
***
"Ibu, kenapa Ayah belum juga pulang. Inikan sudah sangat malam, aku sangat mengantuk." Ujar Naumi sambil menguap karena mengantuk.
"Yasudah, kamu tidur saja duluan. Tidur barengnya besok malam saja bagaimana?" Saran Miya mencoba membujuk Putrinya.
"Tidak mau, Ibu. Aku mau tidur bersama Ayah sekarang. Oh iya, Ayah memberikan aku ponsel. Kita bisa menelpon lalu bertanya dimana Ayah sekarang." Ucap Naumi langsung bangkit untuk mengambil ponselnya yang berada di nakas.
"Kapan Ayah memberikanmu ponsel?" Tanya Miya.
"Kemarin, Bu. Tapi aku jarang menggunakannya. Apa Ayah tidak memberikan Ibu ponsel juga?"
"Ti-tidak sayang. Ayah memberikan ponsel pada Ibu, tapi Ibu menolaknya." Bohong Miya.
"Apa Ibu tidak bisa menggunakannya. Aku bisa memainkan ponsel ini, kemarin Ayah mengajariku." Ucap Naumi langsung menghubungi nomor Alvin.
__ADS_1
"Anak Ibu memang sangat pintar," puji Miya mengacak rambut gelombang Naumi.
"Hallo Ayah," sapa Naumi namun tidak ada jawaban dari seberang sana.
"Ibu, Ayah tidak bicara." Keluh Naumi memberikan ponsel itu kepada Ibunya.
Miya pun langsung meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo, ini dengan siapa?" Tanya seorang perempuan diseberang sana. Mendengar itu membuat Miya langsung mematikan panggilan itu.
"Ada apa, Ibu. Kenapa telponnya Ibu matikan?" Tanya Naumi kecewa.
"Apakah sesibuk itu, hingga bekerja sampai larut malam." Ujar Naumi mencebikkan bibirnya.
"Kamu jangan sedih dong, Sayang. Tadi Ayah mengatakan bahwa besok Ayah akan membawa kita jalan-jalan sebagai permintaan maaf. Untuk itu, Naumi harus tidur cepat. Agar besok tidak terlambat bangun, untuk jalan-jalan bersama kita." Kembali Miya berkilah, untuk menenangkan Putrinya.
__ADS_1
"Benarkah, kalau begitu aku akan tidur sekarang, agar besok aku tidak kesiangan." Ucap Naumi langsung memaksa matanya untuk terpejam.
Kini, Naumi telah tertidur pulas, Miya menyelimuti Naumi agar selalu hangat, mengecup kening Naumi pelan, lalu mengucapkan selamat malam dengan berbisik.
Keluar dari kamar Naumi, Miya kembali menuju kamarnya untuk beristirahat. Malam itu Miya tidak bisa tidur nyenyak. Dia tau statusnya sebagai apa dimata Alvin. Tapi apa yang bisa dilakukan pada hatinya yang terlanjur mencintai Alvin. Sakit, begitu sakit dihatinya, apalagi memikirkan bahwa sekarang Alvin sedang menikmati malam bersama perempuan ya g dicintainya.
"Sadarlah Miya, siapa dirimu yang mencintai pria seperti Alvin. Tidak ada hal yang bisa dilihat dari semua kekuranganmu." Batin Miya, lalu memaksa mata sembabnya untuk terpejam.
Di Apartemen Anan
"Beraninya kau mengangkat ponselku!" Bentak Alvin pada wanita bayaran milik Anan. "Pergi kau dari sini!" Usir Alvin, wanita itupun segera keluar dari kamar Anan. "Anan benar-benar gila, jangan-jangan masih ada wanita lainnya yang dia simpan." Oceh Alvin tak habis pikir.
"Astaga! Naumi menelponku. Aku harus pergi sekarang." Ucap Alvin kaget, terburu-buru keluar dari Apartemen menuju Mansionnya.
Tak butuh waktu lama. Kini, Alvin telah berada di kamar Putri tercintanya. Perlahan Alvin naik keatas kasur, duduk di pinggir kasur. Alvin memandangi wajah putrinya yang begitu mirip dengannya. Hanya bibir dan rambut saja yang mirip dengan Miya, selebihnya lebih dominan dengannya.
__ADS_1
"Maafkan Ayah, Sayang. Maafkan Ayah karena belum bisa mengakui dirimu seutuhnya. Ayah ingin sekali berteriak kepada dunia bahwa kau adalah Putri Ayah. Tapi maafkan Ayah yang belum bisa melakukan itu semua. Setelah semuanya beres, Ayah berjanji akan membahagiakan kamu dan juga Ibumu. Ayah berjanji." Bisik Alvin sambil mengecup kening Naumi. Setelahnya dia pun keluar dari kamar Naumi menuju kamarnya.
"Aku tau itu, Ayah Alvin. Aku tau kau adalah Ayahku yang sebenarnya. Aku akan menunggumu, itu janjiku." Ujar Naumi yang ternyata mendengar semua yang dibisikkan oleh Alvin.