
'Kau memang sangat baik honey, tidak salah aku memilihmu dan menyakiti diri ku sendiri untuk bisa memiliki kamu seumur hidup ku. Bahkan aku sudah menyingkirkan kerikil tajam yang akan merusak hubungan kita ini. Aku bahkan bisa menjadi malaikat maut untukmu dan menjadi Iblis untuk orang-orang yang akan merusak hubungan kita' ucap Varo dalam hati sambil terus menatap kearah dua wanita yang masih berpelukan bersama.
"Sudah menangisnya, lebih baik kita melihat langsung keadaan nya seperti apa sekarang. Bukankah tadi dia bilang, jika Mas Variz sudah sadar? Ayo kita kesana" ucap Viera yang mengusap air mata Mia dengan lembut.
Mia hanya mengangguk dan dia berjalan disamping Viera menuju ruangan yang menjadi ruang rawat Variz.
"Eh, abang belum kesana? Kenapa?" tanya Viera yang melihat Varo berdiri menatapnya dengan posisi yang sangat keren sekali.
Varo tidak menjawab pertanyaan dari Viera, dia malah langsung merangkul Viera dan terjadilah Mia berada dibelakang mereka berdua yang terlihat sangat mesra.
"Bagaimana keadaan Variz Pi?" tanya Varo saat sudah sampai didepan ruangan rawat Variz.
"Dia sudah baik-baik saja dan bahkan dia sudah banyak berbicara" jawab David dengan tersenyum tipis saat mengatakan nya.
Varo langsung masuk sambil menggenggam tangan Viera. Dia bisa melihat jika Variz memang tidak kenapa-kenapa. Hanya luka tembak yang dalam saja.
"Bisa tinggalkan kami berdua saja?" tanya Variz saat melihat Mia berada dibalik punggung Varo.
Mendengar itu, semua orang mengernyitkan keningnya menatap kearah Variz, pasalnya mereka tidak melihat siapa-siapa lagi selain mereka saja. Lalu Zahiya bertanya padanya.
"Siapa yang kau maksud Riz? Disini hanya ada Mimi, Pipi dan saudara kamu saja yang... " belum selesai Zahiya melanjutkan kata-katanya Variz menunjuk kearah Mia yang menunduk sangat dalam.
"Baiklah, kami akan keluar. Jika butuh apa-apa, panggil Mimi saja, Mimi akan selalu ada untuk kamu" ucap Zahiya yang segera keluar dari dalam ruangan rawat Variz diikuti oleh anak-anaknya yang lain.
"Kenapa kamu hanya berdiri saja disana? Kemarikan. Apa kamu tidak ingin memaksakan keadaan ku?" tanya Variz yang meminta Mia untuk mendekat kearahnya.
"Maafkan aku Mas, ini semua pasti karena aku. Mas sampe kayak gini juga pasti gara-gara aku, karena Mas nolongin aku. Jadi Mas terluka parah seperti sekarang ini. Maafkan aku Mas" ucap Mia masih menunduk dan tidak berani menatap kearah Variz.
__ADS_1
"Hey, ini sama sekali bukan karena kamu. Aku memang terluka, tapi bukan karena kamu. Aku terluka seperti ini karena suatu hal, jadi jangan pernah berfikiran jika ini semua salah kamu" ucap Variz yang mengatakan nya dengan perlahan dan dia masih merasakan sakit pada dadanya yang habis di operasi.
"Apa terasa sakit? Biar aku panggilkan dokter dulu" ucap Mia yang akan pergi, tapi ditahan oleh Variz.
"Tunggu saja disini. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Variz yang menatap wajah Mia dengan lekat.
"Mas ingin menanyakan apa?" tanya Mia dengan melepaskan tangan Variz dari tangan nya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyentuh kamu. Aku hanya ingin bertanya tentang putri kecil kamu itu. Apa dia baik-baik saja dan tidur dengan nyenyak?" tanya Variz yang mencoba untuk duduk diatas ranjangnya.
"Astagfirullah, aku sampai lupa. Dia bersama dengan pelayan yang ada disini, aku akan segera kembali" ucap Mia baru mengingat jika bayinya yang dia tiitipkan pada pelayan dan belum dia beri ASI.
"Dasar gadis aneh. Eh, dia bukan gadis lagi, tapi seorang janda" gumam Variz yang mengingat jika pria yang menjadi suami dari Mia sudah tiada oleh Varo.
Sebelum dia tidak sadarkan diri sempat melihat Varo membunuh pria yang bersetatus suami Mia. Tak berapa lama Mia kembali dengan bayinya.
.
Sedangkan diluar ruangan, seluruh keluarga sedang berkumpul dan memikirkan apa yang akan mereka lakukan dan menyembunyikan identitas Variz sebagai penyelamat dari istri ketua mereka yang sudah terbunuh. Juga menyembunyikan supaya mereka tidak tahu bahwa mereka lah yang sudah melakukan itu.
"Mi, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Mereka pasti tahu jika ketua mereka sudah tiada" tanya Varaz saat mengingat kejadian semalam.
"Kamu tidak perlu khawatir boy, karena semuanya sudah dibereskan oleh abang mu ini" ucap David pada Varaz sambil menepuk bahu Varez.
"Wow!! Siapa yang sangka, jika abangku yang konyol ini bisa sangat diandalkan" teriak Varuz dengan sangat heboh saat mengatakan nya pada Varez.
"Kau ini" ucap Varez yang merangkul bahu Varuz dan memegangi kepalanya lalu menjitakinya dengan gemas.
__ADS_1
"Ampun bang, kenapa kau suka sekali dengan kepalaku ini?" tanya Varuz yang sudah dilepaskan oleh Varez.
"Kalian ini selalu saja seperti anak-anak. Tapi kalian harus bisa selalu kompak seperti ini terus hingga nanti. Jangan pernah renggang dan menjadi jauh" ucap David menasehati pada kedua anak-anaknya.
"Tentu saja Pi. Kami akan selalu kompak" jawab Varaz yang merangkul Varo dan mereka berempat berpelukan bersama.
"Lepaskan! Kenapa kalian suka sekali seperti teletubbies" ucap Varo yang beralih merangkul Viera.
"Halah, bilang saja jika kau ini sudah bosan berpelukan dengan kami semua karena sudah memiliki pelukan lain. Ck, sok tidak mau mengakuinya" ucap Varez yang melemparkan sesuatu pada Varo.
"Diamlah, atau kau mau merasakan jarum ku ini?" tanya Varo yang memperlihatkan sebuah jarum pada Varez.
"Wow, kau mau membunuhku rupanya. Jika begitu, lebih baik gue mundur teratur" ucap Varez segera mengangkat tangan nya dan dia mundur menjauhi Varo.
"Hahaha, ini hanya jarum biasa dan ini juga hanya jarum akupuntur. Bukan jarum beracun" ucap Varo yang tertawa puas saat melihat wajah pucat pasi dari Varez.
"His, abang ini bikin aku spot jantung saja. Aku kira abang memang akan melakukan itu pada saudara abang sendiri" gumam Viera yang masih bisa didengar oleh Varo.
"Tentu saja ini bukan jarum yang sering aku gunakan melumpuhkan lawan. Ini jarum biasa diantara beberapa jarum koleksi ku ini honey. Jadi kamu tenang saja" jawab Varo sambil berbisik dan menggigit kecil telinganya Viera.
"Woee,, ini masih pagi dan juga didepan kami semua. Kenapa kau malah mesyum didepan kami hah!" teriak Varaz langsung melemparkan sandal yang sedang dia gunakan.
"Iri? Bilang bro" ucap Varo yang malah menjulurkan lidahnya meledek Varaz.
"Masya Allah, kenapa kelakuan anak-anak kamu itu tidak ada yang waras Vid? Mama sampe bingung dengan semua tingkah mereka" tanya Oma Lulu yang hanya bisa menghela nafasnya dan mengusap-ngusap dadanya.
"Itu berarti memang asli keturunan Devon Tomlinson. Hahaha" jawab David yang malah tertawa terbahak-bahak saat mengatakan nya lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang bersama-sama menghela nafasnya.
__ADS_1