
***
"Sayang, Ayah harus pergi ke perusahaan sekarang juga, karena ada masalah yang harus Ayah tangani. Kamu pulangnya sama supir ya, sebentar lagi mereka akan menjemputmu dan Ibu. Kalau begitu Ayah pergi, Sayang." Pamit Alvin terburu-buru. Dia langsung pergi tanpa mendengarkan apakah Naumi mengizinkannya pergi tau tidak.
"Ibu, kenapa Ayah sangat sibuk." Kesal Naumi.
"Sabar ya, Sayang. Ayah kan bekerja keras juga untuk kebahagiaan kita berdua, sekarang kita pulang dulu ya," bujuk Miya.
Beberapa menit kemudian Miya dan Naumi telah sampai di Mansion. Naumi langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun. Sepertinya dia kecewa atas kepergian Alvin yang merusak liburannya.
Melihat hal itu, Miya turut bersedih akan kesedihan Putrinya. Miya masuk kedalam kamar Putrinya untuk mengecek kedaannya. Seperti biasanya, Naumi akan tertidur pulas bila ia sedang kesal. Alih-ilih menangis atau hal lainnya. Naumi akan lebih memilih menenangkan pikirannya dengan tidur sepuasnya.
__ADS_1
Setelah menyelimuti Putrinya, Miya segera keluar dari kamar Putrinya. Miya kembali menuju kamarnya untuk beristirahat, namun langkah kakinya berhenti kala melihat Alvin datang dengan membawa seorang gadis yang sangatlah cantik.
"Miya kemarilah," titah Alvin. Tanpa rasa takut Miya mendekati Alvin dan gadis asing itu.
"Duduklah," titah Alvin lagi. Miya pun menurut dan ikut duduk disamping Alvin.
"Kau juga duduklah, Yirien." Titah Alvin.
"Dia adalah wanita panggilan untuk menghiburku." Jawab Alvin santai. Berbeda dengan Miya yang kini menggenggam jemarinya erat. Miya berusaha mengontrol emosinya saat mendengat ucapan Alvin yang begitu melukai hatinya. Tapi, Alvin tidaklah salah, bukankah dirinya memang hanyalah wanita panggilan yang mendapatkan bayaran. Entahlah, Miya mengerti akan statusnya. Tapi ucapan Alvin begitu melukai perasaannya. Miya mengutuk sendiri hatinya yang kini terdapat ukiran nama Alvin disana.
"Aku tidak mau tau, kakak harus mengusirnya. Kalau tidak, aku akan mengadukannya kepada Ayah Daran." Bentak Yirien.
__ADS_1
"Berani sekali kau membentakku!" Ucap Alvin menekan kalimatnya membuat nyali Yirien langsung menciut.
"Bukan begitu maksud aku, Kak. Aku ada disini bersama kakak. Aku bisa memuaskan kakak. Jadi, kakak tidak membutuhkan wanita itu lagi." Ralatnya
"Sudah aku katakan bahwa aku tidak mencintaimu. Jadi, aku tidak akan merasa puas denganmu." Jawab Alvin melirik Miya yang kini menundukkan wajahnya dalam. Miya begitu malu dengan dirinya saat ini. Dia bukan hanya menjadi wanita murahan tapi juga menjadi seorang pelakor.
"Dan satu lagi, aku sudah membuat perjanjian dengan Ayahku, bila kau tidak bisa membuatku jatuh cinta dalam waktu dua Minggu. Maka, kau harus menyerah." Tegas Alvin. "Angap saja dia adalah patokanmu. Kalau kau bisa membuatku mencintaimu dan merasa nyaman denganmu sama seperti saat aku bersamanya. Maka kau lulus dan aku akan menuruti Ayahku untuk menikahimu." Sambung Alvin lagi.
"Baiklah, aku setuju. Aku akan membuat kakak jatuh cinta kepadaku, dan mengusir wanita murahan itu." Jawab Yirien begitu yakin. Dari senyuman liciknya, Miya sudah dapat membaca pikiran gadis itu, pasti dia sudah merencakan begitu banyak rencana picik untuk menjatuhkan Miya. Yirien tidak tau saja betapa tangguhnya seorang Miya.
"Jika kukunya yang berkilau itu aku patahkan. Sudah pasti dia akan menyerah dan memohon maaf padaku." Batin Miya membalas senyuman Yirien dengan senyuman liciknya pula.
__ADS_1