Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Ayah Alvin


__ADS_3

***


Selesai masak, Miya langsung menyajikan masakannya diatas meja. Naumi sangat menyukai sup ayam dengan banyak sayuran, untuk itulah Miya membuatkan sup ayam untuk putrinya.


"Nona Miya, Tuan sudah pulang." Lapor Bibi Musti, tergesa-gesa Miya menuju teras untuk menyambut suaminya. Ya, suami kontraknya.


"Kau sedang apa?" Tanya Alvin memandang Miya yang penuh dengan keringat.


"Habis olahraga, Tuan." Kilah Miya lalu menyambut tas juga jas Alvin. Miya menjalankan tugasnya sebagai seorang istri sebenarnya.


"Siapkan air hangat, aku ingin mandi." Titah Alvin.


"Baik, Tuan." Jawab Miya mengekor dibelakang Alvin.


"Dan setelah ini kau bersiaplah, aku akan mengajakmu untuk menghadiri pesta." Ucap Alvin sambil melepaskan kancing lengan kemejanya.

__ADS_1


"kemana, Tuan?" Tanya Miya.


"Tidak usah banyak bertanya, ikuti saja apa yang aku katakan." Sautnya.


"Ba-baiklah, Tuan." Jawab Miya terbata.


"Ayaaaaaah!" Teriak Naumi yang ternyata baru bangun dari tidur sorenya yang panjang. Alvin menghentikan langkahnya ketika dihadapannya ada seorang gadis kecil dan cantik berusia kira-kira lima setengah tahun berlari kearahnya.


"Ayaah, aku sangat merindukanmu Ayah." Alvin semakin terdiam kala gadis itu memeluk dirinya erat sambil menangis.


"Dia Putriku, Tuan." Begitulah kira-kira yang Alvin baca dari gerakan bibir ranum Miya. Mengerti, Alvin pun tersenyum licik. Sepertinya dia menemukan ide untuk mengerjai Miya.


"Saya Mohon bantulah saya, Tuan. Mengakulah sebagai Ayah dari putri saya." Lagi-lagi Alvin membaca gerakan bibir ranum Miya. Hal itu membuatnya semakin ingin mengerjai Miya.


Dan Alvin pun menaik lalu menurunkan pandangan matanya pada tubuh Miya, lalu mengedipkan sebelah matanya berulang-ulang. Lagi, dia naik, lalu turunkan lagi pandangan matanya, kemudian mengedipkan matanya lagi berulangkali. Miya kebingungan, tak lama kemudian Miya pun mengerti bahwa Alvin menginginkan tubuhnya sebagai bayaran. Dengan cepat Miya pun mengangguk.

__ADS_1


"Walaupun tidak dengan hal ini, bukankah dia akan tetap menikmati tubuhku, hiks," batin Miya bersedih.


Alvin tersenyum puas kala Miya menganggukan kepalanya tanda setuju. Dan Alvin segera berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Naumi. Lalu berkata,


"Jadi, kaulah Putriku yang selama ini aku rindukan." Ucap Alvin sambil menyeka air mata Naumi.


Dan saat itulah Alvin menyadari ada kemiripan antara matanya dan juga mata gadis kecil itu. Apalagi rahang mereka yang tegas, bentuk wajah gadis itu begitu mirip dengan dirinya.


"Ayah juga merindukanku. Terima kasih Tuhan, terima kasih karena telah mempertemukan aku dengan Ayahku. Aku sangat bahagia," jantung Alvin berdebar begitu kencang saat gadis kecil itu memeluknya erat. Tidak mungkin dia jatuh cinta pada gadis kecil itu bukan. Dia masih normal, tidak mungkin dia tergoda dengan kecantikan gadis kecil ini.


"Aku tau rasa ini, rasa ini sama saat aku memeluk Ibu. Sekarang aku sangat percaya bahwa kau adalah Ayahku. Ternyata Ibuku tidak berbohong padaku. Aku sangat senang bertemu Ayah." Ucap Naumi memandang wajah Alvin dalam.


Alvin ingin berucap, tapi lidahnya seakan kelu. Dia tidak mempu menggerakkan bibirnya, gadis kecil ini mampu membuatnya begitu gugup. Wajahnya terasa begitu panas, dan perasaan apa yang kini dia rasakan. Kenapa dia juga ingin menangis bahagia. Dia sangat bahagia hingga tidak dapat berkata-kata. Apa dia berubah jadi pedofil saat ini. Dia telah jatuh cinta pada gadis kecil ini.


Tidak, itu tidak mungkin. Perasaan aneh ini juga dia rasakan pada Miya. Gadis kecil ini adalah putrinya Miya, mungkin karena itu dia merasakan hal yang sama terhadap dua perempuan ini. Iya, pasti hanya itu saja dan tidak ada hal yang perlu dia pikirkan. Sekarang dia hanya perlu memanfaatkan gadis kecil ini untuk mendapatkan hal lebih dari ibunya.

__ADS_1


__ADS_2