mungkin saat ini, mereka berdua sudah berada di rumah sakit." Jawab Anan tidak menyebutkan bahwa kondisi Miya dan Naumi sangatlah memprihatinkan.
Miya, dia memang tidak disiksa. Tapi kandunganya yang lemah dan cemas yang berlebihan, terutama ingatan masa lalu yang telah kembali, membuatnya pendarahan dan syukurlah kini telah ditangani oleh Dokter Nita. Sedangkan Naumi, Naumi mengalami luka disekujur tubuhnya. Robert melatih fisik gadis kecil malang itu untuk dia jadikan sekuat Miya. Latihan-latihan berat yang Naumi jalani, membuatnya mendapat banyak luka ditubuhnya.
Beruntung Alvin telah menyiapkan segala persiapan untuk menyerang Robert. Hingga rencana yang mereka susun, berhasil mereka terapkan dengan mulus. Meski Alvin harus mengorbankan nyawanya demi keberhasilan rencananya sendiri.
"Syu-kurlah," jawab Alvin terbata kemudian Alvin pun kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
***
Di rumah sakit :
"Aw! kepalaku pusing sekali. Astaga Bayiku!" Teriak Miya histeris kala mengingat kajadian sebelum dia pingsan.
"Tenanglah Nona, bayi Nona baik-baik saja." Jawab suster yang kini memeriksa infus Miya.
"Syukurlah, terima kasih Tuhan. Putriku, Suster dimana Putriku!" Sekali lagi Miya berteriak.
"Disini Nona. Putri Nona juga baik-baik saja. Hanya beberapa luka ditubuhnya. Tapi itu tidak terlalu parah." Jawab Suster membuka tabir pembatas antara Miya dan Putrinya Naumi.
"Naumi, sayang. Maafin Ibu nak." ucap Miya sambil melihat putrinya yang terbaring lemah di ranjang sebelahnya.
"Saya ingin bangun, Suster." Pinta Miya memohon.
"Maaf, Nona. Nona tidak boleh banyak bergerak, kondisi Nona belum membaik. Nona bisa melihat keadaan Putri Nona dari sini." Tolak Suster ramah.
"Ta-tapi Suster."
"Maaf, Nona. Mohon jangan egois, calon bayi Nona juga membutuhkan istirahat." Jelas Suster sabar.
"Baiklah, Suster. Oh iya, apa suster bisa jelaskan kenapa saya berada disini. Apakah ada yang menolong saya, karena seingat saya, saya di culik."
"Iya, Nona dan Putri Nona memang korban penculikan. Tuan Alvin Suami Nona sekaligus pemilik rumah sakit inilah yang telah menolong Nona." Jawab Suster yang ternyata mengetahui gosip hangat yang beredar.
"Sudah kuduga. Aku tau itu, Alvin tidak akan membiarkan aku dan Putriku terluka. Dia benar-benar berubah." Batin Miya berkata.
"Jadi, dimana Suami saya sekarang, Suster?" Tanya Miya khawatir.
__ADS_1
"Tuan Alvin Kritis, Nona. Dia mengalami luka tembak di kaki dan perutnya. luka tembak diperutnya sangatlah parah, hingga menyebabkan dia kritis. Tapi Nona tenang saja, saya yakin Tuan Alvin akan segera sadar." Jelas Suster yang tidak bisa menjaga rahasia.
"Ke-kritis—" Ucap Miya lalu pingsan karena terkejut.