Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Mengobati luka


__ADS_3

***


Huffff ....


"Hampir saja, bisa gawat kalau dia melihat senjata ini. Jika saja aku terlambat bangun dan dia melihat senjata ini. Sudah pasti dia akan mengira bahwa aku adalah pengkhianat yang akan membunuhnya secara diam-diam. Bisa-bisa kepalaku dipenggal olehnya." Ucap Miya bergidik ngeri.


Miya menyimpan senjata itu dibawah tempat tidur. Bersusah payah Miya menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya yang telah basah. Gaun berwarna putih itu sendikit menerawang sehingga menampakkan gundukkan Miya yang tidak terbungkus apapun.


Beruntung tadi Miya meminjam satu Cd milik Alvin. Sehingga dia tetap menggunakan Dalaman walaupun tidak ada dalaman untuk gundukkannya yang kini terpampang jelas dibalik gaun polos itu. Cdnya agak kebesaran, tapi masih bisa Miya pakai karena bokongnya yang besar menjadi penyangga agar cd itu tidak melorot.


Begitu beres Miya pun keluar dari kamar mandi. Kini, Miya tampak bingung mencari hairdryer yang hingga saat ini tak berhasil dia temukan.

__ADS_1


"Apa sudah selesai?" Tanya Alvin yang tiba-tiba masuk kedalam kamar sukses membuat Miya kaget.


"Su-sudah, Tuan." Jawab Miya menundukkan wajahnya malu. Sedangkan Alvin terdiam, dia menatap pemandangan indah dihadapannya yang membuat jakunnya turun naik karena bersusah payah menelan salivanya yang tercekat.


"Kau ingin menggodaku Hem," bisik Alvin ditelinga Miya membuat Miya merasa geli. Tanpa aba-aba Alvin langsung merem*s kedua gundukkan Miya.


"Ahh Tu-tuan," Des*h Miya berusaha menghindar.


"Hemp ...." Kesal Miya karena hampir kehabisan napas. "Tapi, Tuan. Kita belum melakukan upacara pernikahan," jawab Miya cepat dengan napasnya yang tersengal.


"Aku tidak peduli dan aku tidak percaya dengan hal semacam itu. Semenjak kau menadatangani surat kontrak itu, kau adalah istri sahku." Ucap Alvin menyerang Miya lagi, Alvin mengangkat tubuh Miya dan mendudukkannya di meja rias. Membuka paha Miya dengan masih memberikan Lum*tan yang mendalam. Sedangkan tangan laknatnya sudah bergerilya kemana-mana.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kemana kekuatanku, biasanya aku akan refleks melawan bila dilecehkan begini dalam keadaan sadar. Argh! Kenapa aku malah ikut terbuai oleh permainan lelaki bejat ini. Hiks," batin Miya frustasi. Tubuhnya seakan melemas tak dapat melawan, sentuhan-sentuhan Alvin benar-benar membutakan mata hatinya. Gelenyar aneh menjalar keseluruh tubuhnya tanpa bisa dia tolak. Pria bejat ini sangatlah berbahaya.


"Aw, Tuan lutut saya samga perih." Kilah Miya berpura-pura kesakitan agar bisa lepas dari binatang buas seperti Alvin.


"Cengeng sekali, begini saja kesakitan." Oceh Alvin dengan napas beratnya, meski mengoceh tak jelas, Alvin tetap melepaskan Miya meskipun napsunya telah memuncak.


Alvin pun segera menggendong tubuh Miya dan mendudukkan Miya di pinggir ranjang. Kemudian Alvin mengambil kotak p3k dan mulai akan membersihkan luka di lutut Miya.


"Apa saat ini dia berbuat baik lagi kepadaku. Kalau dia terus begini, aku khawatir akan jatuh cinta padanya. Oh Tuhan, kumohon jangan biarkan hatiku luluh pada pria bejat yang sayanganya tampan ini. Tapi, dia yang begini jauh lebih tampan," batin Miya yang kini terpesona menatap Alvin yang terlihat begitu berhati-hati mengobati lukanya. "Apa dia yang jatuh cinta padaku. Oh Tuhan Miya, apa yang kau pikirkan. Wajahmu memang cantik, tapi banyak perempuan diluaran sana yang lebih cantik dan lebih segalanya darimu, yang kini mengantri menginginkan pria bejat tampan ini." Batin Miya lagi.


"Istirahatlah, aku melepaskanmu kali ini. Tapi jika lukamu sembuh nanti. Jangan harap kau bisa lepas dariku." Ancam Alvin membuat Miya menelan salivanya.

__ADS_1


__ADS_2