Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Terobsesi


__ADS_3

"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan kedepan nya bang" jawab Varo bangkit dari duduknya menuju dimana Clara yang sudah terbujur kaku.


"Mau apa kamu kemari hah! Belum puas sudah membuat putriku seperti ini Hah!" teriak wanita yang mengaku sebagai Ibunya Clara.


Varo hanya diam saja dan dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap sahabatnya yang sudah tiada lagi, gadis cerewet yang selalu mengikutinya dan selalu membuatnya kesal sudah tidak ada lagi. Hanya ada dirinya sendiri dan tidak memiliki teman dekat lagi, selain saudara-saudaranya saja.


'Kenapa kamu mengingkari janji yang kamu buat Cla? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa kamu pergi dengan semua kenangan yang kamu berikan untuk ku? kenapa kamu melakukan ini semua untuk ku Cla, kenapa!' ucap Varo dalam hati dan dia semakin dingin dan sangat datar.


"Kenapa kamu hanya diam saja hah! Apa kamu merasa jika yang kamu lakukan padanya sudah membuat semua keluarganya terpukul dan kehilangan nya. Kau, kau tidak pantas untuk hidup dan menerima teman sebaik dan setulus putriku ini, aku barsumpah. Jika kamu akan terpuruk seumur hidup dan tidak akan bisa mendapatkan teman sepertinya lagi. Camkan itu baik-baik dalam fikiran kamu" ucap Ibunya Clara yang memaki dan juga mengeluarkan sumpah serapahnya pada Varo.


"Tanpa anda mengatakan itupun saya sudah merasakan apa yang anda katakan tadi. Jadi anda tidak perlu mengucapkan kata-kata sampah seperti itu" gumam Varo yang hanya dia sendiri yang mendengarnya.


Sedangkan Nyonya angkuh tersebut hanya bisa menangisi kepergian Clara. Entah itu tangisan tulus atau hanya memang topeng yang menutupi kebusukan nya saja. Varo bisa melihat, jika Ibunya Clara memang tidak tulus dengan Clara.


'Aku akan selalu merindukan kamu Cla, aku mungkin akan menyusulmu Cla. Karena kamu sudah membawa semua hidupku dan tidak ada sisa didalam diri aku. Bahkan kamu sudah membawa semua janji dan kepercayaan aku, sudah tidak ada yang tersisa sedikitpun juga' gumam Varo dalam hati dan dia masih berdiri mematung menatap kearah Clara.


"Va, kita pulang saja sekarang. Mimi sudah menyuruh kita untuk segera pulang, nanti kita akan ikut melayad saat Clara akan dimakamkan" ucap Varez mengajak Varo yang hanya diam saja tidak mau mengatakan apa-apa.


Varez langsung mengikuti Varo yang sudah jalan lebih dulu keluar dari ruangan Clara tadi. Bahkan dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Karena dia yang sebelumnya juga sangat dingin, ditambah sekarang dia sudah kehilangan teman dan sahabat satu-satunya untuk selama-lamanya.


Setelah kejadian itu Varo hanya diam dan selalu menyibukan dirinya pada pekerjaan-pekerjaan kantor yang sama sekali itu bukan tugasnya dan dia masih sangat muda juga masih perlu banyak bermain.


Karena bagi anak-anak seumuran nya sedang sibuk mencari kebebasan dan kebahagiaan mereka sendiri. Varo selalu terobsesi akan pekerjaan-pekerjaan yang membebani fikiran nya selama ini.


Memang, sejak kehilangan Clara. Hidup Varo semakin kaku dan sangat dingin, dia juga tidak bisa membedakan ketulusan dan kepalsuan. Makanya sekarang dia selalu menutup diri dari siapapun. Baik keluarganya sendiri, yang tersisa hanya Varo yang memenuhi obsesinya sebangai seorang pemimpin perusahaan yang sukses dan bisa diandalkan.


"Va, Mimi lihat kamu sangat lelah sayang. Kamu jangan menyiksa diri kamu seperti ini, kamu bisa sakit" ucap Zahiya yang menatap kearah Varo dengan penuh prihatin.


"Aku baik-baik saja Mi" jawab Varo dan dia tidak mengalihkan pandangan nya dari berkas-berkas yang sedang dia baca dan pelajari.


"Jika kamu baik-baik saja, tatap Mimi. Tatap mataku Mimi Elvaroz Malik Tomlinson!" ucap Zahiya dengan tegas dan penuh penekanan disetiap katanya. Jika Zahiya sudah memanggilnya dengan nama lengkap, sudah dipastikan, jika Zahiya sedang menahan emosinya.


"Mi, bisakah Mimi meninggalkan aku sendiri? Aku butuh ketenangan, apa Mimi tidak melihat, jika Clara sedang tidur" ucap Varo yang menunjuk kearah boneka yang ingin dia hadiahkan pada Clara sebelum Clara meninggal.


Bahkan Varo menganggap dan mengajak berbicara boneka tersebut. Membuat Zahiya dan yang lainnya merasa sangat khawatir, apa Lgi sekarang sudah dengan terang-terangan mengatakan. Jika dia itu adalah Clara, bukan boneka.


"Elvaroz cukup! Kamu harus segera sadar. Dia itu bukan Clara ataupun manusia! Itu hanya sebuah boneka dan ini akan Mimi hancurkan" ucap Zahiya yang mengambil boneka berukuran sangat besar tersebut dan akan merusaknya.


Tapi Varo menghalanginya dengan tubuhnya. Bahkan jika Zahiya tidak menghentikan tangan nya, sudah pasti jika yang terluka itu bukan bonekanya. Melainkan Varo itu sendiri.


"Jangan Mi, dia menangis. Dia tidak pernah melakukan apa-apa dan kesalahan apapun, Mimi tidak berhak melakukan itu padanya. Sekarang Mimi yang keluar dan sangam pernah masuk lagi kemari, jika hanya ingin menyakitinya saja" ucap Varo dengan nada tegasnya dan bahkan mendorong Zahiya.


Jika saja David tidak datang tepat waktu, sudah dipastikan Zahiya akan tersungkur dan kepalanya akan membentur tembok.

__ADS_1


"Apa ini yang kami ajarkan padamu! Kau menyakiti wanita yang sudah merawatmu dan juga membesarkan mu hingga saat ini! Apa kau sudah tidak waras Elvaroz Malik Tomlinson!!!" teriak David yang akan menurunkan tangan nya pada Varo, jika saja Zahiya tidak menghalanginya.


"Jangan, jangan sampai kamu menurunkan tangan kamu padanya By, jangan pernah" ucap Zahiya yang menahan tangan David Mengarah pada wajah Varo.


"Kenapa kamu masih membelanya sayang? Dia sudah menyakiti kamu dan bahkan sudah membuat kamu menangis. Aku tidak terima itu semua sayang, tidak" ucap David yang memegang lengan Zahiya dan menatap lekat padanya.


Sedangkan Varo sedang mengusap-ngusap boneka dan memperhatikan nya seperti pada seseorang yang dia maksud.


"Apa kamu lihat sendiri sayang. Dia sudah tidak waras dan udah sepantasnya dia dibawa pada Psikolog. Bila perlu bawa dia kerumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan. Aku tidak ingin jika nanti dia akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya lagi dari ini pada kamu atau pada orang lain" ucap David yang mengatakan nya sambil menunjuk kearah Varo yang sedang memperlakukan boneka seperti pada manusia.


"Tapi dia adalah putra kita By, dia tidak seperti yang Hubby fikirkan. Dia masih bisa diajak bicara baik-baik dia tidak mungkin melakukan kekerasan jika aku tidak memancingnya dengan menggangunya dengan melakukan sesuatu pada bonekanya itu. Jadi Hubby jangan mengatakan kata-kata yang menyakitkan seperti itu" ucap Zahiya yang tidak terima jika Varo dianggap sudah tidak waras oleh suaminya sendiri.


"Jika kamu tidak ingin membawanya dan membuatnya sembuh, aku sendiri yang akan membawanya bagaimanapun caranya. Dia tidak mungkin harus seperti ini terus, kita sudah semakin tua Zahiya Z Malik. Untuk kali ini aku tidak akan mendengarkan pejelasan dari kamu, karena aku yang berhak atas semua anak-anak ku dan juga kalian semua. Karena aku kepala keluarga kalian, setuju atau tidak. Aku akan tetap membawanya kesana, titik" ucap David yang mengatakan nya dengan sangat tegas dan tidak mendenganrkan apa yang Zahiya katakan.


"Dan kau Elvaroz, ikut Pipi sekarang juga" ucap David pada Varo yang sedang berbicara bersama dengan bonekanya.


"Mau kemana Pi? Aku tidak ingin meninggalkan Clara sendirian lagi. Dia pasti akan sangat sedih dan tidak mau jauh dari aku Pi, bisa kita ajak dia juga" ucap Varo yang mengatakan nya dengan nada memohon. Itu sama sekali bukan dirinya yang seperti biasanya.


"Jika kau masih mau mengikuti perkataan Pipi, kau bisa terus bermain dengan nya. Tapi jika sebaliknya, jangan harap kau bisa melihatnya lagi. Karena Pipi sendiri yang akan menghancurkan nya" ucap David dengan penekanan disetiap kata yang dia ucapkan pada Varo.


"Baiklah, tapi Pipi harus berjanji. Jangan pernah menyakitinya dan menjauhkan nya dariku" ucap Varo yang memberikan penawaran pada David.


"Kau juga harus berjanji" ucap David dengan tegas dan itu membuat Zahiya hanya bisa diam menatap apa yang sedang dilakukan oleh David pada putranya.


"Janji, aku berjanji akan menuruti semua apa yang Pipi katakan. Pipi juga berjanji, jangan menyakitinya" ucap Varo yang langsung diangguki oleh David.


"Lakukan apa yang Pipi katakan, sekarang ikut dengan Pipi bertemu dengan seseorang dan kamu harus menceritakan semuanya pada orang tersebut. Kamu bisa?" ucap David yang membuat Varo berfikir dulu.


Karena Varo sebelumnya tidak pernah berbicara pada siapa-siapa selain dengan keluarganya saja. Tapi saat melihat tatapan David yang sangat berbeda dari biasanya, membuat Varo hanya mengangguk dan tidak menolaknya.


"Good boy, sekarang ikut Pipi" ucap David yang segera mengajak Varo untuk ikut dengan nya bertemu dengan Psikiater yang akan membuatnya menjadi normal kembali.


Flashback Off...


"Aku akan menahan semua dorongan aneh dalam diri aku Mi, aku ingin bisa normal dan seperti saudaraku yang lain Mi. Maaf sudah menyakiti dan membohongi Mimi" gumamnya yang malah meringkuk diatas lantai dengan memeluk lututnya.


.


Keesokan harinya seperti biasa, mereka akan berkumpul dan sarapan bersama. Varo juga sudah rapih dengan pakaian nya, Varez melihat ada yang berbeda dari adiknya.


"Kamu kenapa Va?" tanya Varez dan membuat semua orang menatap kearah Varo yang sedang berpenampilan casual, bukan menggunakan stelan jas mahalnya.


"I'm fine" jawab Varo yang langsung duduk dan memakan sandwich kesukaan nya.

__ADS_1


"Tumben kamu tidak menggunakan pakaian formal mu?" tanya Varaz yang melihat penampilan Varo yang sangat berbeda.


"Cucu Oma memang paling handsome jika sudah seperti ini" ucap Mama Lulu yang memberikan jari bentuk love pada Varo.


Varo yang digoda oleh Oma Lulu hanya mengedipkan matanya dan tersenyum sangat tipis pada Oma Lulu. Baik mereka semua tidak melihat senyuman tipis dari Varo, hanya Oma Lulu yang melihatnya.


'Ya Allah, aku hanya meminta yang terbaik untuk cucu-cucu hamba. Karena diusia tua hamba ini, hamba ingin melihat semuanya cucu-cucu hamba bahagia semuanya' ucap Oma Lulu yang mendapatkan genggaman dari Opa Devon.


"Semuanya akan baik-baik saja sayang" ucap Opa Devon yang menggenggam tangan Oma Lulu.


"Semoga saja Mas, kita semua hanya bisa mendo'akan dan berdo'a yang terbaik untuk mereka semua" ucap Oma Lulu yang diangguki oleh Opa Devon.


"Opa dan Oma ini selalu saja membuatku merasa malu dan juga sangat iri, kenapa kalian membuat aku yang jomblo ini" ucap Varuz yang menggoda Opa dan Oma nya dengan setingan wajah datar dan dingin nya.


"Kamu ini tidak pantas mengatakan kata-kata manis seperti itu Varu, dengan wajah kamu yang asem itu" ucap Opa Devon malah menggoda cucunya.


"Yang dikatakan oleh Opa memang benar, hahaha" ucap Varaz yang menatap pada Opa Devon dan menistakan adik bungsunya.


"Sedang membicarakan apa sih?" ucap Varuz yang pura-pura bodoh.


Mereka tertawa bersama tanpa Varo tentunya, Varo langsung menghabiskan makanan nya. Dia langsung pamit untuk pergi kesuatu tempat, tentunya dengan diikuti oleh Varez yang menjadi bodyguard pribadinya.


"Bisakah abang biarkan aku sendiri saja hari ini? Aku ingin sendiri hari ini" ucap Varo yang menghentikan langkahnya menuju mobil.


Varez hanya menatap lekat dan dia mencari celah untuk melihat kesedihan dan juga kemarahan didalam matanya. Varez langsung mengangguk dan membiarkan Varo pergi.


"Baiklah, kamu hati-hati. Jangan pernah matikan GPS kamu" ucap Varez yang membiarkan Varo pergi.


"Oke bang, thanks" ucap Varo yang langsung masuk kedalam mobil dan melajukan nya dengan kecepatan sedang.


"Cla, ini sudah belasan tahun kamu pergi dari dunia ini. Apa kamu bahagia disana? Semoga kamu memang sangat bahagia" ucap Varo dalam mobil yang menatap bucket bunga mawar berwarna merah dan putih.


"Kamu pasti sangat bahagia bisa bertemu dengan orang-orang yang kamu sayangi sejak dulu" gumamnya dengan sedikit menarik sudut bibirnya.


Saat dalam perjalanan tidak lama menuju kepemakaman umum. Dia berjalan sambil membawa bucket bunga menuju sebuah pemakaman. Dia sampai disana dan duduk disamping makam seorang anak perempuan bernama Clara.


"Assalamualaikum Cla, maaf aku baru datang sekarang" ucap Varo yang mengatakan itu sambil meletakan bucket bunga.


"Sekarang aku sudah seperti apa yang kamu inginkan Cla, aku sudah menjadi seperti apa yang kamu lihat sekarang. Maaf, jika kamu mengharapkan kedatangan aku datang kesini" ucapnya lagi yang mengusap batu nisan bernama Clara.


"Aku baik-baik saja, semoga kamu baik-baik saja dan barbahagia. Aku harus pergi sekarang, jika aku ada waktu luang lagi, InsyaAllah aku akan datang kemari lagi. Assalamualaikum" ucap Varo yang langsung mengusap batu nisan dan pergilah dari sana.


Varo langsung pergi dari sana menggunakan mobilnya dan menuju hotel. Sebelum sampai dia langsung berganti pakaian menggunakan stelan jas mahalnya.

__ADS_1


Sampai disana dia disambut dengan sangat ramah dan juga semua kariawan dari atasan hingga bawahan. Mata Varo melirik kearah wanita yang beberapa hari lalu dia sekapan dan tahan didalam apartment mewahnya.


Siapa lagi jika bukan Viera yang menjadi pengalih perhatian nya, dia berhenti sejenak dan kembali melanjutkan jalan nya menuju ruangan kerjanya.


__ADS_2