
***
Setelah setengah jam berperang dengan peralatan dapur, akhirnya sepiring nasi goreng dengan telur setengah matang siap untuk disantap. Alvin terlihat mengagumi keahliannya. Dia tidak menyangka bahwa dia juga bisa masak dengan sempurna.
"Ternyata memasak cukup menyenangkan. Aku memang multi talenta." Ucapnya bangga.
Dengan percaya diri, Alvin membawa sepiring nasi goreng itu ke kamarnya.
"Sayang, ini nasi goreng spesial untukmu. Kali ini aku sendiri yang membuatnya, aku bersumpah aku tidak berbohong.' ucapnya tersenyum senang.
"Sini nasi gorengnya, Ayah. Aku yang akan menyuapi, Ibu," pinta Naumi.
"Tentu saja, Sayang." Jawab Alvin mengulurkan nasi goreng itu kepada Naumi. Naumi pun menerimanya dengan gembira.
"Ayo buka mulut Ibu. Ini Ayah sendiri yang membuatnya. Kalau Ayah berbohong lagi, aku sendiri yang akan menghukumnya." Ucap Naumi menatap tajam Ayahnya. Akhirnya Miya tersenyum melihat kalakuan Putrinya yang begitu berani.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Miya menerima suapan Putri tercintanya.
"Bagaimana rasanya, Bu? Enak bukan?" Tanya Naumi.
"Iya Sayang. Rasanya lumayan." Jawab Miya membuat Alvin tersenyum puas.
__ADS_1
"Lihatlah bagaimana Alvin bahagia diatas penderitaan Kak Robert. Tunggu saja, Alvin. Setelah penantian 5 tahun, akhirnya aku bisa membantu Kak Robert membalaskan dendamnya. Dan kau Miya, kau akan kembali pada tempat asalmu, dimana seharusnya kau berada. Juga Putrimu dan janinmu, aku pastikan akan kembali bersama kami." Gumam Yirien yang sedari tadi mengintip dari luar.
"Sudah habis, Ibu." Seru Naumi.
"Iya, Sayang. Sekarang kamu istirahat di kamarmu ya." Pinta Miya.
"Dedek jangan nakal ya. Jaga Ibu dan jangan menyusahkan Ibu." Pesan Naumi mencium perut datar Miya.
"Siap kakak, dedek tidak akan menyusahkan Ibu." Jawab Miya meniru suara anak kecil.
"Dadah Ibu, Ayah, dedek," pamit Naumi.
"Apa kau ingin mangga." Tawar Alvin.
"Tidak, aku sangat kenyang. Aku akan istitahat saja." Jawab Miya.
"Baiklah, kalau kau ingin sesuatu, katakan saja padaku." Ucap Alvin mendapat anggukkan kepala dari Miya.
Malam harinya, Alvin menemani Naumi hingga tertidur. Setelah memastikan Naumi tidur nyenyak barulah Alvin keluar menuju kamarnya.
"Sayang, apa kau sudah tidur?" Tanya Alvin lembut.
__ADS_1
"Belum, aku sangat ingin makan buah. Bisakah ambilkan buah untukku." Pinta Miya.
"Tentu saja, Sayang. Tunggulah sebentar, akan aku siapkan secepatnya." Jawab Alvin segera menuju dapur dengan begitu semangat.
"Jadi suami siaga ternyata menyenangkan. Tidak semenakutkan seperti yang ada di film-film." Gumam Alvin sambil mengupas buah mangga.
Begitu selesai Alvin langsung membawanya ke kamar.
"Sayang, ini buahnya." Ucap Alvin.
"Terima kasih." Jawab Miya menerima sepiring besar berisi berbagai jenis buah-buahan segar.
"Sayang, kau ingat hukumanmu bukan? Aku menagihnya malam ini juga." Ucap Alvin merebahkan tubuhnya disamping Miya.
Miya tampak tak perduli atas apa yang Alvin ucapkan. Dia sibuk melahap setiap potongan buah yang berhasil memecah salivanya karena nikmat asam manis bercampur menjadi satu. Hanya dalam waktu 3 menit, piring besar itu kosong tak bersisa. Miya pun meletakkan piring diatas nakas. Lalu merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya untuk istirahat. Sedangkan Alvin masih terus mengoceh berharap Miya mau menuruti napsunya.
"Sayang, aku ....
Ucapan Alvin terpotong ketika mendapati Miya yang telah terlelap dalam tidurnya.
"Hem, nasibmu boy. Bersabarlah boy, lebih baik kau tidur lagi ya. Aku juga sudah mengantuk." Rutuk Alvin mengelus senjatanya berharap kembali ke posisi semula.
__ADS_1