
***
"Tetap disitu, Sayang." Cegat Miya membuat Alvin heran.
"Ada apa, Sayang. Aku membawa makanan untukmu." Kata Alvin.
"Makanan apa yang kamu bawa, Sayang. Kenapa aromanya tidak enak, sangat bau membuatku ingin muntah. Bawa pergi saja!" Saut Miya kembali menutup mulut dan hidungnya.
"Ini hanya sup dan steak kesukaanmu," jawab Alvin.
"Bawa pergi saja. Aku tidak suka itu." Saut Miya.
"Baiklah, kau ingin makan apa? Aku akan menyuruh Bibi Musti membuatnya." Tanya Alvin.
"Nasi goreng saja, aku ingin kau yang membuatkannya. Aku ingin makan masakanmu." Jawab Miya.
"Aku, aku yang masak?" Tanya Alvin mengkonfirmasi.
"Iya, nasi goreng buatanmu. Aku menginginkannya." Sambung Miya.
"Lihatlah, dia sudah berani memerintahku. Sepertinya aku terlalu baik kepadanya. Lihat saja bagaimana aku menghukummu nanti malam." Batin Alvin dengan ide busuknya.
"Baiklah, Sayang. Apapun untukmu." Jawab Alvin berlalu pergi.
***
"Ayah, kenapa Ayah kembali lagi?" Tanya Naumi heran.
"Ibumu tidak ingin memakan makanan ini, Sayang. Dia bilang, dia ingin makan nasi goreng." Jawab Alvin. "Bibi Musti, tolong buatkan nasi goreng untuk Miya," titah Alvin.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Jawab Bibi Musti.
"Apa benar ibu yang menginginkan nasi goreng itu, Ayah. Seingatku, Ibu tidak lagi menyukai nasi goreng, karena telah bosan makan nasi goreng terus selama mengandungku." Ucap Naumi heran.
"Banarkah Ibumu tidak menyukai nasi goreng. Tapi, dia sendiri yang meminta Ayah membuatkannya nasi goreng. Ini sangat aneh." Sambung Alvin ikut heran.
"Apa Nona sedang Hamil, Tuan." Saut Bibi Musti membuat Alvin membulatkan matanya sempurna.
"Ibuku Hamil. Kalau Ibu benar-benar Hamil, aku akan menjadi Kakak, aku akan punya Adik, Ayah." Sorak Naumi gembira. "Yeay, aku akan punya Adik," kembali Naumi bersorak gembira.
"Ini Tuan, Nasi gorengnya. Apa perlu saya hubungi Dokter Nita, Tuan?" Tawar Bibi Musti sambil mengulurkan sepiring Nasi goreng yang telah selesai dia buatkan.
Alvin tak menanggapi ucapan Bibi musti ataupun sorakan Putrinya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak menyangka akan keperkasaannya. Secepat itukah, sekarang dia akan punya baby lagi. Dia begitu bangga dengan kehabatannya.
"Tuan, apa Tuan baik-baik saja?" Tanya Bibi Musti menyadarkan Alvin kembali ke dunia nyata.
"Baiklah, Tuan." Jawab Bibi Musti.
"Sayang, kamu tunggu disini ya. Ayah akan mengantarkan nasi goreng ini kepada Ibumu." Ucap Alvin.
"Iya, Ayah." Jawab Naumi tersenyum menggemaskan.
Tiba dikamar, Alvin langsung memberikan nasi goreng itu kepada Miya.
"Akan aku suapi," ujar Alvin menyodorkan sesendok nasi goreng kepada Miya. Miya menyambutnya dengan senang hati.
"Apa kau sendiri yang membuatkannya?" Tanya Miya dengan mulut penuhnya.
"Te-tentu saja, Sayang. Aku sendiri yang membuatkan nasi goreng ini." Jawab Alvin berkilah.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang." Saut Miya merebahkan tubuhnya untuk istirahat.
"Sayang, kau baru makan satu sendok. Bagaimana mungkin sudah kenyang." Sanggah Alvin.
"Aku bilang aku sudah kenyang, artinya ya aku sudah kenyang." Ketus Miya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sepertinya dia banar-benar Hamil. Dia sangat sensitif begini," Batin Alvin heran.
Tok, tok, tok
"Tuan, Dokter Nita telah tiba." Ucap Bibi Musti diluar sana.
"Masuklah, Bibi." Jawab Alvin.
"Dokter Nita? Kenapa Dokter Nita kesini?" Tanya Miya.
"Tentu saja untuk memeriksa keadaanmu, Sayang." Jawab Alvin tersenyum.
"Aku, aku baik-baik saja, Sayang." Ucap Miya.
"Silahkan, Dokter Nita." Ujar Alvin sopan.
"Terima kasih, Tuan Alvin." Balas Dokter Nita ramah.
"Dokter, aku baik-baik saja. Apanya yang akan diperiksa." Ucap Miya.
"Hanya sebentar Nona. Tidak akan lama." Jawab Dokter Nita menyingkap baju Miya, lalu memeriksa perut datar Miya sambil tersenyum.
"Selamat Tuan, Nona Miya Hamil."
__ADS_1