Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
kamar 333


__ADS_3

***


Kini, Miya menatap pantulan tubuhnya di kaca yang ada di dalam toilet. Miya begitu jijik dengan dirinya yang sekarang. Tapi, bukankah hanya dengan cara ini dia akan mendapatkan uang yang banyak dalam waktu semalam.


"Apakah insiden 5 tahun lalu, memang terjadi agar aku menjadi perempuan sehina ini. Inikah takdirku yang sebenarnya, kenapa kau selalu membuatku untuk terus mengambil pilihan yang salah ini Ya Tuhan. Kenapa?" Lagi lagi air matanya mengucur deras. "Aku begitu membenci diriku yang sekarang, hiks, hiks." Tangis Miya lagi.


Setelah puas menangisi nasibnya, barulah Miya keluar dari toilet dengan menggunakan jubah mandi untuk menutupi tubuhnya yang terekspos karena memakai lingerie.


"Kamar nomor 333, pergilah kesana. Tuan Anan sudah menunggu lama." Ucap sang Manajer memberikan sebuah kartu kepada Miya.


"Kamar nomor 333, bukankah itu kamar yang tadi malam. Apakah kedua lelaki itu adalah pemilik hotel ini. Dan itu artinya mereka berdua adalah bossku.Anan, kenapa nama itu tidak asing bagiku. Kenapa rasanya aku begitu membenci nama itu." Batin Miya berkata.


"Apa lagi yang kau pikirkan! Ambil ini dan pergilah." Bentak Maneger itu lagi.


"Ba-baiklah, Pak." Jawab Miya sambil menyambut kartu itu.


Setelahnya, Miya segera pergi menuju kamar nomor 333, tempatnya dilecehkan tadi malam. Bukan, bukan dilecehkan. Dia mendapatkan uang setelah itu. Tempatnya menjual tubuh, begitulah kata yang tepat.

__ADS_1


Kini, Miya telah sampai didepan kamar. sebelum masuk, Miya menarik napas dari hidung lalu mengeluarkannya dari mulut. Begitulah seterusnya hingga perasaannya mulai membaik.


Ceklek ....


Pintu pun terbuka.


"Apa kau kira, kau begitu berharga hingga aku harus menunggumu selama in ....


"Kau! Kenapa kau ..." Ucap Anan terkejut dengan kedatangan Miya. "Oh aku mengerti sekarang. Jadi, kau benar-benar adalah seorang wanita bayaran." Terka Anan tersenyum sinis membuat Miya menundukkan wajahnya dalam. Miya ingin sekali membentak, berteriak Bahkan dia ingin menampar wajah pria itu, lalu dia akan mengatakan bahwa apa yang diucapkan pria bejat didepannya ini, adalah salah. Tapi, itu tidak mungkin dia lakukan. Karena apa yang diucapkan pria didepannya ini adalah kebenarannya. "Ternyata oh ternyata, ku kira kau wanita baik-baik. Ternyata ... Ah sudahlah. Hem, bagaiaman ya. Kau sudah menjadi bekas sahabatku sendiri, dan aku tidak suka menikung sahabatku sendiri. Tunggu sebentar, aku akan menelponnya dan meminta dia membawamu." Jelas Anan lalu mengelurkan ponselnya.


"Sudahlah, kau ingin uang bukan? Hanya dia yang akan memberikan uang sebanyak apapun yang kau mau," ujar Anan segera membuat panggilan dengan Alvin.


"Ada apa, Anan? Kenapa kau menelponku malam-malam begini?" Tanya Alvin diseberang sana.


"Ada sesuatu yang sangat penting, yang ingin aku katakan padamu," jawab Anan.


"Ada apa, apa wanitamu pingsan lagi." Tebak Alvin.

__ADS_1


"Tidak, bukan itu. Tapi, wanita yang kau tiduri tadi malam sekarang ada bersamaku." Saut Anan.


"Lalu, apa hubungannya denganku?" Tanya Alvin seakan tak peduli.


"Apa kau menginginkannya, aku akan menyuruhnya ke mansion mu sekarang," jawab Anan.


"Kenapa? Untuk apa?" Ucapnya singkat.


"Sudahlah, Alvin. Aku mengenalmu. Percuma kau berkilah padaku, aku sangat mengerti bagaimana sifatmu." Sambung Anan.


"Aku tidak peduli. Aku tidak menginginkan wanita murahan itu." Jawab Alvin.


"Aku harap kau tidak menyesal nantinya. Apa kau lupa, kau sudah menanam benihmu dirahimnya. Bagaimana kalau dia hamil anakmu?" Ucap Anan terus meyakinkan Alvin.


"Aku tidak peduli," jawabnya singkat namun dengan nada suara yang meninggi.


"Baguslah kalau begitu. Aku bisa menidurinya tanpa rasa bersalah padamu." Jawab Anan langsung memustuskan panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2