
Aaaakh!
Teriakan serta rintihan kedua pria itu kala pergelangan tangannya dipelintir oleh Miya.
"Saya sudah katakan, jangan mengganggu saya!" Bentak Miya lalu mendorong kedua pria itu hingga mendarat di aspal.
Kedua pria itu tersenyum licik menatap Miya. Kemudian berdiri, menyibak jaketnya, mengelurkan pistol masing-masing, lalu menodongkannya ke arah Miya.
"Tuan kelinci!" Teriak Miya, kedua pria itu pun membalilkan tubuhnya kebelakang. Miya hanya asal menyebut nama Tuan Kelinci, siapa sangka kalau Tuan kelinci adalah panggilan untuk Boss mereka. Kosong, tidak ada boss atau siapa pun dibelakang mereka.
Sadar telah dikerjai, keduannya pun kompak kembali melihat ke arah Miya dihadapannya. Miya masih berada di tempat semula, dan kedua pria itu menarik pelatuk masing-masing untuk menembak Miya. Dan betapa terkejutnya mereka saat tidak melihat apapun dikedua tangan mereka.
"Apa tuan-tuan sedang mencari benda ini?" Tanya Miya lalu menunjukkan kedua postol yang tadinya ia rebut secara diam-diam.
"Kau! Kau, Bagaimana kau bisa mengambilnya!?" Ucapnya tak percaya.
"Bagaimana cara menggunakannya? apakah begini," ucap Miya mengarahkan senjata kearah kedua pria itu, membuat keduannya mengangkat tangan kompak. Tanpa ragu Miya menarik pelatuk dan ....
__ADS_1
Dor!
Dor!
Dua kali tembakkan bersamaan tepat melewati sela-sela paha kedua pria bertato kelinci itu, keduannya kompak memegangi senjata pusakanya untuk memeriksa apakah masih utuh.
"Pergi atau aku tembak!" Bantak Miya membuat kedua pria itu lari terbirit-birit.
"Benda ini, bisa aku gunakan saat nyawaku terancam. Siapa tau Tuan Al akan membunuhku. Setidaknya aku bisa membunuhnya sebelum dia membunuhku. Aku masih ingin hidup bahagia bersama Naumi Putriku. Tapi, dimana benda ini harus ku sembunyikan." Ucap Miya bingung. "Disini, aku yakin akan aman." Sambung miya memasukkan senjata itu kedalam bra nya.
***
"Dimana gadis itu?" Tanya Alvin yang kini duduk di kursi meja makan.
"Belum datang, Tuan." Jawab Bibi Musti sopan.
"Berani sekali dia melanggar peraturan dariku," ucap Alvin murka.
__ADS_1
"Tuan bisa mengecek dimana posisi, Nona. Saya sudah memansang alat pelacak ditubuhnya." Saut Bibi Musti. "Apa Tuan ingin melihat dimana posisi Nona saat ini," tawar Bibi Musti.
"Tidak perlu dan aku tidak peduli." Jawabnya dengan wajah terlihat khawatir.
"Padahal, terakhirku lihat Nona ada di hutan dekat markas Genk kelinci hitam." Gumam Bibi Musti berbicara sendiri. Namun dia sengaja agar didengar oleh Tuannya.
Alvin yang mendengar gumamman Bibi Musti terlihat semakin khawatir. Ya, sialnya dia tertarik pada gadis yang dia sebut gadis murahan itu. Tertarik ya, bukan suka apalagi mencintai. Sangat tidak mungkin cinta timbul dihati seorang Tuan Alvin Darran yang hatinya telah lama beku.
"Chef seperti apa lagi yang kau pilih. Lebih enak makanan kucing daripada makanan yang kalian masak ini. Cepat sajikan makanan yang lain." Bentak Alvin tidak Suka dengan makanan yang tersedia. Akhirnya para Chef kembali ke dapur untuk masak lagi.
"Makanan apa lagi ini!" Teriaknya kembali menarik alas meja membuat semua Yang ada diatas meja berserakan ke lantai.
"Tanpa tuan sadari. Tuan sudah mencintai Nona Miya. Setiap Nona Miya dalam bahaya, emosi Tuan selalu memuncak. Aku yakin Nona Miya bisa membuat Tuan berubah menjadi lelaki baik seperti dulu lagi." Batin Bibi Musti dengan harapannya pada Miya.
"Tuan, tuan mau pergi kemana?" Tanya Bibi Musti.
"Tenang saja, Bi. Aku akan menjaga Tuan." Jawab Sekretaris Haven yang belum pulang ke apartemennya.
__ADS_1