
"EL, aku nggak mungkin kamu sudah pulang sendiri kan? Aku sedang seperti ini" tanya Ana saat dia diminta untuk masuk kedalam mobil yang sudah ada supirnya oleh Varo.
"Kau pulanglah" ucap Varo yang menutup pintu mobil dan meminta supirnya untuk mengantarkan Ana pulang.
'Sial! Aku sudah sangat senang karena dia sudah sangat perhatian padaku dihadapan istrinya. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Sial-sial!!" umpat batin Ana saat sudah berada didalam mobil.
"Sebaiknya anda jangan berharap banyak pada Tuan Muda Nona. Karena Tuan Muda sudah memiliki istri dan dia begitu mencintainya" ucap supir yang tidak lain adalah Varez sendiri yang menyamar sebagai supir.
"Tutup mulut mu itu! Dasar supir tidak tahu diri, bicara seenaknya saja" ucap Ana yang marah-marah pada supir yang memperingatkan dirinya.
"Saya hanya memberitahu anda Nona. Karena jika anda berbuat kesalahan, bukan hanya anda saja yang akan mendapatkan pelajaran, Melainkan seluruh keluarga anda juga akan mendapatkan nya. Jadi anda berhati-hati lah sebelum bertindak" ucap Varez yang menahan senyuman nya itu.
Ana hanya diam dan mengerucutkan bibirnya kesal. Dia tidak mau mengatakan apa-apa pada supir Varo yang membuatnya semakin kesal saja.
.
Sedangkan Varo tidak menuju unitnya, melainkan menuju unit yang lebih tinggi satu lantai diatasnya. Entah apa yang ada didalam fikiran Varo saat ini.
"Aku harus bisa menenangkan fikiran ku dulu. Jika tidak, aku sendiri yang akan tersiksa" gumam Varo yang sudah masuk kedalam apartment milik Varez.
"Kenapa kau ada disini? Apa kau sedang bertengkar dengan istrimu?" tanya seseorang yang entah sejak kapan ada disana.
Siapa lagi jika bukan Alvarez, bahkan dia sudah sampai lebih dulu dibandingkan dengan Varo. Padahal tadi dia yang mengantarkan Ana pulang kerumahnya.
"Apa aku tidak boleh berada disini? Bukankah ini adalah unit ku yang kau tempati secara gratis" Varo balik bertanya pada Varez.
"Oke, ini memang unit milik kamu. Tapi aku membayarnya setiap bulan, apa kau lupa?" ucap Varez yang membuat Varo tidak bisa berkata-kata lagi saat Varez mengatakan yang sejujurnya.
Varo hanya langsung masuk kedalam kamar sebelah kamar Varez. Tapi Varez langsung mengikutinya kedalam.
"Apa yang sebenarnya ada dalam fikiran kamu sekarang? Mimi bilang, jika kau berubah saat akan menikah kemarin. Apa yang kau fikirkan?" tanya Varez yang membaringkan tubuhnya disamping Varo.
"Tidak ada. Semuanya baik-baik saja" jawab Varo yang masih terlentang dan menutup matanya menggunakan lengan nya sendiri.
"Kau jangan berbohong. Mimi sangat tahu watak dan isi fikiran kamu, jika kau bersikap seperti ini. Sama saja kau menyakiti perasaan nya, apa kau tahu? Setelah kepergian mu dan pernikahan mu yang mendadak itu apa yang terjadi? Mimi dan Pipi sekarang bertengkar hebat dan saling bersitegang. Kau tau apa alasan nya? Yaitu kau, kau yang membuat Mimi dan Pipi renggang dan tidak saling mendukung lagi. Apa ini yang kau inginkan? Apa ini yang membuat mu bahagia dengan keretakan mereka berdua? Jika iya, selamat, karena kau. Sudah melakukan apa yang kau anggap benar itu terjadi" ucap Varez panjang lebar dan dia tidak menatap kearah Varo sama sekali.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Apa kau membual, hanya untuk membuatku mengatakan yang sebenarnya padamu?" tanya Varo yang tidak sepenuhnya mempercayai ucapan Varez.
"Jika kau tidak percaya, kau bisa menghubungi Mimi sekarang. Karena sekarang Mimi sedang berada dimarkas dan Pipi berada didalam mainson Opa Zayn. Mereka berdua melakukan itu hanya untuk menenangkan fikiran dan tidak diketahui oleh Oma Lulu dan Opa Devon" jawab Varez dengan memberikan ponselnya pada Varo.
Varo tidak ingin jika pernikahan mereka yang sudah belasan tahun, bahkan puluhan tahun harus kandas hanya karena dirinya. Dia tidak ingin membuat mereka seperti itu, dan akhirnya mau menceritakan semuanya pada Varez tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi darinya.
Tanpa disadari oleh Varo, ternyata Varez sudah menghubungi Zahiya dan David yang hanya alasan saja untuk bisa menaklukan seorang Elvaroz.
"Apa kau sudah lebih tenang? Sebaiknya kau tanyakan dulu padanya supaya kau tahu alasan nya dan kau bisa menyaring apa yang dia katakan. Jika alasan nya masuk akal, bisa ditoleransi" ucap Varez yang malah mengatakan nya dengan sedikit menggoda pada Varo.
"Bisakah kau ini serius prince? Kau ini membuatku semakin kesal saja berada disini dengan mu" ucap Varo yang segera bangkit dari berbaringnya untuk pergi dari apartment yang ditempati oleh Varez.
"Kau jangan bersikap kasar lagi padanya. Apa lagi melukai dirimu sendiri, ingat itu!" teriak Varez, karena Varo sudah berada diluar apartment nya.
"Mi, rencana Mimi emang the best" ucap Varez yang meletakan ponselnya ditelinganya.
"Kau pantau terus adikmu itu bang, karena dia bisa saja melakukan sesuatu yang berbahaya uantuk dirinya sendiri" ucap Zahiya yang memperingati Varez suapaya terus memantau adiknya yang satu itu.
"Siap Mi, apa sih yang tidak untuk Mimi ku yang cantik dan sexy ini" ucap Varez yang mengedipkan sebelah matanya menggoda Zahiya. Karena sekarang sedang melakukan panggilan video dan disebelahnya ada David.
"Dia itu Ibu ku juga Pi. Sudahlah, aku mau istirahat dan Assalamualaikum" ucap Varez yang memutuskan sambungan video call mereka.
"Dasar anak durhakim! Main mati-matikan saja panggilan nya" gerutu David yang menatap layar ponselnya menggelap.
"Sayang, benarkah dia itu seorang Mafia? Kenapa sikapnya seperti seorang Casanova?" tanya David yang masih saja menggerutu sambil memberikan ponsel milik Zahiya.
Sedangkan Zahiya hanya diam saja. Karena dia tidak ingin jika kebucinan suaminya ini semakin membuatnya pusing.
.
Sedangkan Varez sedang menghela nafasnya setelah memutuskan panggilan video nya dengan kedua orang tuanya.
"Jika difikir-fikir, mana ada mereka berdua renggang. Apa lagi berniat pisah, yang ada kebucinan Pipi David sangat diluar nalar, malah membuatku mual" gumam Varez yang bergidik sendiri saat mengingat kedua orang tuanya, terutama Pipi David.
Apa lagi sang Pipi, yang memang selalu bucin sejak dulu hingga sekarang. Tapi dia sangat bersyukur bisa berada ditengah-tengah keluarga mereka, bahkan namanya saja sekarang memyandang nama Tomlinson juga.
__ADS_1
.
Berbeda dengan Varo yang tidak langsung masuk kedalam apartment nya. Dia malah mengemudikan mobilnya menuju markas untuk menyalurkan semua kemarahan dan juga kekecewaan nya.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Xa, kenapa?" ucap Varo yang memukul-mukul stir mobilnya hingga lukanya berdarah kembali.
Saat berada didalam perjalanan dia dihadang oleh beberapa mobil yang mengejarnya dengan menodongkan senjata mereka.
Varo tidak tidak tinggal diam dia semakin kencang mengemudikan mobilnya, hingga menuju tempat yang sangat sepi dia bersembunyi dibalik pohon besar.
"Sial! Kenapa mereka tiba-tiba menyerangku? Apa mereka adalah para klan Varez dan Mimi? Kenapa malah menyerangku" gumam Varo melihat semua orang yang menyerangnya sudah turun dari mobil.
Mereka berjumblah kurang lebih ada duabelas orang disana. Sebagian adalah penembak jitu, Varo baru sadar jika dia tidak membawa ponsel, apa lagi senjata.
Dia memutar otak untuk bisa membuat mereka semua takluk dan bisa dia kalahkan dalam sekejap saja. Dia melihat salah seorang dari mereka datang menghampirinya membawa laras panjang.
Varo membuatnya tidak sadarkan diri dan dia mengambil senjatanya. Dia naik keatas pohon dan membidik satu persatu orang-orang yang menyerangnya tanpa diketahui.
"Sial! Dimana dia bersembunyi?" tanya salah seorang yang sedang mencari Varo.
"Dia tidak ada dimana-mana. Bahkan anggota kita sudah te*as sebagian, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorangnya lagi setelah menjawab pertanyaan darinya.
"Cari dia, jika dia tidak ditemukan. Maka dia yang akan membuat kita dalam masalah besar" ucapnya lagi yang membuat Varo merasa bingung.
"Iya, kita cari dia" jawab mereka semua yang segera berpencar untuk mencari Varo, yang mereka anggap Varez.
Sedangkan Varo menatap bingung pada mereka yang berpencar. Lalu dia masih diam dan ingin mencari celah untuk bisa melumpuhkan mereka.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa.... Sial, aku menggunakan mobil Varez yang biasa digunakan untuk melakukan misi. Pantas saja mereka menyerang tanpa ampun, mereka salah sasaran" gumam Varo yang melihat kearah mobil yang dia bawa.
"Aku harus membuat mereka musnah semua. Dengan begitu, aku akan bisa bebas. Mungkin" gumamnya lagi sambil memeriksa peluru yang tersisa didalam senjatanya.
"Masih cukup jika tidak meleset, jika meleset. Maka kondisi akan berbalik" gumamnya yang segera mengarahkan senjatanya pada mereka satu persatu hingga tersisa dua orang saja.
Tembakan Varo meleset dan akhirnya dia diketahui oleh mereka. Membuat mereka bingung, karena ini bukan orang yang sedang dia cari. Walau dalam kegelapan sekalipun, mereka bisa menyadari dari aromanya saja.
__ADS_1
Varo hanya diam saja saat mereka juga ikut diam. Mereka langsung menyerang Varo tanpa ampun, bukan Varo namanya jika mudah dikalahkan. Dia langsung menyerang pada titik yang mematikan. Mereka langsung tidak bisa apa-apa lagi sekarang.