
***
"Ayah, siapa Tante itu?" Tanya Naumi tak suka.
"Kenalin, Sayang. Tante ini namanya Tante Yirien. Tante Yirien juga akan tinggal disini bersama kita." Jawab Alvin menjawab pertanyaan putrinya dengan sabar.
"Oooo, halo Tante Yirien. Namaku Naumi, aku Putrinya Ayah Alvin, dan ini Ibuku istrinya Ayah Alvin." Ucap Naumi membuat Yirien terkejut dan tak percaya.
"Dia siapa, kak. Apa benar yang dikatakan anak kecil itu?" Tanya Yirien menatap Naumi tajam.
"Benar yang Naumi katakan. Saat ini, Miya adalah istriku dan Naumi adalah Putriku dan kau adalah pelakornya." Ketus Alvin langsung duduk disamping Naumi. Sedangkan Miya juga memilih duduk disamping Putrinya.
"Kakak, aku ini calon istri kakak. Bagaimana mungkin kakak bicara seperti itu kepadaku!" Bentak Yirien.
"Calon istri pilihan Ayahku. Bukan pilihanku." Jawab Alvin tanpa melihat ke arah Yirien yang masih setia berdiri.
"Aku tidak terima kakak perlakukan seperti ini!" Teriak Yirien dengan air mata buayanya telah mengucur.
"Apa kau ingin Ayam ini, Sayang. Rasanya pasti sangat enak." Alvin sibuk melayani putrinya dan tidak mempedulikan teriakan Yirien.
"Lihat saja nanti!" Ancam Yirien lalu kembali ke kamarnya dengan kekesalan yang memuncak.
"Ayah, apa Tante tadi orang jahat yang ingin memisahkan aku dan Ayah?" Tanya Naumi dengan semburat sedihnya.
"Kalau iya, kamu tidak takut bukan." Saut Alvin.
"Tentu saja tidak, Ayah. Ibuku itu sangat kuat, tidak ada yang berani padanya saat Ibu sedang marah." Jawab Naumi jujur.
"Benarkah, Apa Ibu semenakutkan itu, hem." Goda Miya menggelitik perut Naumi.
"Ahh geli, ampun Ibu. Ayah tolong aku." Teriak Naumi.
"Berhenti Miya, kau ingin membuat Putriku sakit!" Bantak Alvin tak suka akan perbuatan Miya.
"Iya-iya," jawab Miya tersenyum bahagia. Dia suka melihat Alvin yang begitu perhatian kepada Putrinya. Sedangkan Naumi hanya tersenyum melihat reaksi Ibunya.
Senja datang, dengan warna jingga yang begitu mempesona. Angin bertiup lembut menerpa rambut panjang Miya. Kini, Miya berada di balkon. Berdiri disana sambil melihat warna jingga yang kian lama kian memudar.
__ADS_1
"Sa-sayang," Ucap Miya kaget karena Alvin tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Seindah apapun jingga itu, menurutku lebih indah dirimu. Apa kau sudah mulai mencintaiku?" Tanya Alvin kembali membuat Miya keget.
"Apa-apaan dia, apa dia kerasukan." Batin Miya.
"Tidak perlu dijawab, aku juga sudah tau jawabanmu. Lagi pula perempuan mana yang dapat menolak pesona ketampananku." Sambungnya percaya diri
"Narsis," gumam Miya.
"Kau bilang apa?" Tanya Alvin membalikkan tubuh Miya menghadapnya.
"Aku tidak mengatakan apapun," jawab Miya.
"Jadi, apa kau sudah mencintaiku?" Tanya Alvin sekali lagi.
Huffff ....
Miya menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Maafkan aku, Miya. Maafian aku karena akulah penyebab trauma yang saat ini dirimu alami," batin Alvin menyesal.
"Baguslah kalau begitu, memang kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Tapi, aku ingin kita bekerja sama untuk menyingkirkan Yirien." Pinta Alvin.
"Kenapa, kenapa kau tidak menyukai Yirien? Dia gadis yang sangat cantik, modis, masih muda, dan terlebih lagi dia adalah perempuan pilihan Ayahmu." Ujar Miya membalikkan tubuhnya menatap Alvin sendu.
"Kenapa, apa kau cemburu?" Seru Alvin.
"Untuk apa aku cemburu, kau bukan siapa-siapa bagiku. Tugasku hanya menghangatkan ranjangmu," jawab Miya.
"Hemp ...."
Serangan tiba-tiba membuat Miya tak dapat mengelak. Entahlah, Miya merasa hidupnya begitu menyedihkan. Entah kapan akan ada kebagian yang datang padanya.
Alvin terus ******* bibir ranum Miya, tanpa memperdulikan Miya yang meronta karena hampir kehabisan napas.
"Maaf," ucap Alvin saat melepaskan Miya.
__ADS_1
"Tidak apa," jawab Miya begitu pelan hampir tidak terdengar oleh Alvin. Alvin kesal dengan Miya yang tidak menatap dirinya saat bicara. Alvin menggenggam dagu Miya erat dan mengangkat wajah Miya untuk menatapnya.
"Aku kan sudah minta maaf, kenapa kau...." Alvin tak meneruskan kalimatnya saat melihat Miya telah menangis.
"Ada apa denganmu? Apa aku melukaimu? Apa lukamu sakit lagi?" Tanya Alvin khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Miya menyingkirkan tangan Alvin dari dagunya.
"Jangan berbohong padaku. Kalau kau baik-baik saja, tidak mungkin kau menangis. Apa kau marah karena aku menciummu tiba-tiba!" Bantak Alvin mulai emosi.
"Iya, aku marah. Aku sangat marah bukan hanya karena kamu. Tapi, aku marah karena takdir hidupku. Sungguh aku tidak ingin menjadi wanita murahan, hiks, hiks." Batin miya berteriak dan menangis.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya memikirkan bagaimana caraku menghadapi gadis itu." Jawab Miya berkilah.
"Hanya karena itu saja kau menangis, semua perempuan memang sangat lemah." Kesal Alvin.
"Aku lemah, kau lupa kejadian saat kita diserang penjahat. Aku juga membantumu." Jawab Miya tak terima dikatakan lemah.
"Kalau kau memang kuat, kenapa kau takut melawannya. Aku akan memotong hutangmu bila kau berhasil membuatnya menyerah." Ujar Alvin membuat Miya berharap banyak.
"Benarkah, kau tidak sedang membohongiku bukan?" Tanya Miya memastikan.
"Aku tidak berbohong." Jawab Alvin yakin.
"Baiklah, aku setuju. Aku akan membuatnya menyerah dan tidak ingin menikah denganmu." Ucap Miya yakin.
"Baguslah," saut Alvin.
Note: Di novel ini nggk ada pelakor ya gank. Jadi, jangan tertipu oleh alur yang Othor buatπ Kalau tertipu sih bagus jugaππ
Kalau bukan pelakor, kira-kira siapakah Yirien sebenarnya π€
Ayo komenannya mana, hingga saat ini Othor belum menemukan komen yang akan menang GAπ Jadi masih banyak kesempatan.
Hadiah juga dong, kan Othor juga pengen masuk rangking ππ
Biar tambah semangat nulisnya. Terima kasih reader-reader yang Othor sayangiπππππ
__ADS_1