
***
"Baiklah, aku setuju." Jawab Alvin yakin.
"Tapi Tuan," sanggah Sekretatis Haven.
"Bawa Miya pulang, Haven." Titahnya.
"Sayang, aku mohon jangan," cegah Miya.
"Pergilah, Naumi membutuhkanmu." Jawab Alvin.
"Tidak, aku akan tetap bersamamu. Kau kelinci, bawa aku juga bersamamu," pinta Miya sedikit pun tidak ada rasa takut.
"Maaf, Nona. Aku suka yang masih bersegel." Jawabnya membuat Miya merasa geram.
"Miya pergilah," titah Alvin.
Sekretaris Haven beringsut sambil membawa Miya, menuju pintu keluar mereka diberikan jalan oleh para pengawal.
__ADS_1
"Alvin, aku mohon jangan begini. Naumi juga membutuhkanmu, Alvin." Teriak Miya keukeuh dengan pilihannya.
"Ayo Nona. Kita harus pergi," Sekretaris Haven terus memaksa membawa Miya untuk pergi.
Setelah memastikan kepergian Sekretaris Haven dan Miya, barulah Tuan Kelinci hitam memerintahkan pengawalnya untuk membawa Alvin. Alvin tak melawan, dia mengikuti apa yang diperintahkan untuknya.
Para pengawal membawa Alvin masuk kedalam lift menuju lantai bawah tanah. Ya, gedung itu ada 20 lantai keatas. Tapi, ada ruangan rahasia dan itu adanya dibawah tanah. Cukup lama mereka didalam lift, hingga akhirnya mereka tiba disebuah ruangan bawah tanah.
"Periksa lebih dulu. Setelah bersih baru bawa dia menemuiku." Titah Tuan kelinci hitam lalu pergi menuju ruangan kebesarannya.
Para pengawal begitu teliti memeriksa tubuh Alvin. Meraba setiap kantong yang ada di jass, kemeja, juga celana. Mengambil ponsel, kalung, jam, pulpen, apapun yang mereka temukan— mereka sita semuanya. Bahkan mereka juga melapaskan sabuk pengaman, sepatu dan kaos kaki Alvin, hingga Alvin bertelanjang kaki. Terkahir para pengawal melepaskan kemeja milik Alvin.
Para pengawal tampak saling menatap, saling mengangguk lalu memberikan kemeja milik Alvin. Dan Alvin segera memakai kembali kemejanya yang berwarna putih polos.
Begitu selesai, Alvin kembali digiring melewati lorong demi lorong. Hingga sampailah disebuah ruangan dengan pintu baja yang begitu besar setebal 10 Senti. Satu pengawal yang Alvin yakini adalah pemimpin menempelkan sebuah kartu berbentuk kartu ATM. Tak lama kemudian pintu berderit dan terbuka lebar.
Para pengawal mendorong tubuh Alvin untuk maju. Alvin tercengang melihat keamanan di ruangan besar itu. Dengan lebar 30 meter dan panjang 60 meter. Dengan kaca bening tebal yang mengelilingi ruangan besar itu. Alvin tau betapa tangguhnya kaca bening itu, anti peluru dan bahkan anti boom. Itulah informasi yang Alvin dapatkan dari mata-matanya.
Alvin digiring lalu didudukkan di sebuah kursi yang berada di ruangan. Didepan Alvin ada sebuah meja besar berwarna hitam. Diseberang Alvin ada sebuah kursi putar yang membelakanginya. Tak lama kemudian kursi itu berputar. Alvin begitu menantikan siapakah orang yang berada di balik kursi itu.
__ADS_1
"Aku yakin, dia pastilah Robert." Batin Alvin Menerka.
"Kau lagi," ucap Alvin tampak kecewa melihat seseorang dihadapannya yang tak lain adalah Tuan Kelinci hitam.
"Kenapa kau begitu kaget? Alvin-Alvin, belum saatnya untukmu bertemu dengan Tuan Robert. Jangan berharap banyak. Karena sebelum Tuan Robert, akulah lebih dulu yang akan menghabisimu." Serunya lalu memainkan senjata colt miliknya.
"Sekarang kau sudah ada dihadapanku. Kau ingin aku menembakku dibagian mana dulu? Apa saat ini kau takut padaku?" Sambungnya menatap Alvin dengan senyuman liciknya.
"Bukan aku yang harus takut. Kaulah yang harusnya takut. Karena sudah membiarkan aku masuk kedalam rumahmu. Kapan pun aku bisa membunuhmu." Jawab Alvin santai.
"Kau ingin membunuhku." Tunjuknya pada dirinya sendiri lalu tertawa menakutkan. "Apa kau akan memukuliku hingga aku tewas. Dengar Alvin, senjataku ini lebih cepat dari tanganmu." Sautnya lalu kembali tertawa puas.
Alvin terdiam menatapnya penuh arti, Lenggang sesaat. Saat Tuan Kelinci hitam masih tertawa, dengan cepat Alvin melepaskan dua kancing kemeja bagian bawah. Lalu Alvin menjetiknya dengan kuat dan tepat mengenai kedua bola matanya. Ya, kancing itu bukanlah kancing sembarangan. Itu adalah kancing yang terbuat dari besi yang sudah didesain khusus sebagai senjata tersembunyi. Jika dijentikkan dengan kekuatan penuh. Maka, senjata itu akan berubah menjadi pisau kecil yang mampu menembus dinding kayu jati sekalipun.
"Aaaaaaaakh!" Teriaknya kesakitan, dengan darah mengucur dari kedua sudut matanya.
Pengawal yang berada diluar ruangan begitu terkejut melihat Tuannya yang terlihat kesakitan. Ruangan kaca itu kedap suara hingga mereka tidak dapat mendengar apapun. Mereka pun siap dengan senjata otomatis M-16. Dengan cegatan Alvin merampas senjata colt milik Tuan Kelinci hitam.
Dor!
__ADS_1