Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Hukuman 24 jam


__ADS_3

***


Keesokkan paginya


"Bagaimana perasaanmu? Apa sudah lebih baik?" Tanya Alvin sambil menyodorkan sesendok bubur ke mulut Miya.


"Heem, aku sudah lebih baik sekarang." Jawab Miya melahap suapan Alvin.


"Suapan terakhir," ujar Alvin menyuapi Miya lagi.


"Terima kasih, Alvin." Ucap Miya tulus.


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya, juga untuk semua aktingmu." Jawab Miya.


"Aku tidak berakting, itu tulus aku lakukan. Apa kau tau Miya, sepertinya aku mulai nyaman bersamamu." Jawab Alvin membuat Miya terdiam.


"Jangan bercanda, itu sama sekali tidak lucu." Saut Miya tak percaya.


"Aku serius, Miya. Sepertinya aku mulai menyukaimu." Jawab Alvin tulus.


"Sudahlah, Alvin. Aku tidak percaya pada mulut manismu." Ketus Miya.


"Kau tau, Sayang. Hukumanmu sudah menumpuk sangat banyak. Jadi, kau harus cepat sembuh untuk menyicilnya." Saut Alvin tersenyum licik.

__ADS_1


"Hukuman, hukuman apa?" Tanya Miya bingung.


"Hukumanmu. Kau akan dihukum selama satu malam jika melakukan kesalahan."


"Memangnya aku melakukan kesalahan apa?" Tanya Miya semakin bingung.


"Kesalahanmu sangat banyak, Sayang. Apa kau tau sudah berapa kali kau memanggilku dengan panggilan namaku bukannya Sayang." Jawab Alvin membuat Miya sadar akan kesalahannya.


"Astaga, bagaimana mungkin aku melupakan panggilan itu. matilah aku, pasti malam-malam berikutnya aku tidak akan bisa lolos darinya." Batin Miya frustasi.


"Kau ingat bukan, bersiaplah, Sayang. Yasudah kalau begitu istirahatlah dulu, aku akan mandi." Ujar Alvin segera menuju kamar mandi.


Setelah memastikan bahwa Alvin benar-benar masuk kedalam kamar mandi. Miya pun segera berdiri, menuju laci, dia tampak mencari sesuatu.


"Syukurlah, pil kb-nya masih ada. Bisa gawat kalau habis." Ucap Miya lega.


Setelah memakai pakaiannya, dia langsung keluar dari kamar menuju kamar Putrinya. Dia merindukan Putri tercintanya. Pagi ini, dia yang akan menemani Putrinya bermain.


Siang harinya, barulah Miya terbangun karena cacing-cacing diperutnya sudah mulai berteriak minta diisi.


"Kemana Alvin?" Ucap Miya bertanya-tanya. "Ah sudahlah, aku akan mengambil sendiri makannannya." Sambung Miya sambil berjalan perlahan menuju dapur.


Sampai di dapur, Miya menghentikan langkahnya kala tak suka aroma yang berasal dari dapur. Miya segera membalikkan badanya sambil terus menutup mulut dan hidungnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aw!" Teriak Miya kala tubuhnya bertabrakan dengan tubuh kekar seseorang.

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya seseorang pemilik tubuh kekar itu, yang tak lain adalah Alvin.


"Sa-sayang, aku ingin makan. Aku sangat lapar." Jawab Miya tanpa melepaskan telapak tangan dari mulut dan hidungnya.


"Aku dan Naumi juga ingin makan, Ayo kita ke ruang makan." Jawab Alvin.


"Ti-tidak, aku tidak mau!" Saut Miya menolak keras.


"Kenapa, Bu? Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Naumi khawatir.


"Ibu baik-baik saja, Sayang. Ibu hanya tidak suka bau sesuatu dari dapur dan ruang makan." Jawab Miya menenangkan Putrinya.


"Kalau begitu istirahatlah di kamar. Aku akan membawa makanan untukmu." Ucap Alvin.


"Baiklah," jawab Miya.


"Ayo, Sayang. Kita makan siang." Ajak Alvin pada Putrinya.


Sampai di ruang makan, Alvin menyajikan makanan untuk Naumi lalu mengambil piring besar akan mengambilkan makanan untuk Miya.


"Apa Ayah akan makan di kamar bersama Ibu?" Tanya Naumi.


"Apa kamu tidak keberatan, Sayang?" Tanya balik Alvin.


"Tentu saja tidak, Ayah. Aku ini sudah dewasa. Aku bisa makan sendiri. Ayah pergi temani Ibuku saja. Sepertinya Ibu tidak baik-baik saja." Kata Naumi begitu paham akan kondisi yang terjadi.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Putri Ayah memang sangat jenius. Kalau begitu Ayah temani Ibumu dulu, jangan lupa habiskan makananmu." Ucap Alvin sambil mengelus rambut Naumi.


"Pasti, Ayah." Jawab Naumi tersenyum.


__ADS_2