Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Ayah Naumi


__ADS_3

***


"Maaf, Nona. Maaf karena saya tidak bisa membantu Nona. Jujur saja saya sudah punya pacar. Pacar saya sangat posesif, saya tidak ingin dia salah paham bila saya membantu Nona. Maafkan saya Nona." Ucap Dokter kelvin terlihat begitu tak enak hati, aktingnya benar-benar luar biasa.


"Ah, jadi begitu Dokter Kelvin. Saya yang harusnya minta maaf. Seharusnya saya tidak bilang begitu. Hampir saja saya membuat hancur hubungan orang lain. Maafkan saya Dokter Kelvin." Ucap Miya merasa sangat malu.


"Tidak apa Nona Miya. Sebaiknya Nona segera mencarikan Ayah untuk Naumi. Saya khawatir sakitnya kan kembali lagi bila keinginannya tidak terpenuhi." Ujar Dokter Kelvin.


"Dimana saya bisa menemukan Ayah dalam waktu satu hari, Dokter." Keluh Miya putus asa. "Lagian laki-laki mana yang mau menerima saya yang seperti ini. Gadis bukan, janda juga bukan. Siapa yang mau kepada saya." Tambah Miya lagi semakin putus asa.


"Coba Nona pikir-pikir, apakah akhir-akhir ini ada lelaki yang baik dan perhatian pada Nona?" Tanya Dokter Kelvin.


"Baik dan perhatian," ujar Miya malah membayangkan kebaikkan dan perhatian yang Alvin berikan kepada dirinya.


"Ah iya, pria bejat itu!" Teriak Miya menemukan sebuah ide.

__ADS_1


"Pria bejat?" Ucap Dokter Kelvin penuh tanda tanya.


"Iya, Dok. Ada pria bejat tapi baik dan perhatian pada saya. Dan lagi pula saya adalah ....


"Adalah apa, Nona?" Tanya Dokter Kelvin penasaran.


"Bukan apa-apa, Dokter Kelvin. Jadi, kapan saya bisa membawa Putri saya pulang, Dokter?" Tanya Miya tak sabaran.


"Hari ini juga boleh, Nona." Jawab Dokter Kelvin.


"Baiklah, Nona. Ini obat untuk Naumi, jangan lupa diminum tepat waktu setelah makan pagi, siang, dan malam." Ucap Dokter Kelvin mengulurkan obat Naumi.


"Terima kasih, Dokter. Kalau begitu saya ke Naumi dulu." Kata Miya.


"Iya, silahkan Nona." Jawab Dokter Kelvin.

__ADS_1


"Ibu, aku ingin pulang sekarang. Aku tidak sabar ingin bertemu Ayah. Dokter Kelvin bilang aku sudah sembuh, Bu." Ucap Naumi mengatakan keinginannya.


"Tentu saja, Sayang. Ibu beresin pakaian kamu dulu ya. Setelah ini kita pulang untuk ketemu Ayah. Tapi sebelum itu, kita kerumah kita dulu ya. Ibu mau ambil pakaian ibu dulu." Ucap Miya memeluk erat putri kesayangannya.


Di rumah Miya :


"Ibu, ayo Bu. Kita harus cepat ke rumah Ayah sebelum Ayah pergi lagi ninggalin kita." Desak Naumi.


"Iya, Sayang. Ini sudah selesai kok. Yasudah, ayo kita ke rumah Ayah." Ajak Miya membuat Naumi terlihat begitu bersemangat.


"Kita pulangnya naik taksi ya Bu. Kenapa Ayah tidak jemput kita?" Tanya Naumi cemberut. "Apa Ayah tidak merindukanku," sambung Naumi lagi.


"Itu tidak benar, Sayang. Ayah kamu sibuk, makanya dia tidak sempat jemput kita. Ibu sendiri yang melarang Ayah agar tidak menjemput kita. Karena Ibu tidak ingin mengganggu waktunya." Jawab Miya berbohong.


"Naumi mengerti, Bu." Jawab Naumi tersenyum. Miya tidak mengerti akan putrinya. Jawaban putrinya yang singkat membuatnya bertanya-tanya. Apakah putrinya mengiyakan karena percaya atas apa yang dia ucpakan. Apakah sang Putri menyembunyikan segala ketidakpercayaannya agar tidak membuat ibunya kecewa. Bukankah putrinya sangat jenius daripasa dirinya.

__ADS_1


Sekitar setengah jam perjalanan. Kini, Miya dan Naumi sudah berada di depan Mansion Darran. Miya menggenggam tangan putrinya, memantapkan hatinya, sambil menyeret koper, dengan penuh keyakinan Miya memasuki Mansion mewah itu.


__ADS_2