
***
"Aahh, Tu-tuan." Des*h Miya kala satu jari Alvin sudah masuk kedalam inti miliknya.
"Kau menikmatinya, dasar wanita satu ini." Batin Alvin terus menggoda Miya.
"Tu-tuan, emhh .... ahhh." Miya tidak sangup dipermainkan, kini dirinya yang menginginkan hal lebih.
"Lihat saja, kau yang akan memohon padaku." Gumam Alvin tersenyum.
Miya semakin tak karuan, saat Alvin sudah memasukkan kedua jarinya dan bermain Riya didalam sana.
"Tu-tuan, Akhh ... Aku i-ingin, ahkuu mo-mohon." Pinta Miya yang telah hilang kesadaran.
"Kau yang meminta," jawab Alvin tersenyum puas. Lalu mengangkat tubuh Miya dan mulai mengarahkan senjata pusakanya.
"Ah, ah, ahh ...." Erang Miya seirama dengan permainan Alvin.
***
"Sial, pria ini sangat pandai mempermainkan aku. Aku benar-benar telah menjadi wanita murahan," batin Miya kesal.
"Pejamkan matamu. Aptau kau ingin aku melakukannya lagi." Ancam Alvin yang kini sudah memeluk tubuh Miya erat.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tidur nyanyak tanpa pakaianku, hiks ...." Gumam Miya berusaha memejamkan paksa matanya.
Keesokkan paginya.
"Ibu, Ayah!" Teriak Naumi langsung membuka pintu kamar Alvin. Miya begitu terkejut saat putrinya tiba-tiba sudah berada di dalam kamar. Sama halnya dengan Miya, Alvin pun juga tak kalah terkejutnya. Beruntung Bibi Musti datang tepat waktu, sehingga Naumi tidak harus melihat keadaan kedua orangtuanya yang kini polos, persis seperti bayi baru lahir.
"Kenapa pintunya tidak dikunci," ucap Miya frustasi.
"Kenapa melihatku seperti itu," balas Alvin.
"Tidak apa-apa," jawab Miya takut.
"Bangunlah. Tidak, kau tetaplah disini. Aku akan mengambil pakaianmu." Ujar Alvin segera bangkit.
"Heem," jawab Miya menganggukkan kepalanya menurut.
"Tidak, Tuan. Saya benar-benar bisa sendiri." Tolak Miya.
"Jangan membantahku. Aku tidak akan melakukannya," ucap Alvin yakin.
"Ba-baiklah, Tuan." Ucap Miya pasrah.
Begitu selesai, Alvin kembali mengangkat tubuh Miya membawanya ke ruang makan.
__ADS_1
"Ibu ... Ibuku kenapa, Ayah? Apa ibuku sakit," Tanya Naumi langsung menitikkan air matanya.
"Tuan, lepaskan aku dulu. Yang luka lenganku bukan kakiku, lihat Putriku sudah menangis," ucap Miya menyalahkan Alvin. Melihat Naumi menangis Alvin menurunka Miya. Alvin menuju Naumi dan langsung memeluk Naumi erat.
"Tidak apa-apa sayangnya Ayah. Ibumu baik-baik saja." Bujuk Alvin.
"Aku tidak percaya kepada Ayah. Aku bukan anak kecil lagi, Ayah tidak akan bisa membohongiku. Hiks," tangis Naumi pecah.
"Tidak, Sayang. Ibu baik-baik saja. Kau lihat ini Ibu bahkan bisa menjadi kudamu saat ini." Ucap Miya sambil meloncat-loncat untuk meyakinkan Putrinya.
"Benarkah?" Tanya Naumi menggemaskan.
"Iya, Sayang. Kalau ibumu kenapa-kenapa, Ayah pasti akan langsung membawannya ke rumah sakit." Sambung Alvin.
"Baiklah, aku akan percaya kalau Ibu makan yang banyak." Ucap Naumi menyampaikan keinginannya.
"Tentu saja, Sayang. Ibu akan makan sangat banyak," jawab Miya segera duduk disamping Putrinya.
"Tugas Ayah suapi aku," titah Naumi dan Alvin segera menyuapi Putrinya dengan senang hati.
Sedangkan dibalik dinding sana, ada dua pasang mata yang melihat adegan harmonis itu.
"Sejak kapan Alvin berubah menggelikan seperti itu, Bibi?" Tanya Anan.
__ADS_1
"Semenjak kehadiran Nona Miya, Tuan Anan." Jawab Bibi Musti.
"Benarkah, kenapa secepat itu ya. Aku mencurigaimu Alvin." Gumam Anan masih terus mengintip. Alasan utamanya datang ke Mansion Alvin adalah untuk mengecek keadaan Alvin dan Miya. Dia khawatir saat mendapatkan kabar bahwa sahabatnya itu diserang oleh Gangster Kelinci hitam yang terkenal akan kekejamannya di kota itu.