Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Tanpa Judul


__ADS_3

***


Suara-suara burung yang berkicau merdu, terdengar ketika Miya membuka kedua matanya.


Wajah tampan dengan senyuman yang mematikan, menjadi pemandangan pertama yang Miya lihat.


"Selamat pagi, Sayang." Sapa-nya semakin percaya diri memamerkan senyum bak racunnya, yang membuat Miya tak dapat berpaling menikmati keindahan menyejukkan hati.


"Aku sangat tampan bukan?" Tanyanya menggoda Miya.


"Biasa saja," jawab Miya menyadarkan dirinya dari keterkaguman.


Muach


"Kiss pagi,"


"Izin dulu padaku!" Kesal Miya memukul tengkuk Alvin.


"Kiss pagi itu hukumnya wajib, Sayang." Jawab Alvin asal.


"Siapa yang mengatakan itu?"


"Aku, Suamimu." Ucapnya dengan menekan kata Suami.


"Iya, Suamiku yang tidak menikahiku. Bahkan tidak mencintaiku, Malang sekali nasibku, apalagi bayi ini." Ketus Miya turun dari ranjang akan menuju kamar mandi.


"Pelan-pelan didalam sana, Sayang. Jangan Sampai terpeleset." Teriak Alvin mengingatkan Miya. Setelah kepergian Miya, Alvin meraih ponselnya di nakas lalu menghubungi Ayahnya.

__ADS_1


"Hallo, Alvin. Ada apa?" Tanya Aldarran diseberang sana.


"Besok aku akan pulang," ucap Alvin membuat Aldarran tersenyum lebar.


"Benarkah, Nak. Apa kau sudah memutuskan untuk menikahi Yirien. Ayah sangat senang mendengarnya. Segerelah pulang, Ayah akan menunggumu." Jawabnya.


"Baik, Ayah." Saut Alvin langsung memutuskan panggilan.


"Bukan itu keputusanku, Ayah. Aku sudah akan mempunyai 3 anak, tidak mungkin aku menikahi perempuan lain apalagi Yirien." Batin Alvin yang begitu yakin akan memiliki baby twins. Ayahnya kembar, karena itulah dia sangat yakin bahwa dia akan memiliki bayi kembar pula.


Beberapa menit kemudian, Miya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Rambutnya basah, bibir ranumnya, kulit putih mulusnya, tubuhnya bak gitar spanyol, benar-benar membaut Alvin menggila. Andai hari ini tidak ada meeting yang menanti. Sudah dipastikan dia akan membuat Miya tidak bisa keluar dari kamar. Namun, hasratnya harus tertahan karena meeting penting yang tidak dapat dihindari.


"Kamu sangat menggodaku, Sayang." Ujar Alvin.


"Kamu memang mesum!" Ketus Miya.


"Sipakan pakaian kerja ku ya, Sayang." Titah Alvin.


"Hem," jawab Miya singkat.


15 menit kemudian, Alvin keluar dari kamar mandi dengan handuk mini melingkar di pinggangnya. Tubuh atletis dengan otot-otot seksi itu kembali Miya nikmati pemandangannya.


Melihat Miya yang terpesona, Alvin semakin meregangkan ototnya, guna memarkan batapa perkasa tubuh indahnya.


"Ini pakaianmu," ucap Miya menyadari keterkagumannya. Miya Langsung pergi saat itu juga karena merasa malu.


Alvin tak dapat menahan senyumnya melihat kelakuan Miya yang begitu imut menurutnya.

__ADS_1


"Miya, Apa yang kau lakukan. Tadi itu sangat memalukan, hancur sudah harga diriku. Eh iya, harga diriku memang telah hancur. Takdirku begitu menyedihkan." Batin Miya bersedih.


"Sayang, kamu sudah siap." Ucap Miya saat tiba di ruang makan. Putrinya Naumi telah duduk menis menunggu kedua orang tuannya.


"Ibu dan Ayah ngapain aja? Kenapa lama sekali, aku sudah sangat lapar?" Gerutu Naumi.


"Maaf sayang. Tadi Ibu masih mandi. Kamu kenapa tidak langsung sarapan saja, Sayang." Bujuk Miya.


"Aku ingin makan bersama Ayah ada juga Ibu. Lalu Ayah kemana, Ibu?" Tanya Naumi lagi.


"Nah itu Ayahmu sudah tiba." Jawab Miya kala melihat Alvin berjalan santai menuju ruang makan.


"Ayah kenapa lama?" Kini Naumi kesal pada Ayahnya.


"Maafkan Ayah, Sayang. Lain kali Ayah tidak akan telat lagi." Jawab Alvin mengacak rambut gelombang Naumi.


"Disiplinlah terhadap waktu, Ayah, Ibu. Sebentar lagi Ayah dan Ibu akan punya anak lagi, dan aku akan punya adik lagi. Jadi, kita harus siaga." Ucap Naumi membuat Alvin tersenyum.


"Dia benar-benar keturunanku." Batin Alvin tertawa geli.


"Oh iya, Yirien dimana, Bibi?" Tanya Alvin.


"Nona Yirien bilang, dia sedang diet. Jadi, dia tidak ikut sarapan." Jawab Bibi Musti sopan.


"Apa dia sudah menyerah dengan tantangan itu?" Tanya Miya heran.


"Kau memang tangguh, Sayang. Tentu saja kau pemenangnya." Saut Alvin.

__ADS_1


__ADS_2