
***
"Miya, tolong kamu antarkan bunga ini ke alamat ini. Bibi ada urusan sebentar, kau bisa naik sepeda bukan?" Ucap bibi Arum, sang pemilik toko bunga meminta Miya untuk mengantarkan sebuket bunga karena orang yang biasa mengantarkannya tidak masuk hari ini.
"Baik, bibi. Aku bisa naik sepeda. Ingatlah untuk berhati-hati mengemudi sepeda." Jawab Miya.
"Baguslah kalau begitu. Antarlah dulu bunga itu, setelahnya baru rangkai bunga lagi. Ingatlah untuk berhati-hati jangan Sampai terjadi sesuatu pada janinmu," ujar Bibi Arum mengingatkan Miya.
"Baik, Bibi." Miya menerima buket bunga dan juga alamatnya. Lalu Miya keluar dari toko, menaiki sepeda dengan sangat berhati-hati.
Tak lama kemudian Miya pun sampai ditempat tujuan. Mengetuk pintu lalu muncullah seorang pria tampan dihadapannya.
__ADS_1
"Apa saya bersama dengan tuan Robert. Ini, saya mengantarkan bunga pesanan tuan." Ucap Miya sopan.
"Iya, Nona. Benar sekali, saya Robert. Terimakasih karena telah mengantarkan pesanan saya." Jawab pria tampan itu ramah. "Oh iya, ini tagihannya." Sambung pria itu lagi sambil mengulurkan uang kepada Miya. Tersenyum, Miya memyambut uang itu.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi tuan." Ucap Miya lalu segera pergi meninggalkan pria tampan itu.
"Jadi, dia perempuannya. Sangat menarik," ucap Robert tersenyum sinis menatap punggung Miya yang kini telah mejauh.
Begitu tiba di toko, Miya kembali melanjutkan tugasnya merangkai bunga. Hari ini ada banyak pelanggan yang datang, Miya yang sendirian mengurus toko cukup kualahan.
Beberapa bulan telah berlalu. Kini, perut Miya sudah semakin membucit. Bahkan kaki-kakinya sudah mulai membengkak. Semenjak kandungannya berusia 9 bulan, bibi Arum pemilik toko meminta Miya untuk tetap dirumah, agar Miya tidak terlalu lelah. Bibi Arum juga meminta karyawannya untuk mengantarkan bunga-bunga ke rumah Miya. Sehingga Miya bisa merangkainya sendiri di rumah. Pendapatannya dari merangkai bunga cukup lumayan. Miya mengumpulkan banyak uang untuk membeli beberapa perlengkapan bayi, seperti popok, pakaian yang lucu, dan kebutuhan lainnya.
__ADS_1
Miya bahagia karena bibi Arum begitu baik kepadanya, tidak seperti tetangga lain yang selalu memandang rendah dirinya. Bibi Arum sudah lama mengenal Miya, dia juga tau bagaimana karekter asli Miya. Sehingga dia tak tertipu oleh berita-berita miring tentang Miya.
Sore harinya, Miya langsung mengantarkan karangan bunga yang telah selesai ia rangkai. Biasanya karyawan toko akan mengambilnya sendiri. Tapi, tidak di hari ini. Sepertinya pelanggan toko sangat banyak, sehingga semuanya sibuk. Dan Miya pun memutuskan untuk mengantarkan buket bunganya sendiri.
"Astaga Miya! Kenapa kau datang kemari. Bibi sudah memintamu untuk tetap beristirahat di rumah. Beberapa hari lagi kau akan segera melahirkan. Kau tidak boleh terlalu lelah, Miya." Oceh Bibi Arum, membuat Miya begitu bahagia. Dia begitu senang bila bibi Arum mengkhawatirkannya. Tidak siapaun yang peduli padanya selain bibi Arum. Walaupun Miya bukanlah siapa baginya, tapi bibi Arum memiliki rasa empati yang tinggi terhadap Miya. Sehingga ia menganggap Miya sebagai anaknya sendiri. Berhubung dia tidak mempunyai seorang putra agaupun putri. Jadi, tak salah bila dia menyayangi Miya dan mengangap Miya seperti putrinya sendiri.
"Tidak apa-apa, Bibi. Aku baik-baik saja. Aku juga bosan bila hanya di rumah dan tidak kemana-mana." Jawab Miya mendekati bibi Arum.
"Yasudah kalau begitu kau duduklah disini. Bibi akan melayani pelanggan dulu. Hari ini toko begitu ramai." Ucap Bibi Arum sambil pergi untuk menyambut pelanggan yang baru saja datang.
Miya hanya duduk berdiam diri di kursi. Tak lama dia melihat ada lagi pelanggan yang datang. Namun, tidak ada yang melayani kerena semua pegawai termasuk bini Arum sedang melayani pelanggan lain. Miya yang melihat itu segera berdiri untuk melayani pelanggan yang baru saja datang.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan. Bunga apa yang tuan inginkan?" Tanya Miya ramah.
"Saya pesan satu buket bunga tulip." Jawab pelanggan yang bernama Robert.