
***
Setelah menepuh perjalanan sekitar 20 menit. Kini, Alvin dan Miya telah sampai di Mansion milik Alvin.
"Ayo cepat!" Bentak Alvin, lalu kembali menarik pergelangan tangan Miya, menyeret Miya untuk masuk kedalam Mansionnya.
Semua Boddyguard yang berjaga diluar, kaget dengan kedatangan Tuannya dengan membawa seorang perempuan. Ini pertama kalinya terjadi setelah 5 tahun berlalu. Timbul begitu banyak pertanyaan di pikiran mereka semua. Apakah Tuan mereka sudah berubah menjadi baik seperti dulu? Ya, selama ini, Alvin dikenal sangat membenci yang namanya perempuan. Dulu dia tidak begitu. Tapi, setelah kejadian 5 tahun lalu, dimana sang Ibu yang dia sayangi pergi dengan lelaki lain. Meninggalkan dia, adik perempuannya, dan yang pasti Ayahnya yang kala itu tengah dilanda kebangkrutan.
Bruuuk!
Alvin melempar Miya dengan kasar keatas ranjangnya. Miya berusaha menurunkan jubah mandinya yang tersingkap. Mengekspos paha mulusnya yang membuat Alvin semakin bernafsu. Miya terus mundur kala Alvin semakin mendekat padanya. Mentok di kepala ranjang membuat Miya tak dapat menghindar kemana pun lagi. Alvin mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Miya.
Aaakh!
Teriak Alvin kala Miya memelintir tangannya kebelakang.
"Hey! Apa yang kau lakukan padaku!" Bentak Alvin.
"Ma-maaf, Tuan. Itu hanya refleks." Jawab Miya segera melepaskan tangan Alvin.
"Kau! Beraninya kau!"
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak sengaja." Jawab Miya ketakutan.
"Kalau begitu, lakukan tugasmu seperti malam itu." Titah Alvin memilih duduk di depan Miya. "Ayo lakukan!" Sambungnya lagi.
"Ta-tapi, Taun. Ma-malam itu saya tidak sadar." Jelas Miya.
__ADS_1
"Apa maksudmu, kau harus minum obat itu sebelum melakukannya." Saut Alvin.
"Tidak! Bukan begitu, Tuan. Maksud sa ....
"Kau menemuiku untuk hal ini bukan. Jadi, segera lakukan. Kalau tidak, aku tidak akan memberikanmu uang." Ujar Alvin.
"Ba-baiklah, Tuan." Jawab Miya pelan. "Astaga, apa yang harus aku lakukan lebih dulu." Batin Miya bingung. "Ah iya, aku tau." Batin Miya lagi, lalu mendekat pada Alvin. Meraih kancing baju Alvin dan membukanya perlahan. "Astaga, kenapa susah sekali membukanya." Kesal Miya kala kesusahan membuka kancing itu.
Kesal, Alvin segera menyingkirkan tangan miya dan dengan cepat dia melepaskan satu persatu kancing bajunya.
"Sekarang lakukan," ucapnya saat semua kancing bajunya telah terlepas.
"Ya Tuhan, maafkan segala dosaku. Maafkan juga dosa yang kembali aku lakukan ini. Aku mohon maafkan aku." Batin Miya mendekatkan wajahnya pada wajah Alvin dan langsung menempelkan bibir ranumnya di bibir sensual milik Alvin.
Drrrt, drrrt ....
Suara ponsel Alvin yang bergetar, membuat Miya segera memundurkan wajahnya.
"Terimakasih Tuhan, terimakasih karena kau telah menolongku." Batin Miya bersyukur.
"Kau tetap dikamar dan jangan keluar dari sini. Aku akan pergi sebantar. Begitu urusanku selesai, aku akan kembali." Ucap Alvin lalu keluar dari kamarnya.
Kini, tinggallah Miya seorang diri didalam kamar mewah itu.
Tok, tok, tok ....
Miya segera membuka pintu, dan tampaklah Bibi Musti tersenyum ramah pada Miya. Miya pun membalas senyuman Bibi Musti tak kalah ramahnya.
__ADS_1
"Ini, Nona. Didalamnya ada pakaian untuk Nona. Pakailah itu terlebih dahulu, saya menunggu disini untuk mengajak Nona makan malam." Ujar Bibi Musti sambil mengulurkan sebuah paper bag pada Miya.
"Terimakasih, Bibi." Jawab Miya ramah. "Selahkan masuk, Bi." Sambung Miya lagi.
"Tidak perlu Nona, saya akan menunggu Nona disini."
"Tapi Bi ....
"Silahkan, Nona. Saya akan menunggu disini," potong Bibi Musti lagi. Miya pun segera menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Begitu selesai, Miya langsung menemui Bibi Musti yang masih setia menunggunya didepan kamar.
"Saya sudah siap Bi." Ucap Miya yang kini tampil begitu cantik dengan gaun berwarna pink selutut yang begitu pas ditubuhnya.
"Mari, Nona." Ajak Bibi Musti, Miya pun mengekor dibelakang Bibi Musti hingga sampai di ruang makan.
"Silahkan duduk, Nona." Ucap Bibi Musti ramah. Miya tercengang melihat meja besar itu dipenuhi dengan berbagai jenis makanan yang tampak begitu lezat.
"Silahkan dimakan, Nona." Titah Bibi Musti.
"Terimakasih, Bibi. Ayo duduklah Bibi. Kita makan sama-sama. Ayo semuanya duduklah." Ajak Miya pada Bibi Musti dan juga pelayan lainnya.
"Tidak, Nona. Silahkan Nona makan. Kami semua sudah makan lebih dulu." Jawab Bibi Musti.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan segera makan." Jawab Miya yang kalap melihat makanan-makanan enak dihadapannya. Dengan cepat Miya langsung melapa makanan super lezat itu.
"Putriku. Astaga, Naumi pasti belum makan malam." Batin Miya mengingat putrinya yang kini berada dirumah sakit.
"Kenapa Nona. Apa makanan ini tidak cocok di lidah Nona?" Tanya Bibi Musti kala melihat Miya berhenti makan.
__ADS_1
"Bukan begitu, Bi. Ini makanannya sangat-sangat enak. Tapi, saya sudah kenyang. Apakah sekarang saya boleh istirahat di kamar?" Tanya Miya.
"Mari saya antar, Nona." Jawab Bibi Musti