Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Naumi Patrisia


__ADS_3

***


"Ini, Tuan. Ada beberapa rangkaian buket. Tuan bisa pilih mana yang tuan suka." Ucap Miya ramah.


"Saya pilih yang disana," tunjuk Robert dan Miya pun segera mengambilnya. "Berapa harganya?" Tanya Robert lagi.


"450k, Tuan." Jawab Miya, lalu pria tampan itu memberikan uang sebesar 500k kepada Miya. "Kembaliannya untuk nona saja," ujar pria itu tersenyum ramah.


"Wah, terimakasih banyak tuan." Ucap Miya senang kala mendapatkan tips.


"Maaf, Nona." Ujar Robert menyibakkan rambut miya. "Tanda lahir ini?" Sambung Robert dalam hati, kala melihat ada tanda lahir di leher jenjang Miya.


"Tuan, tuan apa-apaan!?" Bentak Miya kala tak suka dengan perlakuan Robert yang tiba-tiba menyentuh lehernya.


"Maaf, Nona. Ada ulat ini di leher Nona," jawab Robert sambil memperlihatkan ulat kecil ditangannya.

__ADS_1


"Ah maafkan saya yang telah salah paham kepada Tuan. Maafkan saya, Tuan. Terimakasih karena Tuan telah menyingkirkan ulat itu dari leher saya. Sekali lagi terimakasih Tuan." Mohon Miya tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Nona. Kalau begitu saya pamit."


"Aaaahh!" Teriak Miya tiba-tiba membuat Robert menghentikan langkahnya dan segera menangkap tubuh Miya yang hampir terjatuh karena kesakitan.


"Nona, sepertinya Nona akan melahirkan." Ucap Robert panik.


"Astaga Miya. Tuan, saya mohon bantu saya membawanya ke rumah sakit." Mohon Bibi Arum.


"Aaaahh, Bibi sakit sekali." Ucap Miya sambil menarik napas dari hidung lalu menghembuskannya lewat mulut.


"Iya, sayang. Bertahanlah, kita sedang diperjalanan menuju rumah sakit. Tuan Robert tolong lebih cepat." Titah Bibi Arum khawatir. Tanpa menjawab Robert semakin mempercepat laju mobilnya.


"Bibi, aku sudah tidak tahan. Aaaahhh." Teriak Miya membuat Bibi Arum semakin panik.

__ADS_1


"Sayang, jangan dulu mengejan. Tahanlah dulu ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Bujuk bibi Arum.


Tak lama kemudian, mobil milik taun Robert berhenti tepat didepan ruang UGD yang pastinya selalu berada di paling depan rumah sakit.


Robert langsung keluar untuk memanggil suster agar membantunya Mambawa Miya. Dua orang suster datang dengan mendorong sebuah ranjang, Lalu Robert mengangkat tubuh Miya dan meletakkan Miya perlahan keatas ranjang.


Sampai di ruang bersalin. Robert dan bibi Arum diminta untuk menunggu diluar dan tidak boleh masuk ke dalam.


Didalam sana, Miya berjuang seorang diri. Sakit yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kini dia rasakan. Seluruh tubuhnya terasa begitu nyeri, apalagi di pinggangnya yang seakan terasa lepas dari tubuhnya. Tulang belulangnya terasa dirmuk-remuk, sakit yang begitu dahsyat kini ia rasakan. Keringatnya bercucuran membuatnya mandi oleh keringat, matanya terpejam paksa kala merasai Nikmanya sakit itu, tangannya menggenggam erat besi disampaikan kiri dan kanannya untuk menguatkannya saat ia mengejan agar bayinya dapat segera keluar.


Entahlah, Miya tidak dapat menggambarkan bagaimana nikmatnya sakit itu. Tapi yang pasti, sakit itu menghilang seketika saat dia mendengar suara tangisan bayi yang begitu histeris memenuhi ruangan bersalinnya.


Senyuman Miya mengembang seketika, ia menepis air matanya lalu menerima bayinya yang sebelumnya sudah dibersihkan oleh suster yang membantunya bersalin.


Miya mengecup lembut kedua pipi, kedua mata, kening, hidung, dagu, bibir, semua yang ada di wajah putrinya ia absen satu persatu. Senyuman kebahagiaan begitu rasakan membuatnya menangis terharu.

__ADS_1


"Naumi, sayang. Naumi Patrisia." Ucap Miya menyebutkan nama untuk putrinya, yang sebelumnya sudah dia persiapkan jauh-jauh hari.


__ADS_2