
"Apa ini? Kenapa anggota kita tumbang semua, siapa sebenarnya mereka?" tanya Varez sama sekali tidak mengerti dengan semua ini.
"Ini yang aku khawatirkan saat menyerang tanpa adanya persiapan" jawab Varo dengan menatap satu persatu orang-orang yang ada didepan sana dan meminta Ferry segera menarik mundur orang-orangnya.
"Maksudmu apa Va? Aku akan sekali tidak mengerti" tanya Varez yang menatap penuh dengan tanya dimatanya.
"Dia adalah Tuan Mendez, Ayah dari Anastasia Mendez. Dia adalah musuh bebuyutan Mimi Za, makanya Mimi Za tidak pernah mau berurusan lagi dengan psychopath gila itu. Karena Mimi Za dulu pernah dalam posisi seperti ini" jawab Varo yang melihat orang-orangnya sudah menjauh dan selamat.
"Sebaiknya jangan banyak bertanya dulu. Kita selesaikan ini dulu, jika kita bisa menumbangkan Mendez. Maka akan memudahkan kita menguasai orang-orangnya yang sangat jago dalam segala hal" ucap Varo membuat Varez membolakan matanya saat mendengar perkataan dari Varo.
"Apa kau gila hah! Dia dukelilingi oleh orang-orang yang sangat handal. Bisa-bisa kita yang mampus belum apa-apa juga" ucap Varez yang menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Gila adalah nama lain dariku. Jika kau mau ikut ayok, jika tidak juga tidak masalah. Hanya satuhal yang ku minta darimu, jangan pernah mengatakan ini pada Mimi dan Pipi" ucap Varo yang segera berlari menuju Tuan Mendez dan orang-orangnya.
'**Maafkan aku sweetie, jika aku tidak bisa pulang dan menemuimu lagi. Aku melakukan ini semua untuk kebaikan dan juga ketenangan kita nantinya. Tolong maafkan aku yang selalu melakukan sesuatu tanpa mengatakan nya padamu. Mi, Pi maafkan EL, EL terpaksa melakukan ini**' ucap Varo dalam hati sambil berlari dengan sangat cepat.
"Sial! Kenapa gue biarkan dia menggelinjang kuburan nya sendiri? Sial-sial!!" teriak Varez saat sudah tidak bisa melihat Varo dikegelapan malam.
"Come on Va. Apa loe nggak berfikir jika loe sudah memiliki tanggung jawab besar, yaitu istri loe Va" ucap Varez sambil mengacak-ngacak rambutnya dan dia malah melihat jika Opa Zayn dan Mimi Za datang menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini? Dimana Varo?" tanya Zahiya dengan tatapan sangat khawatir.
__ADS_1
"Maafkan aku Mi, Varo menghampiri mereka dan entah apa yang akan terjadi. Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya" ucap Varez yang menunduk mengatakan nya.
Zahiya langsung ambruk ditanah, perasaan nya berkecamuk saat mendengar jawaban dari Varez. Dia benar-benar merasa jika kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi.
"Kenapa tidak kau cegah dia bang? Dia tidak akan pernah berfikir panjang jika masalah seperti ini. Dia tidak tahu betapa berbahayanya mereka semua" ucap Zahiya yang baru kali ini Varez dan Opa Zayn melihat seorang Zahiya menangis.
"Maafkan EZ Mi, EZ sama sekali tidak bisa mencegahnya. Maaf" ucap Varez yang memeluk Zahiya yang sedang menangis.
"Tenangkan dirimu dulu Queen. Jika kau lemah seperti ini akan sulit untuk menembus pertahanan mereka. Kita lakukan menggunkan cara kita dulu, dengan begitu kita bisa menyelamatkan Varo" ucap Opa Zayn yang menepuk bahu putri sulungnya.
"Daddy benar. Jika aku seperti ini, yang ada Varo kenapa-kenapa. Kita bersiap untuk melakukan misi sekarang" jawab Zahiya langsung mengusap kasar air matanya.
"Kita bersiap, Daddy juga sudah menyiapkan anggota kita yang paling tangguh untuk bisa menghadapi mereka semua" ucap Opa Zayn yang meminta Varez juga bersiap dalam mengumpulkan anggotanya yang paling tangguh.
.
Sedangkan didalam kamar hotel, Viera baru saja terbangun setelah merasakan jika disampingnya sudah kosong. Dan dia melihat jika tidak ada siapa-siapa disana selain dirinya sendiri.
"Dia kemana? Apa dia pergi? Ah, kenapa gue merasa seluruh tubuh gue remuk ya" gumam Viera saat memggerakan tubuhnya.
"Dia memang seperti singa yang kelaparan. Masa seluruh tubuh gue remuk gini? Awas saja jika gue ketemu dia, gue pites sekalian" lanjutnya lagi sambil berjalan kearah kamar mandi dengan tertatih-tatih menahan perih dibagian intinya.
__ADS_1
"Tapi sayang, jika gue pites. Dia gantengnya Masya Allah banget" gumamnya yang malah senyum-senyum sendiri saat mengatakan nya.
Dia mengingat kejadian sore yang panas itu. Dia tidak sadar dan sama sekali tidak tahu jika Varo sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya sendiri demi ketenangan hidup mereka semua dari gangguan orang-orang yang ingin kehancuran keluarga kecil dan semua orang-orang yang Varo sayangi.
"Ya Allah, semoga saja dia segera tumbuh disini. Aku sangat menginginkan nya, abang juga pasti sangat menginginkan nya. Sama seperti aku ini, segeralah tumbuh ditahim Mama sayang" gumam Viera sambil mengusap-ngusap perutnya sendiri sambil senyum-senyum sendiri.
"Mama? Apa aku pantas dipanggil Mama ya, hihihi" gumamnya lagi lalu segera membersihkan dirinya.
"Sudah pagi saja. Tapi kenapa abang tidak menungguku bangun? Tidak biasanya, mungkin saja sedang ada meeting penting kali" gumam Viera saat akan menggunakan pakaian kerjanya lagi.
"Eh buset! Kenapa ini kagak ada bentuknya lagi? Wah, parah nih laki gue. Masa iya gue kerja pake ginian?" gumam Viera saat memegang sebuah gaun yang sangat bagus dan terlihat pas pada tubuhnya.
"Ada tulisan juga rupanya" gumam Viera yang membuka kertas tersebut.
"**Sweetie, gunakan gaun ini ya saat kau terbangun dan sudah mandi tentunya. Aku ingin kamu datang ketempat yang sudah aku rencanakan, akan ada orang yang mengantarkan kamu nanti. Diluar ada beberapa orang bodyguard yang bertugas menjaga dan mengawal kamu. Ingat, jangan pernah membantah dan menolaknya. Karena sudah sering kamu menolak dan selalu membantah, untuk kali ini dan seterusnya jangan pernah. Maaf aku harus pergi tanpa sepengetahuan kamu. Jadi, bersiap-siaplah dan berdandan dengan cantik. I love you so much sweetie**" tulis tangan Varo dengan sangat membuat Viera merasa sedih membacanya.
"Kenapa dia mengatakan itu? Aku tahu, jika aku ini tidak pernah mau mendengarkan ucapan abang. Setidaknya jangan membuatku menangis pagi-pagi begini" gumamnya memeluk kertas yang sedang dia pegang.
"Kenapa gue malah jadi mellow gini sih? Kagak biasanya. Sebaiknya gue dengerin aja kali ya, dia sudah menyiapkan semuanya buat gue. Apa lagi ni gaun bagus bener" gumamnya segera mengenakan gaun pemberian Varo.
Dengan sangat bersemangat dan senyuman selalu menghiasi bibirnya yang tebal akibat ulah Varo. Viera merias dirinya dengan sangat cantik dan elegant, bahkan dia sendiri sampai tidak mengenali dirinya sendiri setelah selesai merias diri juga menggunakan gaun dan tas tangan berukuran kecil ditangan nya.
__ADS_1
"Gue berasa jadi putri sultan penampilan kek gini" ucapnya sambil cengengesan menatap pantulan dirinya didepan cermin besar.
"Eh, gue kan emang istri sultan. Be*o banget gue" ucapnya yang segera membuka pintu kamar presidential sweet dan benar saja apa yang dikatakan Varo didalam kertas tersebut.