
"Sa-sayang. Aku be-belum apa pun sayang. Ak-aku bahkan belum—"
"Lanjut di kamar mandi saja, pakai saja sabun. Aku sangat lelah saat ini, lanjut besok saja, Sayang." Potong Miya memejamkan matanya untuk tidur.
"Astaga Istriku tersayang. Apa ini juga bagian dari ngidam. Tega sekali dirimu Sayang, kau yang membuatku bergairah, Lalu dengan santainya kau meninggalkanku saat aku belum mencapai puncaknya. Nasibmu harus berakhir di kamar mandi lagi boy." Rutuk Alvin dalam hati, lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya yang belum selesai.
"Aaakh! Sayang!" Teriak Miya diluar sana.
"Astaga, apalagi itu. Belum juga sampai puncak." Rutuk Alvin yang kini berada di dalam kamar mandi.
"Sayang, tolong aku. Perutku sangat sakit!" Teriak Miya lagi.
"Perut? Sakit? Astaga! Apa Miya akan melahirkan!" Kini Alvin yang berteriak sambil berlarian keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun.
"Astaga sayang. Apa kau ingin melahirkan!?" Tanya Alvin panik.
"Iya, cepat bawa aku ke rumah sakit." Pinta Miya dengan keriangat membasahi wajahnya.
"Baiklah, ayo sayang!" Jawab Alvin.
"Pasang dulu pakianmu." Cegah Miya membuat Alvin sadar akan kondisinya. Kocar- kacir Alvin mengaduk-aduk isi lemari untuk mencari pakaiannya padahal ada di tempat yang mudah diraih. Karena panik membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Begitu mendapatkan apa yang dia cari, Alvin langsung memasangnya dengan cepat, walau dengan posisi tak sebenarnya.
Lihatlah bagimana Miya menertawakan Alvin disela-sela rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa sadar, Alvin memakai celana Ibu hamil milik Miya yang berwarna pink dengan gambar princess Anna si putri salju. Ah sudahlah, yang penting celana itu pas di kaki kekarnya walaupun sangat ketat. Tapi untungnya kemeja putih yang dia kenakan saat ini, benar adalah kemejanya sendiri. Bodoh amat dengan penampilannya, Alvin tampak tak peduli. Yang penting baginya saat ini adalah menuju rumah sakit secepat mungkin. Dia tidak tahan berlama-lama melihat wanita yang dicintainya terus mengaduh kesakitan. Setelahnya Alvin langsung menggendong tubuh sang Istri untuk dibawa ke rumah sakit.
"Pengawal! Siapkan mobil!" Teriak Alvin mengejutkan Ayah Aldaran yang kebetulan masih terjaga menemani Naumi sang cucu.
"Ada apa Alvin? Kenapa berteri .... Astaga! Apa Miya akan melahirkan?"
"Ibu akan melahirkan? Yeay, Adikku sebentar lagi akan keluar," Naumi yang tak sengaja terbangun seketika bersorak ria mendengar ucapan para pria dewasa itu. Begitu mobil telah siap, Alvin langsung membawa Miya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Tuan Aldaran berangkat dengan mobil lain bersama Naumi, dia tidak ingin Naumi melihat Sang Ibu yang pastinya kesakitan. Tidak berselang lama, Alvin telah berhasil membawa Miya ke rumah sakit miliknya sendiri, rumah sakit terbesar di kota. Dan tentu saja Miya langsung mendapatkan perawatan terbaik mau jam berapa pun itu.
"Sayang, aku ingin memelukmu," pinta Miya yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.
"Apa pun untukmu sayang, bertahanlah," ujar Alvin sendu karena tak tega melihat sang Istri yang terlihat biasa saja. Sama saat ketika melahirkan Naumi, kini Miya juga terlihat sangat kuat. Dia dapat menahan diri, tapi tidak dengan ekspresi wajah yang sangat terlihat kalau dia sangat kesakitan.
"Kalau sakit katakan saja sayang, seperti di rumah tadi, berteriak saja tidak apa-apa. Jangan menahannya sendiri," pinta Alvin sambil membalas erat pelukkan Miya.
"Sudah pembukaan terakhir, kita mulai, ya, Nona Miya," ujar Dokter Nita siap dengan posisinya di bawah sana.
"I-iya Dokter," jawab Miya terbata.
"Sayang aku—"
"Tidak, tetap se-seperti ini sa-saja," cegah Miya ketika Alvin ingin melepaskan pelukannya. Miya sengaja karena tidak ingin Alvin melihat wajah kesakitannya ketika melahirkan.
"Tapi sayang,"
__ADS_1
"Aakh!" Teriak Miya kala mendorong untuk pertama kalinya. Miya kembali mengeratkan pelukannya ketika kembali berusaha mendorong.
"Bagus Nona, ayo sekali lagi," saut dr. Nita, dan Miya kembali berteriak untuk yang ketiga kalinya. Alvin hanya dapat memeberikan semangat dan terus membalas pelukan Sang Istri. Dia bahkan memejamkan mata kala Miya menusukkan kuku-kuku di punggung Alvin.
Bukannya ikut berteriak, Alvin justru diam seakan tidak ingin Sang Istri menghentikan tindakannya. Karena Alvin tau, sakit yang dia dapatkan, tidak akan pernah sebanding dengan sakit yang Miya rasakan.
Apalagi ketika melahirkan Naumi, bukan dirinya yang Miya peluk, melainkan hanya besi pinggiran ranjang yang sangat dingin menjadi tempatnya untuk berbagi rasa sakit. Pada dorongan keempat, tangisan histeris bayi berjenis kelamin laki-laki memenuhi ruangan bersalin. Dokter Nita langsung memberikan Bayi merah itu kepada Dokter khusus yang akan memberi penanganan terbaik.
"Nona Miya istirahat dulu, ya. Atur napasnya dulu." Ujar dokter Nita.
"Ti-tidak Dokter. Se-kalian sa-saja," jawab Miya kembali mendorong. Dokter Nita kembali bersiap akan membantu persalinan Baby kedua. Ya, tebakkan Alvin tidak meleset karena Miya memang mengandung Bayi kembar.
"Bertahanlah Sayang, aku yakin kamu bisa. Aku mencintaimu Miya, bertahanlah." Ujar Alvin sambil mengusap punggung Miya yang kini tak kunjung melepas pelukannya.
Tak berselang lama, tangisan histeris Baby kedua yang juga berjenis kelamin laki-laki, kembali memenuhi ruangan bersalin, membuat Tuan Aldarran di luar sana begitu terharu. Sedangkan Naumi ikut menangis histeris karena khawatir dengan tangisan kedua Adikknya.
"Dokter Istri saya kenapa!? Miya bangun Miya," Alvin seketika panik kala Miya terkulai lemas dengan mata tertutup rapat.
.
.
.
__ADS_1