Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Kutub Utara


__ADS_3

"Kenapa kita memiliki putra yang seperti itu Pa?" tanya Oma Lulu pada Opa Devon.


"Aku sendiri tidak tahu Ma, dia itu sudah tua dan bahkan akan memiliki cucu. Tapi kelakuan nya seperti anak-anak" jawab Opa Devon yang menghela nafasnya dan merasa bingung sendiri.


"Opa, Oma. Kalian itu memang tidak salah dan Pipi David memang putra kalian berdua. Kami sebagai anak-anaknya saja bingung untuk mengakuinya atau tidak mengakuinya" ucap Varaz yang langsung mendapatkan gelepakan dari Varez yang berada disampingnya.


"Kau ini. Dia memang Pipi kita semua, walau memang sulit diakui jika sudah bersikap seperti itu" ucap Varez yang sama saja menistakan Ayah nya sendiri.


"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi membahas Pipi kalian? Sekarang kita fikirkan dan susun rencana untuk bisa melindungi Variz dan wanita itu dari orang-orang yang mengincarnya. Apa lagi mereka tahu, jika dia sudah memiliki keturunan dari ketua mereka" ucap Zahiya yang melerai perdebatan anak-anaknya.


"Mimi benar. Apa kalian semua tidak bisa serius dalam menyikapi masalah? Aku sudah meminta Ferry untuk mencari tahu semuanya dan segera melaporkan nya pada kita. Dan untukmu bang, suruh Marcella untuk masuk kedalam anggota mereka. Karena hanya dia yang bisa melakukan itu dibandingkan dengan Leonard yang lamban" ucap Varo yang langsung pergi sambil menggandeng tangan Viera pergi dari sana.


"Apa dia bilang? Jadi dia sudah mulai bergerak tanpa berdiakusi lagi? His... Dasar kutub utara" maki Varez yang merasa kalah cepat dengan otak adiknya yang sangat licik itu.


"Makanya bang, punya otak itu yang besar dan jangan memelihara otak nyamuk" mucap Varaz yang langsung ngacir meninggalkan abangnya yang akan marah padanya itu.


"Haha haha, sabar bang. Walau memang kenyataan, setidaknya abang memiliki otak juga. Huft" ucap Varuz yang menertawakan ucapan Varaz dan menahan tawanya dihadapan Varez yang menatapnya dengan tajam.


"Sorry-sorry bang. Canda doang sih, jan dianggap serius lah. Hehehe, peace" ucap Varuz sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.


"Becanda loe gk lucu" ucap Varez yang menjitak kepala adik bungsunya itu lumayan keras. Membuat Varuz mengaduh kesakitan akan jitakan abangnya.


Zahiya, Oma Lulu dan Opa Devon hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah absurd dari anak-anak dan cucu-cucu mereka itu.

__ADS_1


"Za, apa wanita itu akan tetap tinggal disini? Mama khawatir jika dia harus pergi dari sini dan akan mendapatkan masalah nantinya" tanya Oma Lulu pada Zahiya yang hanya diam saja sejak tadi.


"Dia akan tetap disini Ma. Apa lagi dia memang sudah tidak memiliki siapa-siapa didunia ini, dan kami Zahi dan bang David sudah memutuskan untuk dia tetap stay dan hingga Variz sembuh. Baru kita akan merencanakan apa yang terbaik kedepan nya" jawab Zahiya dengan sangat bijak. Walau kata-katanya sering menusuk dan datar.


"Itu lebih baik sayang. Mama senang mendengarnya, sepertinya dia memang gadis baik-baik dan juga sangat polos. Bahkan dia sangat ketakutan jika melihat kamu. Mama tidak meminta kamu bersikap manis padanya, setidaknya jangan menampilkan wajah dingin kamu ini" ucap Oma Lulu yang mengusap pipi Zahiya yang masih saja cantik diusianya yang sudah menginjak kepala empat itu.


"Maaf Ma, Zahi tidak bisa seperti itu. Beginilah Zahi apa adanya, Mama juga sudah tahu Zahi sejak Zahi kecil dulu" jawab Zahiya yang membuat Oma Lulu membenarkan apa yang dikatakan oleh menantunya ini.


"Kamu benar sayang. Sebaiknya kita biarkan mereka berbicara berdua saja. Mama merasa jika Variz memiliki perasaan padanya" ucap Oma Lulu yang membuat Zahiya mengernyitkan keningnya menatap kearah Oma Lulu.


"Apa kamu tidak tahu itu sayang? Wah, ternyata feeling kamu masih kurang peka akan perasaan seperti itu. Semoga saja kamu tetap mendukung apapun yang akan Variz lakukan, baik atau buruknya. Kita sebagai orang tua harus bisa mengaping saja" ucap Oma Lulu yang langsung diangguki oleh Zahiya.


"Maksud Oma, Variz menyukai wanita itu?" tanya Varez yang malah memperjelas pertanyaan nya pada Oma Lulu.


"Hahaha, sabar bang. Karena apa yang Oma katakan itu benar semua. Ngomong-ngomong, kapan abang mengajak janda cantik incaran abang?" tanya Varuz sambil menaik-turunkan alisnya menggoda Varez.


"Dasar ember bocor loe! Kenapa pake diperjelas lagi. Awas loe, gue pites jadi mendoan loe" ucap Varez langsung mengejar Varuz yang sudah berlari darinya.


"Masya Allah, apa mereka itu pria-pria dewasa atau anak usia lima tahun yang sedang bermain kejar-kejaran?" gumaman Oma Lulu sambil menggelengkan kepalanya.


"Mereka memang sudah dewasa sayang. Tapi mereka memang seperti anak-anak" jawab Opa Devon yang merangkul bahu Oma Lulu.


"Zahi permisi dulu Ma, Pa" ucap Zahiya pada kedua mertuanya itu.

__ADS_1


Oma Lulu dan Opa Devon hanya mengangguk. Mereka berdua menuju halaman belakang rumah untuk duduk-duduk santai disana.


.


Sedangkan didalam kamar Varo dan Viera. Mereka sedang bersiap-siap akan pergi bekerja. Dimana Viera akan kembali bekerja di hotel milik suaminya dan dia tidak ingin jika semua orang tahu, jika dia sudah menikah dengan Big Bos mereka.


"Bang, kenapa belum memakai dasi?" tanya Viera yang sudah siap dan akan segera pergi dari sana. Tapi malah melihat Varo hanya duduk dengan pakaian nya tanpa dasi dan jas nya yang mahal.


"Pakaian" jawab Varo yang meminta Viera memakaikan dasi untuknya.


"Dasar manja. Bukankah abang sudah terbiasa dengan dasi-dasi ini? Kenapa malah minta dipasangkan segala" gerutu Viera yang mengambil salah satu dasi yang berjejer rapih didalam laci.


"Jika sudah memiliki istri, kenapa harus memakainya sendiri?" tanya Varo dengan santainya dan dia bangkit berdiri supaya Viera memasangkan dasi pada lehernya.


"Ya-ya-ya.." jawab Viera memutarkan bola matanya malas. Dia mulai memasangkan dasi pada leher Varo.


"Abang iihhh, kenapa harus seperti ini sih?" tanya Viera saat Varo mendekatkan tubuh Viera padanya. Membuat Viera tidak leluasa memasangkan dasi pada Varo.


"Biarkan seperti ini. Pasangkan saja" jawab Varo yang membuat Viera merasa kesal juga senang akan sikap Varo padanya.


Kesal, karena Varo selalu saja ingin memeluknya dalam hal apapun. Senang, karena Varo begitu mencintainya dan selalu menomor satukan dirinya dan akan mendengarkan apa yang dia inginkan.


"Sudah selesai. Sekarang, lepaskan aku. Aku harus bekerja dan tidak mau terlambat, yang ada nanti Big Bos akan marah padaku" ucap Viera yang melepaskan belitan tangan Varo pada pinggangnya.

__ADS_1


"Jika ada yang berani macam-macam padamu, dia akan mendapatkan pelajaran. Jadi biarkan saja kamu terlambat, karena aku saja masih berada disini dengan mu" ucap Varo membuat Viera merasa jengah dengan kebucinan suaminya dingin nya ini.


__ADS_2