
***
Keadaan semakin panas saat Alvin menggiring Miya hingga ke ranjang. Alvin memangku Miya, sedangkan dia duduk di pinggir ranjang, dia terus menghujami Miya dengan ******n mendalam.
Miya menyibak kasar jubah mandi milik Alvin. Lalu menggenggam pusaka Alvin erat membuat Alvin memejamkan matanya menikmati permainan Miya. Tak tahan, Alvin langsung mengarahkan senjatanya pada inti milik Miya Dengan posisi tetap memangku Miya.
"Aaaahhh!" Des*h Miya membuat napsu Alvin semakin membuncah. Alvin menggerakkan tubuh Miya keatas dan kebawah. Miya terus mendesah seiring gerakkan yang Alvin lakukan. Sesaat kemudian, Miya sendiri yang menggerakkan tubuhnya keatas dan kebawah. Miya memejamkan matanya karena menikmati. Sedangkan Alvin merem*s-rem*s gundukkan Miya yang kini berukuran begitu besar, lalu dia langsung ******* gemes choco chip milik Miya sedekali dia juga menggigitnya lembu.
"Ah, ah, ahh, ahhh ...." Des*h Miya saat dia mempercepat gerakannya. Alvin turut ambil andil dengan ikut membantu menaik-turunkan tubuh indah Miya. Hal itu membuat Miya semakin tak karuan.
"Aaaaaaaakh!" Teriak panjang Miya saat ia mendapatkan pelepasan pertama. Miya langsung kejang-kejang karena kenikmatan yang baru saja dia dapatkan. Alvin yang belum mendapatkan pelepasan langsung membaringkan Miya diatas ranjang tanpa memberi jeda pada Miya dia langsung memimpin pertarungan panas itu. Kini, Alvin terus memompa pusakanya keluar masuk liang lahat Miya. Des*han Miya semakin kencang saat Alvin memompannya tanpa ampun. Bahkan, Alvin memompa dengan sangat kasar membuat Miya semakin tak karuan kala kenikmatan kembali memuncak.
"Aaaaaakh!" Teriak Miya dan Alvin bersamaan kala mendapatkan pelepasan bersama-sama.
"Aah, aah, aah, ahh ...." Miya kembali mendes*h tak karuan saat Alvin kembali memompa. Alvin benar-benar tidak membiarkan Miya istirahat barang sebentar. Setelah satu menit mendepat pelepasan Alvin kembali memompa lagi dengan gaya yang lain. Kini, Alvin memposisikan Miya seperti merangkak lalu ia mulai memasukkan senjatanya kasar kedalam inti miya. Miya menjerit keras saat ia merasakan miliknya mulai terasa nyeri. Tapi jeritan Miya malah membuat napsu Alvin semakin memuncak hingga ia terus memompa dengan sangat cepat membuat Miya terus mend*sah tak karuan.
Begitulah seterusnya, entah sudah berapa kali mereka berdua mendapat pelepasan. Berbagai gaya telah mereka praktekkan. Bukan hanya Alvin yang aktif tapi Miya juga tak ingin kalah. Bahkan sesekali dia yang memimpin. Semua itu ia lakukan karena pengaruh obat yang diberika Anan begitu kuat.
Pertaruangan sengit itu baru berhenti saat jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Miya langsung terlelap karena kelelahan. Sedangkan Alvin yang masih terjaga, menyelimuti tubuhnya dan juga Miya bersamaan. Didalam selimut tebal itu, dia memeluk erat tubuh Miya, membenamkan wajahnya di tengkuk Miya. Meresapi keharuman tubuh Miya yang sepertinya pernah ia kenal. Ya, wangi itu pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi, dia telah melupakan hal itu.
Keesokkan paginya, Miya mengerjabkan matanya saat cahaya matahari membangunkannya dengan sinar pagi yang begitu cerah. Miya merasakan dadanya begitu sesak, seperti ada yang menghimpitnya.
"Aaaaaaaakh!" Teriak Miya langsung menyingkir hingga terjatuh ke lantai, saat melihat seorang pria yang tidak mengenakkan sehelai pakaian pun memeluk tubuh polosnya begitu erat.
__ADS_1
Miya juga begitu terkejut saat melihat tubuhnya sendiri juga tidak mengenakkan sehelai benang pun, Miya langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Alvin untuk menutupi tubuh polosnya.
"Kenapa kau berteriak!" Teriak Alvin kemudian turun dari ranjang lalu mendekati Miya.
"Jangan mendekat!" Bentak Miya namun tak sekalipun digubris oleh Alvin.
"Jangan sok suci. Kau bukanlah perawan yang baru melakukannya sekali ini. Statusmu disini belum menikah tapi kau sudah tidak perawan. Jadi jangan sok suci dihadapnku." Saut Alvin sambil melempar identitas pegawai hotel pada wajah Miya.
"Dengar Tuan, saya memang sudah tidak lagi perawan. Tapi, bukan berarti Tuan boleh memperkosa saya!" Teriak Miya yang begitu sakit hati dengan perbuatan Alvin padanya. Ini kedua kalinya dia diperkosa, dan dia benar-benar tidak menerima hal ini kembali terjadi kepadanya.
"Kau membuatku jijik. Cobalah kau ingat-ingat, kau sendiri yang menggodaku. Jadi, jangan pernah menyalahkanku atas apa yang telah terjadi." Ucap Alvin menarik paksa selimut yang menutupi tubuh polos Miya. Dan untuk ketiga kalinya, Miya kembali diperkosa. Alvin tidak membiarkan Miya lari darinya. Walau Miya terus berteriak minta berhenti, tapi Alvin seakan tuli tak mendengarkan rintihan Miya. Miya tak lagi berteriak saat suaranya hampir habis. Dia memilih diam dan terus menahan suara erotisnya agar tidak keluar. Namun hal itu mustahil terjadi, Miya Mendes*h sambil menangis saat Alvin menggagahi tubuhnya secara kasar.
Siang harinya, barulah Alvin melepaskan Miya. Miya terus menangis sambil terus menggenggam erat selimutnya. Sementara Alvin sudah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Miya mencoba berdiri. Tapi dia benar-benar tidak mampu hingga akhirnya dia kembali tersungkur di lantai.
"Ini untukmu, kau bisa menuliskan sendiri berapa angka yang kau mau." Ucap Alvin melemparkan selembar kertas ke wajah Miya. Miya mengambil kertas itu sambil terisak.
"Ya Tuhan, apa begini caramu memberikan uang padaku. Apakah ini adalah uang yang kau berikan padaku lewat iblis ini. Apakah aku salah bila menerima uang ini. Aku begitu membutuhkannya Ya Tuhan. Aku tidak peduli pada harga diriku. Aku hanya peduli pada putriku. Jadi, biarkan aku menerima uang ini. Aku yakin ini darimu, Terimakasih Tuhan." Batin Miya tak henti-hentinya menangis.
"Diamlah! Kenapa kau begitu cengeng, seperti belum pernah melakukannya saja. Aku sudah memberikanmu uang yang banyak, untuk itu diamlah!" Teriak Alvin keluar dari kamar hotelnya.
Di lantai dingin itu, Miya menangis sajadi-jadinya. Ia begitu tidak menyangka bahwa sekarang dia akan melakukan hal serendah ini, apa bedanya dia dengan wanita bayaran di luar sana.
__ADS_1
Setelah kakinya lebih baik, Miya segera keluar dari hotel itu. Miya langsung menuju rumah sakit untuk membayar tagihan berobat putrinya juga untuk melunasi hutangnya pada renternir.
***
"Bagaimana malammu. Apa goyangannya enak? Kelitannya luar biasa, pertarungannya sampai siang.' Goda Anan.
"Jangan banyak bicara. Lebih baik kita selesaikan pekerjaan hari ini." Jawab Alvin fokus pada dokumennya.
"Ayolah Alvin, ini pertama kalinya kau melakukan itu setelah insiden 5 tahun lalu. Tapi, kenapa aku merasa tidak asing dengan wanita itu," ucap Anan sambil berpikir keras.
"Tidak asing apa maksudmu?" Tanya Alvin yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama.
"Wanita yang kau tiduri tadi malam. Apa kau tidak merasakan hal yang aku rasakan. Aku merasa gadis itu adalah gadis yang juga ada hubungannya dengan insiden 5 tahun lalu. Aku merasa bahwa wanita itu adalah wanita yang kau rebut dariku. Dasar kau, kau mencegahku agar tidak menidurinya, tau-tau kau malah menidurinya. Lalu kau pergi begitu saja. Dan membuatku dalam posisi yang sulit." Kesal Anan saat mengingat insiden di masa lalu.
"Apakah perlu saya selidiki, Tuan." Tanya Sekretaris Haven.
"Tidak perlu. Tidak mungkin perempuan murahan itu adalah gadis polos yang dulu aku tiduri. Mereka sangat berbeda, dan tidak mungkin perempuan jal*ng itu adalah gadis yang dulu kucintai." Jawab Alvin mencegah Sekretarisnya untuk tidak mencari tahu siapa sebenarnya perempuan yang dia tiduri tadi malam. "Kau lihat ini. Dia mengambil uangku sebanyak ini. Tidak mungkin dia adalah gadis itu," ucap Alvin yakin.
"Widih, 700 juta. Luar biasa mahalnya perempuan itu. Tapi, setara Bro, sampai siang loh," ujar Anan.
"Dengan begini aku semakin yakin dia bukanlah gadis itu. Sangat tidak mungkin," ucap Alvin.
"Ya bisa saja itu kenyataan. Kita bahkan tidak mengingat namanya." Saut Anan.
__ADS_1
"Sudah lupakan masalah itu. Lebih baik kita melanjutkan pekerjaan ini. Lagi pula, sampai kapanpun aku akan tetap membenci yang namanya perempuan. Mereka semua sama. Sama-sama hanya menginginkan uang." Kesal Alvin kala mengingat ibu kandungnya yang pergi meninggalkan dia dan Ayahnya yang telah bangkrut.