
***
"Baiklah, Bibi. Terima kasih, aku akan memakainnya." Jawab Miya.
"Kalau begitu saya permisi, Nona." Pamit Bibi Musti.
Miya memilih sebuah gaun berwarna biru muda yang terlihat biasa dari pada gaun lainnya yang terlihat berkilau serta mewah. Tak lupa sepasang dalaman berwarna senada dengan gaunnya.
Meletakkan pakaian di pinggi ranjang. Miya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lama Miya keluar dengan handuk mini yang melilit ditubuhnya. Miya yang terburu-buru langsung menyisir rambutnya yang masih basah, karena dia tidak punya banyak waktu untuk mengeringkan rambutnya. Lalu mengaplikasikan sedikit bedak kewajah mulusnya, Miya juga memoleskan tipis liptint dibibirnya untuk menutupi wajah pucatnya. Begitu siap, Miya langsung keluar akan menuju rumah sakit untuk menemui putrinya. Diantar oleh supir, kini Miya sudah berada di rumah sakit. Sedikit berlari Miya masuk keruangan putrinya.
"Ibu," teriak Naumi bahagia.
"Sayang, maaf ibu terlambat," ucap Miya seraya memeluk putri tercintanya.
"Tidak apa-apa, Ibu. Aku baik-baik saja." Jawab Naumi
__ADS_1
"Nona Miya, mari ikut saya sebentar. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Ujar Dokter Kelvin.
"Sebentar ya, Sayang. Setelah berbicara dengan Dokter Kelvin, Ibu akan langsung menemuimu lagi." Pamit Miya mencium kening Naumi.
"Iya, Ibu." Jawab Naumi mengerti.
"Apa yang ingin Dokter sampaikan pada saya. Naumi baik-baik saja kan, Dokter?" Tanya Miya khawatir.
"Itulah yang ingin saya sampaikan, Nona. Saya tidak mengeri keajaiban apa yang terjadi kepada Naumi. Tapi yang pasti, saya akan menyampaikan berita bahagia ini kepada Nona." Jelas Dokter Kelvin.
"Mengenai kesehatan Naumi. Sebuah keajaiban telah terjadi padanya. Karena dia telah sembuh Total dari penyakit Leukemia yang selama ini dia idap." Jawab Dokter Kelvin senang.
"Syukurlah, terima kasih Tuhan. Terima kasih karena kau telah memberikan keajaiban ini kepadaku. Aku tau kau akan membantuku." Ucap Miya berterima kasih.
"Terima kasih yang sebanyak-banyaknya juga saya ucapkan kepada Dokter kelvin. Naumi bisa sembuh atas bantuan, Dokter. Terima kasih banyak Dokter Kelvin." Ucap Miya tulus. Buliran-buliran air mata pun menetes dari kedua sudut matanya. Rasa syukurnya begitu besar atas kesembuhan Putri tercintanya. Tidak ada hal yang lebih membuatnya bahagia daripada berita bahagia ini. Hatinya begitu lega saat ini. Dia sampai tak bisa berkata-kata. Hanya air mata bahagia yang dapat menjelaskan segalanya.
__ADS_1
"Naumi bisa sembuh karena keinginannya yang besar untuk bertemu dengan Ayahnya." Kalimat Dokter Kelvin mengingatkan Miya akan janjinya pada Naumi kala itu. Miya menatap Dokter Kelvin dengan mata berbinar penuh harap.
"Apa Dokter mau menjadi Ayah untuk Naumi,"
"Uhukk ...." Mendengar itu Dokter Kelvin tersedak salivanya sendiri. Bagaimana mungkin wanita cantik di depannya ini berbicara seperti itu dengan begitu santainya. Apa wanita ini sudah kehilangan akal. Bisa-bisa dia kehilanga pekerjaannya, bila dia berani mengambil wanita milik Tuannya sendiri yaitu Tuan Alvin yang tak lain adalah pemilik rumah sakit tempatnya bekerja sekarang.
"Maaf, Nona. Tapi bukannya Nona sudah menikah." Ucap Dokter Kelvin cepat.
"Darimana Dokter Kelvin mengetahui kalau saya sudah menikah?" Tanya Miya curiga.
"I-itu, sa-saya ... Oh ya, saya hanya menebaknya saja. Bukankah Nona sudah punya seorang Putri dan pastinya Nona juga sudah punya suami bukan. Selama ini, saya mengira bahwa suami Nona hanya bekerja diluar negri dan tidak bisa pulang." Jawab Dokter Kelvin berhasil mencari alasan.
"Jadi, selama ini Dokter Kelvin berpikiran begitu ya. Sejujurnya saya adalah Ibu tunggal untuk Naumi." Saut Miya menundukkan wajahnya sedih.
"Maafkan saya, Nona Miya." Ucap Dokter Kelvin tulus.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dokter Kelvin. Tapi, apakah boleh saya meminta bantuan Dokter untuk mengaku sebagai Ayahnya Naumi. Ini hanya berpura-pura saja Dokter." Sambung Miya memohon.