Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Bingung judulnya apa


__ADS_3

***


"Bibi Musti!" Teriak Alvin.


"Iya, Tuan." Jawab Bibi Musti.


"Antarkan Yirien ke kamarnya, panggil dia saat makan siang siap." Kata Alvin.


"Baik, Tuan. Mari Nona ikut saya." Ajak Bibi Musti, dan Yirien pun mengikuti setelah sebelumnya memberikan tatapan tajam kepada Miya.


"Ayo, Sayang. Bukankah kau punya banyak hutang padaku. Kau sudah harus mulai mencicilnya." Goda Alvin.


"Yang benar saja, melakukannya di siang bolong begini." Kesal Miya.


"Apa salahnya, jika aku mau kau harus siap. Mau malam, pagi, siang, sore, tengah malam, terserah padaku." Jawab Alvin langsung menggendong Miya ala bridal.


"Buka pintunya," titah Alvin kepada Miya yang kini dia gendong. Miya pun membuka pintu sambil mencebikkan bibirnya membuat Alvin semakin gemes melihatnya.


"Aaaaaakh, sakit Tuan. Kenapa suka sekali melemparku keatas kasur. Bagaimana kalau jantungku lepas." Kesal Miya.


"Sepertinya aku terlalu baik padamu, Sayang. Hingga kau berani memaki aku," saut Alvin semakin mendekat pada Miya.


"Maaf, Tuan." Jawab Miya ketakutan.


Cup

__ADS_1


Satu kecupan yang begitu cepat mendarat di bibir Miya, membuat Miya terkejut.


"Biasakan memanggilku dengan panggilan, Sayang." Ucap Alvin, dan Miya pun mengangguk.


"Sekarang lakukan tugasmu. Lengan dan kakimu sudah sembuh bukan." Ujar Alvin langsung memeriksa lengan Miya yang masih diperban.


"Sayang, aku terluka tadi malam. Bagaimana mungkin bisa sembuh secepat itu. Ini juga masih sangat-sangat perih." Jawab Miya sambil meringis kesakitan.


"Jangan berbohong hanya untuk menghindari hukumanmu. Yang sakit kan lenganmu bukan yang ini." Ujar Alvin lalu merem*s dua gundukkan besar milik Miya.


"Sa-sayaang," lenguh Miya sekaligus kaget.


"Tubuhmu memang tidak pernah bisa berbohong." Ujar Alvin tersenyum puas.


"Aw!" Teriak Miya.


"Lenganku tersenggol lenganmu. Aw, perih sekali." Ringis Miya berbohong demi menyelamatkan dirinya.


"Coba aku lihat," Alvin langsung memeriksa lengan Miya. "Apa kau membohongiku." Sambung Alvin lagi.


"Tidak, Sayang. Ini benar-benar perih, sepertinya harus ganti perban. Sebentar, aku akan mengambil kotak p3k lalu mengganti perbannya." Jawab Miya akan berdiri namun dicegah oleh Alvin.


"Kau tetap disini, biar aku yang ambilkan." Ujar Alvin berdiri dan langsung mengambil kotak p3k yang ada di lemari nakas.


"Berikan lenganmu, aku yang akan mengganti perbannya." Titah Alvin dan Miya segera memberikan lengannya yang terluka.

__ADS_1


"Ssshh, sakiit. Pelan-pelan saja, Sayang." Ringis Miya.


"Ini juga sudah pelan-pelan," jawab Alvin.


"Aw, pelan-pelan." Kembali Miya meringis.


"Kau itu sangat lemah." Kesal Alvin meneteskan Betadine pada luka Miya.


"Namanya juga sakit, aku juga heran kenapa sakitnya baru terasa." Jawab Miya heran.


"Sudah selesai, sekarang tidak sakit lagikan. Ayo kita bermain." Ucap Alvin langsung menyerang Miya dengan Lum*tan yang membuat Miya ikut terbuai.


"Emh, ssshh, aah." Lenguh Miya kala Alvin memberikan Tanda di leher jenjangnya.


Tok, tok, tok ....


"Tuan, Nona. Makan siang sudah siap." Ujar Bibi Musti di luar sana.


"Iya, Bibi." Jawab Miya dengan napasnya yang sudah tersengal.


"Nanti saja makan siangnya, ayo kita lanjutkan." Sambung Alvin kembali akan menyerang Miya.


"Tidak, Sayang. Nanti saja kita lanjutkan. Aku sangat lapar. Naumi juga pasti akan kebingungan mencari kita." Ucap Miya dengan wajahnya yang terlihat begitu imut Dimata Alvin.


"Baiklah, tapi ingat. Aku tidak akan melepaskanmu nanti malam." Ancam Alvin.

__ADS_1


"Iya, baiklah." Jawab Miya cepat.


__ADS_2