
"Gue nggak tahu Xaq, gue bingung dengan semua ini. Disisi lain, gue kasihan dan iba padanya. Disisi lainnya lagi gue merasa tidak akan mampu. Gue harus gimana saja gue nggak tahu" jawab Viera dengan menunduk dan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan nya.
Dia terdengar terisak, mungkin dia menangis karena memang ini adalah keputusan yang sulit. Jika dia menolak sama saja dia melukai hatinya banyak orang dan membuat seseorang yang terobsesi padanya semakin tidak terkendali.
"Sebaiknya loe sholat istihkarah saja dulu kak, supaya hati dan fikiran loe lebih tenang. Jika loe masih berfikiran seperti ini terus, yang ada loe akan tersiksa sendiri. Serahkan semuanya pada Allah kak, minta supaya kakak tidak salah jalan dan memantapkan hati juga perasaan kakak seperti apa" ucap Xaqer yang memeluk Viera sedang menangis, memberikan nya dukungan juga nasehat untuknya.
"Hapuslah air mata loe, gue jadi ikutan sedih juga kan. Lebih baik loe sholat dulu, minta pada Allah supaya loe bisa memutuskan semuanya dengan baik dan minta petunjuk yang terbaik untuk masa depan loe sendiri" ucap Xaqer mengusap air mata Viera dan memintanya segera melaksanakan apa yang dia ucapkan barusan.
"Makasih dek, loe emang sangat bisa di andalkan jika dalam situasi seperti ini. Gue bangga bisa memiliki loe sebagai keluarga gue, makasih" ucap Viera yang memeluk adiknya dan dia segera melaksanakan saran dari adiknya.
"Semoga apapun keputusan loe, akan gue dukung dan selalu gue bantu kak. Karena loe sudah terlalu banyak berkorban buat gue selama ini. Gue akan menjelaskan pada mereka jika memang keputusan loe berubah" gumam Xaqer yang menghela nafasnya dan masih duduk dikursi taman tersebut.
.
Tidak jauh darinya ada seseorang yang mengepalkan tangan nya hingga darahnya keluar kembali dan dia merasa sangat marah juga sedih, dia merasa jika dia sedang dipermainkan oleh kakak beradik itu. Bahkan dia sudah mengeraskan rahangnya, siapa lagi jika bukan Elvaroz yang menatap kearah Xaqer sekarang.
"Apa yang dia inginkan sebenarnya? Apa ini yang dia inginkan, mampermainkan ku seperti ini? Baiklah, jika itu mau mu. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku dan memohon untuk bisa dekat dengan ku" gumam Varo yang segera pergi dari sana. Dia tidak ingin jika ada orang yang melihatnya seperti itu.
Varo berjalan masuk kedalam kamarnya untuk mengganti perban ditangan nya sendiri. Walau kesusahan dan juga menahan rasa sakit yang ditimbulkan, dia tetap mengobati lukanya hingga terbalut sempurna menggunakan kain perban yang baru.
Dia masih memikirkan apa yang akan dia lakukan nanti pada Viera, karena dia merasa jika dia dipermainkan olehnya. Padahal dia sudah memberikan yang terbaik untuknya, cinta dan perhatian dia sudah berikan.
.
Sedangkan didalam ruangan lain Viera sedang mengadukan apa yang dia rasakan sekarang pada sang pencipta. Bahkan dia menangis diatas sajadahnya ingin diberikan petunjuk dan jalan terbaik untuk masa depan nya.
"Ya Allah, tolong berikan hamba petunjuk MU yang terbaik untuk diriku ini, juga bisa membuatnya mengerti dan tidak melukai dirinya juga orang-orang yang menyayanginya. Tolong berikan petunjuk MU, hamba mohon Ya Robb" ucap Viera yang terus menangis dan memohon pada yang maha pengasih lagi maha penyayang.
"Jika memang dia yang Engkau pilihkan untuk hamba, hamba akan menerimanya dengan sepenuh hati hamba. Walau hamba belum memiliki perasaan apapun padanya, setidaknya Engkau yang memberikan jalan dan memberikan yang terbaik untuk hamba juga masa depan kami berdua" ucap Viera lagi, dan dia semakin terisak mengatakan nya.
Viera masih menunduk dan menangis, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Dia hanya bisa diam dan merenungkan semuanya sendiri. Dia tidak tahu apa yang sedang menantinya, jika dia sampai menerima pernikahan ini. Juga jika dia menolaknya.
__ADS_1
Varo sudah siap dengan stelan jas nya dan begitu juga dengan Xaqer. Dia juga sudah siap, tinggal menunggu Viera yang sedang dirias oleh MUA terkenal.
"Bang, bisa kita bicara sebentar?" tanya Xaqer saat melihat hanya ada siapa-siapa dan Varo saja disana.
"Katakanlah" ucap Varo yang tidak menatap kearah Xaqer. Entah kenapa dia bersikap sangat dingin dan juga datar pada Xaqer, sebelumnya dia sangat baik dan juga ramah. Walau wajahnya datar.
"Tolong jaga kakak saya dengan baik, dia sudah lama menderita dan juga sudah lama menjadi orang tuaku. Setelah kepergian kedua orang tua kami, tolong, abang jaga dia dan jangan biarkan dia bersedih apa lagi terluka. Aku tahu, abang sangat mencintai kakak saya. Maka dari itu saya ingin abang menjaganya" ucap Xaqer yang mengatakan nya sambil berkaca-kaca dan dia menunduk memohon pada Varo.
"Hmm" jawab Varo dengan deheman saja. Sepertinya dia sudah terlanjur kecewa dan juga sakit hati atas pembicaraan kakak beradik itu.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Varo pada Viera. Dia adalah pria yang bisa saja melakukan apa saja yang menurut fikiran nya benar. Karena Varo seperti pria yang tidak memiliki hati, hanya bisa terobsesi akan suatu yang menarik dimata dan fikiran nya saja.
"Apa abang bisa berjanji?" tanya Xaqer yang menatap kearah Varo.
"Kita lihat saja nanti, saya tidak berjanji" jawab Varo yang mengatakan nya sangat datar pada Xaqer.
"Jika, abang tidak bisa melakukan apa yang saya katakan dan tidak berjanji, abang jangan lanjutkan. Karena saya tidak rela jika abang mampermainkan perasaan dan juga menyakiti hatinya" ucap Xaqer yang memberanikan diri untuk menatap wajah Varo.
"Syukurlah jika abang berjanji, saya akan menikahkan kalian juga tenang. Karena saya sebagai wali kakak saya" ucap Xaqer yang menatap Varo dengan tatapan berkaca-kaca.
Mereka sudah langsung bersiap-siap, karena penghulu dan Viera sudah siap. Mereka akan melangsungkan akad nikah sekarang juga.
"Apa mempelai sudah siap dan walinya juga?" tanya Pak penghulu menatap semua orang yang sudah hadir disana.
"Siap" jawab Varo dan Xaqer hanya mengangguk saja.
"Mau anda sendiri yang menikahkan atau diwakilkan pada saya?" tanya Pak penghulu lagi pada Xaqer.
"Saya saja Pak, saya ingin menikahkan kakak saya sendiri" jawab Xaqer dengan tegas dan dia menatap wajah Viera yang terlihat sangat tegang.
"Baiklah, silahkan. Apa anda sudah siap Tuan Muda dan Nona?" tanya Pak penghulu pada kedua mempelai.
__ADS_1
"Sudah" jawab keduanya dengan tegas.
'Bismillah Ya Allah, semoga keputusan ku ini tidak salah. Ridhoi pernikahan kami Ya Allah, semoga pernikahan kami ini hingga ke Jannah MU kelak. Amiin Ya Robal Alamin' ucap Viera dalam hati dan dia menatap kearah Varo sekilas dan dia melihat jika Varo berbeda dengan Varo yang semalam.
'Kau akan tahu, bagaimana rasanya dipermainkan. Kau sendiri yang telah mengambil keputusan ini, jika sudah masuk. Kau tidak akan bisa keluar dan lepas dariku untuk selamanya, walau kau menyerah sekalipun' ucap Varo dalam hati dan dia memperlihatkan wajah dingin nya.
"Silahkan anda nikahkan mereka nak" ucap Pak penghulu pada Xaqer.
"Bismillahirohmannirohim, saya neikahkan engkau saudara Elvaroz Malik Tomlinson dengan kakak kandung saya yang bernama Xaviera Purnama binti Bapak Permana dengan mahar seperangkat alat sholat dan perhiasan berlian, dibayar tunai" ucap Xaqer yang menjabat tangan Varo.
"Saya terima nikah dan kawin nya Xaviera Purnama binti Bapak Permana dengan mahar tersebut, tunai" jawab Varo dengan sekali tarikan nafas saja.
"Bagaimana para saksi? Sah...." tanya Pak penghulu pada saksi dan semua orang yang hadir disana.
"Sah"
"Sah"
"Sah" ucap semua orang yang ada disana.
"Alhamdulilah Hirrobil Alamin, kalian berdua sudah Sah menjadi suami dan istri. Kalian bisa saling menyematkan cincin pernikahan kalian dan mempelai wanita mencium tangan suaminya, lalu suami mencium kening istrinya" ucap Pak penghulu yang mengucapkan do'a dan memerintahkan untuk mencium tangan dan kening.
"Alhamdulilah, selamat sayang. Kamu sudah menjadi seorang suami, sekarang. Jaga dia dan sayangi dia, semoga pernikahan kalian kekal till Jannah" ucap Oma Lulu yang memeluk cucu kesayangan nya itu dan dia menciumi kening Varo.
Semua orang mengucapkan selamat dan dia langsung bersiap-siap untuk pindah dari rumah. Karena Varo tidak ingin jika keluarganya kelak tahu apa yang akan dia lakukan pada Viera.
"Apa kalian yakin ingin tinggal di apartment saja? Disini masih luas dan kalian bisa tetap tinggal disini" tanya Zahiya pada Varo yang hanya diam lalu mengangguk saja.
"Kalian hati-hati, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk mengabari kami" ucap Oma Lulu yang memeluk cucu dan cucu menantunya.
'Apa yang terjadi padamu Va? Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat? Malah terlihat sangat marah dan kecewa didalam mata kamu, kamu tidak akan bisa membohongi Mimi kamu ini nak, Mimi bisa membaca semua raut wajah kamu yang seperti itu. Itu bukanlah kamu' ucap Zahiya saat menatap wajah dingin dan datar Varo yang sudah bisa dia tebak.
__ADS_1