Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Merasa segan


__ADS_3

'Ya Allah, hamba tahu hamba ini sedang menumpang pada keluarga ini dan hamba juga bukan siapa-siapa bagi mereka. Hamba ingin bekerja juga disini, bukan untuk enak-enakan dan hanya berdiam diri saja. Tapi, hambaMu ini tidak berani mengatakan nya langsung. Apa lagi jika melihat tatapan tidak suka dari Ibunya Mas Variz, hamba harus bagaimana Ya Allah?' ucap Mia dalam hati, dia benar-benar sangat ketakutan dan juga panik. Membuat tangan nya gemetar dan menjatuhkan sendok yang dia pegang.


"Apa kamu baik-baik saja nak?" tanya Oma Lulu yang menatap kearah Mia dengan tatapan teduhnya.


"Sa-saya baik-baik saja Nyonya. Maaf" jawab Mia sambil menunduk dan tidak terasa air matanya menetes dipipinya.


"Loh, kenapa menangis?" tanya Oma Lulu menghampiri Mia dan beliau memegang bahu Mia.


Untung saja mereka semua sudah selesai sarapan. Jadi tidak terlalu mengganggu acara sarapan mereka saat ini.


"Sa-saya tidak apa-apa Nyonya. Hanya saja kaki saya terbentur kaki kursi" jawab Mia terbata dan dia masih menundukan kepalanya dan air matanya tidak bisa dia hentikan.


"Apa kamu terluka?" tanya Zahiya yang menghampiri Mia untuk pertama kalinya beliau mengatakan dengan lembut padanya.


"Tidak Nyonya, saya tidak terluka. Saya baik-baik saja" jawab Mia yang masih setia menunduk.


"Ya sudah jika kamu baik-baik saja. Kamu istirahat saja, biarkan bayi kamu bersama kami dulu. Kebetulan rumah kami ini sudah lama tidak ada suara bayi" ucap Oma Lulu mengusap punggung Mia yang sedikit bergetar.


"Terimakasih Nyonya" ucap Mia mengusap air matanya dan dia mengangguk saja saat Oma Lulu mengatakan itu padanya.

__ADS_1


"Jangan panggil Nyonya. Panggil Oma saja seperti yang lain, karena Oma tidak suka jika kamu memanggil Oma seperti itu. Kamu adalah tamu kami, jadi jangan sungkan" ucap Oma Lulu yang tidak ingin dipanggil formal seperti itu oleh Mia.


Oma Lulu juga memegang tangan Mia untuk meyakinkan nya dan mengangkat dagu Mia untuk menatap kearahnya.


"Jadi, ingat itu baik-baik sayang" ucap Oma Lulu lagi dan langsung dijawab anggukan oleh Mia, dia juga sedikit tersenyum dan merasa jika dia berada dekat dengan keluarganya.


"Terimakasih Oma, saya akan mengingatnya baik-baik" jawab Mia, membuat semua orang yang ada disana sangat mengagumi sosok Oma Lulu yang memang sangat baik pada siapa saja.


Opa Devon tidak henti-hentinya tersenyum dan sangat bangga pada istrinya ini. Sejak dulu hingga sekarang memang selalu membuatnya bangga. Apa lagi sifat keibuan nya itu membuat Opa Devon berkali-kali lipat mencintainya dari dulu hingga sekarang dan selamanya.


"Jangan segan-segan pada kami. Kamu jangan merasa jika tidak diterima disini dan dikeluarga kami ini. Jika menantu saya memang seperti itu, jarang bicara dan datar pastinya. Tapi dia sangat baik, Oma bisa jamin itu semua" ucap Oma Lulu lagi sambil mengusap kepala Mia yang tertutup hijab syar'i nya.


"Iya Oma, terimakasih banyak. Boleh saya memeluk Oma? Maaf jika saya lancang" tanya Mia yang menunduk lagi dan tidak berani menatap kearah Oma Lulu.


"Oma senang kamu mau dipeluk Oma. Karena Oma tidak memiliki cucu perempuan disini, kamu mau kan menjadi cucu Oma?" tanya Oma Lulu dan itu membuat semua orang menatap kearah Mia.


"Terima saja nak, karena istri saya ini akan selalu memaksanya jika belum mendapatkan apa yang dia inginkan" ucap Opa Devon mendekat kearah mereka berdua dan memeluk bahu Oma Lulu.


"Kau ini, jangan dengarkan ocehan orang tua ini sayang" ucap Oma Lulu malah menyikut perut Opa Devon dan meledek Opa Devon.

__ADS_1


"Dia memang Papa ku" gumam Pipi David yang membuat anak-anaknya menggelengkan kepalanya saja.


"Bang, apa seluruh keluarga abang memang seperti itu?" tanya Viera berbisik mengatakan nya pada Varo.


"Yah, walau aku tidak mau mengakuinya. Mereka memang keluarga ku" jawab Varo dengan malas, tapi dalam hatinya dia merasa sangat bahagia dan senang bisa menjadi salah satu keluarga yang penuh kasih sayang.


"Tapi aku suka, mereka terlihat saling menyayangi dan sangat dekat dengan siapa saja" ucap Viera lagi sambil memeluk lengan Varo yang duduk disampingnya.


Saat semua orang sedang berkumpul dan menatap kearah Mia, Oma Lulu dan Opa Devon. Leonard datang menghampiri mereka, lebih tepatnya kearah Varez untuk memberikan kabar jika Variz sudah sadar dan kondisinya sudah lebih baik. Semua orang yang mendengarnya langsung menuju ruangan rawat Variz.


Mia yang tidak tahu apa-apa hanya menatap bingung dan dia hanya diam saja. Tidak mengikuti semua orang membuat Viera merasa bingung akan sikap Mia yang terlihat sangat syok mendengar Variz terluka dan baru sadar.


"Apa anda baik-baik saja? Kenapa tidak ikut dengan kami?" tanya Viera yang menghampiri Mia setelah meminta izin pada Varo.


"Apa Mas Variz baik-baik saja? Ini semua pasti karena saya yang sudah membuatnya terluka seperti itu. Karena ini bukan yang pertama terjadi seperti ini pada orang yang menolong dan membantu saya" tanya Mia yang sudah meneteskan air matanya dan dia merasa sangat bersalah pada Varez. Karena dia Variz terluka dan mungkin saja nyawanya dalam bahaya.


"Anda tenang dulu, karena semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Siapa tahu ini semua tidak seperti yang anda katakan barusan. Mungkin saja Mas Variz memang terluka karena hal lain. Jadi anda tenangkan diri anda dan jangan berfikiran macam-macam. Berdo'a saja semuanya baik-baik saja" ucap Viera memeluk Mia yang sedang menangis. Untung saja bayinya tidak rewel, jadi saat dia sedang sedih seperti ini bayinya tidak ikut sedih juga.


Mia hanya menangis dalam pelukan Viera. Entah kenapa Mia merasa tenang dan nyaman dalam pelukan Viera. Viera juga merasa jika wanita dalam pelukan nya ini masih sangat muda dan juga sangat rapuh. Dia pernah merasakan apa yang Mia rasakan saat ini, saat kedua orang tuanya harus pergi meninggalkan nya dengan adik satu-satunya.

__ADS_1


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku dengar, keluarga ini memiliki dokter pribadi yang handle dan alat-alat medis yang lengkap juga canggih. Jadi anda jangan khawatir, saya yakin jika semuanya akan baik-baik saja" ucap Viera yang mengusap-ngusap punggung Mia dengan lembut dan menenangkan nya.


Ternyata Varo tidak jadi mengikuti semua keluarganya. Dia hanya diam menatap kearah Viera yang sedang menenangkan wanita dalam pelukan nya. Varo merasa jika Viera sangat mirip dengan Oma Lulu yang begitu perhatian pada semua orang, dan juga tidak membeda-bedakan seseorang.


__ADS_2