
"Dia tidur. Sudahlah, lebih baik gue pergi aja dari sini sebentar. Gue harus izin dulu sebelum benar-benar ngambil cuti lagi hari ini. Ah, gue udah lama banget kagak kerja" gumam Viera yang meletakan kepala Varo diatas bantal.
"Bobok yang nyenyak ya abang sayang. Aku akan segera kembali" ucap Viera yang mencium kening Varo dan dia segera pergi dari sana.
Viera bergegas keluar dari ruangan Varo. Saking terburu-burunya dia bertabrakan dengan Ferry yang akan menuju ruangan Varo.
"Aoch" terikak Viera saat bertabrakan dengan Ferry.
"Nona, maafkan saya. Saya jalan tidak lihat-lihat" ucap Ferry saat Viera menjerit kesakitan saat pant*tnya menyentuh lantai.
"Ah, saya tidak apa-apa. Ini kesalahan saya, bukan kesalahan anda" ucap Viera yang bangkit berdiri tanpa menerima uluran tangan Ferry.
"Sekali lagi saya minta maaf Nona. Saya akan membawa anda kedokter, mungkin saja ada yang terluka pada tubuh anda" ucap Ferry lagi sambil membungkukan kepalanya berkali-kali pada Viera.
"Ah, tidak perlu. Saya baik-baik saja, saya juga minta maaf. Karena saya berlarian tidak melihat jalan. Saya buru-buru" ucap Viera yang segera bergegas pergi dari sana setelah mengatakan itu pada Ferry.
"Untung saja Tuan Muda tidak melihatnya. Jika Tuan Muda melihat, Tamat sudah riwayat ku ini membuat Nona Muda terjatuh dilantai" gumam Ferry pada dirinya sendiri dan dia segera masuk kedalam ruangan Varo.
Saat masuk kedalam ruangan Varo dia merasa terkejut saat melihat Varo sudah berdiri dengan tatapan tajamnya dan sudah membuat Ferry tidak punya nyali untuk menatap kearah Varo.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya Varo penuh dengan penekanan disetiap katanya.
"Maaf Tuan Muda, saya tidak sengaja menabrak Nona Muda saat berjalan hingga terjatuh" jawab Ferry sambil menunduk sangat dalam.
"Apa dia terluka?" tanya Varo lagi yang sudah mengepalkan tangan nya dengan erat.
"Tidak ada Tuan. Nona hanya terjatuh saja dan saya sudah memastikan tidak ada luka pada tubuhnya" jawab Ferry dengan suara yang bergetar. Pasalnya dia salah mengucapkan sesuatu pada Varo.
"Apa kau bilang! Kau menyentuhnya?!" teriak Varo yang sudah mengangkat tangan nya untuk memukul Ferry.
__ADS_1
"Tidak, tidak Tuan. Saya sama sekali tidak menyentuh Nona, saya hanya bertanya pada beliau dan beliau bilang tidak ada yang terluka. Maafkan saya Tuan" jelas Ferry dengan sangat tegang dan sudah pasti sangat takut saat melihat tatapan saja. Apa lagi sampai Varo mengangkat tangan nya.
"Enyah kau" ucap Varo yang mendorong tubuh Ferry menjauh darinya hingga tersungkur dilantai.
"Permisi Tuan" ucap Ferry yang segera bangkit berdiri dan segera pergi dari ruangan Varo.
"Dasar tidak berguna. Dia akan pergi kemana? Kenapa malah membiarkan ku sendirian didalam" gumam Varo yang menghela nafasnya kasar. Dia merasa jika Viera tidak akan meninggalkan nya. Karena dia tadi mendengar, Viera akan kembali lagi untuknya.
Varo langsung mengerjakan pekerjaan nya hingga selesai dan beberapa meeting didalam PENZ.DRC sudah selesai. Dia melihat jam dipergelangan tangan nya, jika Viera pergi sudah cukup lama. Varo merasa khawatir akan keadaan Viera saat ini. Walau dia menugaskan beberapa bodyguard untuk menjaganya, tetap saja rasa takut dan khawatir menerjang hatinya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Varo saat panggilan nya diangkat oleh bodyguard yang menjaga Viera.
"Nona sedang bekerja saat ini Tuan. Nona juga tidak kemana-mana setelah sampai di hotel" jawabnya disebrang sana.
Varo segera memutuskan panggilan nya dan dia bergegas untuk menyusul Viera. Dia tidak ingin jika Viera kelelahan dan akan sakit terus meninggalkan dirinya. Varo mengajak Ferry untuk menyusul kesana.
.
TOK...
TOK...
TOK...
"Permisi Pak, boleh saya masuk?" tanya Viera setelah mengetuk pintu ruangan Jamal dan dia menyembulkan kepalanya.
"Masuk" jawab Jamal.
"Apa kamu masih mau bekerja disini atau memang sudah tidak ingin bekerja lagi Xaviera Purnama?" tanya Jamal dengan nada tegas dan tatapan datarnya.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya masih jauh bekerja disini. Maafkan saya yang tidak meminta izin terlebih dahulu jika saya mengambil cuti saya dalam beberapa hari yang lalu. Saya sungguh minta maaf Pak" jawab Viera yang menunduk dan merasa bersalah.
"Kamu asuh bisa bekerja disini. Tapi cuti tahunan kamu sudah tidak ada lagi. Jika kamu masih nekad mengambil cuti tanpa izin tertulis pada saya. Maka dengan berat hati saya mengeluarkan kamu dengan tidak hormat" ucap Jamal yang meletakan kacamata bacanya.
"Terimakasih Pak, jadi saya boleh langsung bekerja kembali Pak?" tanya Viera yang sudah sangat bahagia saat Jamal tidak nemarahinya.
"Silahkan, tapi ingat ucapan saya baik-baik tadi" jawab Jamal sambil mengangguk dan dia meminta Viera segera keluar dari ruangan nya.
"Alhamdulilah, gue masih bisa kerja disini. Ya walaupun ni hotel milik laki gue" gumamnya yang segera menuju ruangan khusus kariawan untuk mengganti pakaian nya.
"Vi, loe kemana aja sih? Loe tahu gak, Pak Jamal uring-uringan terus kagak ada loe" tanya Citra saat melihat Viera.
"Ceritanya panjang deh. Nanti kalo sempet gue ceritain, gue langsung kerja ya. Gue takut dipecat" jawab Viera yang segera bergegas pergi setelah menjawab pertanyaan dari Citra.
"Lah, tuh anak kenapa? Aneh banget" gumam Citra yang mengikuti Viera. Dia pergi juga untuk bekerja kembali.
Viera dengan sangat semangat mengerjakan tugasnya. Dia memang sangat menyukai pekerjaan nya itu, bahkan Xaqer juga sudah sering kesana dan kenal dengan Jamal juga Citra.
Viera tidak sadar. Jika dia sedang diawasi oleh beberapa orang yang bertugas menjaganya dari kejauhan. Karena Viera memang selalu menolak untuk dijaga ketat oleh orang-orang Varo.
Saat sedang bekerja dengan tenang. Tiba-tiba ada sebuah tangan menariknya kedalam ruangan yang sangat gelap. Viera memberontak dan berteriak-teriak sekuat tenaganya. Bahkan sampai memukul-mukul dan melukai seseorang tersebut.
Hingga tiba-tiba lampu didalam ruangan itu menyala dan dia baru bisa melihat siapa yang membawanya kedalam ruangan tersebut.
"Abang iiihhh, kenapa sih selalu saja membuat aku kaget dan berfikiran macem-macem" ucap Viera yang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Maaf sweetie. Aku hanya sangat merindukan kamu" jawab Varo yang segera memeluk Viera dan menghirup aroma mawar dalam tubuh Viera.
"Abang iiihhh, engap tahu. Lagian aku ini bauk keringat bang, aku habis mengerjakan pekerjaanku" ucap Viera yang melepaskan pelukan Varo padanya.
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku sangat merindukan kamu, kenapa kamu pergi tidak bilang padaku?" tanya Varo yang membuat Viera memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan dari Varo.
"Bang, aku ini bekerja. Bukan pergi kemana, ini baru aku akan pulang setelah ini. Abang malah kemari dan bikin kaget aku" jawab Viera yang membalas pelukan Varo padanya. Dia juga merasa sangat nyaman berada dalam pelukan hangat Varo.