Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Saling menyakiti


__ADS_3

Viera hanya bisa terisak dalam diam. Bahkan hingga malam dan dia tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Viera hanya bisa mengadukan nya pada sang pencipta. Berkeluh kesah hanya kepada NYA.


Begitu juga dengan Varo, dia hanya sibuk dengan pekerjaan nya yang entah sampai kapan akan selesai. Tepat saat jam makan malam dia kedatangan tamu, seseorang yang beberapa kali ingin memilikinya.


"Hai EL, bagaimana kabar kamu?" tanya seorang wanita cantik dan berparas menawan itu datang menghampiri.


Jika ditanya, kenapa dia diizinkan masuk oleh security atau orang-orang kepercayaan Varo maupun Varez. Karena jawaban nya, Varo yang mengizinkan dia bisa keluar masuk dengan bebas.


"Bisakah jika kau masuk ketuk pintu dulu? Apa kau tidak bisa melakukan itu?" tanya Varo yang masih sibuk dengan berkas-berkas didepan nya.


"Maaf, aku kebiasaan. Habis kamu itu selalu diam jika aku berkata atau melakukan apa yang kamu inginkan tadi" ucap wanita cantik tersebut dan dia langsung duduk dihadapan Varo.


"Oh Iya EL, kita makan malam bareng yuk. Aku sengaja membawakan makanan untuk kita, mau ya?" ucap wanita cantik tersebut yang memperlihatkan paper bag yang ada ditangan nya.


"Kau saja makan sendiri, aku sudah makan" jawab Varo yang tidak mengalihkan pandangan nya sama sekali.


"Yah, aku terlambat deh. Ya sudahlah, aku makan sendiri saja. Eh, tapi aku bisa main ke apartment kamu kan? Soalnya aku ingin tahu apartment kamu dimana. Boleh ya?" tanya wanita cantik tersebut dengan memperlihatkan senyuman dibibirnya.


Varo hanya diam saja dan tidak menjawab apapun yang dikatakan wanita itu. Dia adalah wanita dari masa lalu Varo, lebih tepatnya adalah wanita yang selalu ingin bisa berteman dan mungkin sudah menyukainya sejak dulu.


Dia bernama Anastasia Mendez, dia adalah wanita yang dulu sangat ingin dekat dengan Varo saat masa sekolah, tapi tidak berani. Karena Varo sulit sekali disentuh, tapi lambat laun, dia bisa didekati. Walau tetap dingin dan kaku, karena memang itulah Elvaroz Malik Tomlinson. Pria dingin dan kaku yang penuh dengan sejuta pesona dalam dirinya.


Varo hanya diam saja saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Ana yang kembali duduk diatas sofa untuk makan sendiri. Tapi saat akan makan, malah tidak jadi. Karena dia melihat Varo sudah bersiap untuk pergi.


"Eh, kamu mau kemana? Baru aku mau makan" ucap Ana yang meletakan kembali makanan nya dan mengikuti Varo.


"Pulang" jawab Varo yang menghentikan langkahnya. Dia berfikir jika dia membawa wanita lain, Viera akan lebih tersiksa lagi.


"Baiklah, aku juga akan pulang saja. Ini kamu bawa saja, biar buat kamu" ucap Ana yang menyerahkan paper bag pada Varo.


"Kau bawa saja, dan kau ikut dengan ku" ucap Varo yang langsung membuat Ana mengerjapkan matanya dan menatap berbinar pada Varo.


"Kamu serius? Kamu ngajakin aku untuk mampir ke apartment kamu EL?" tanya Ana yang memastikan jika dia tidak salah dengar.

__ADS_1


"Hmm, cepatlah" ucap Varo yang berjalan lebih dulu keluar dari ruangan nya diikuti oleh Ana dibelakangnya.


'Akhirnya, dia mau ngajakin aku. Semoga saja aku bisa terus dekat dengan nya seperti ini. Mama, Papa aku sangat senang' teriak Ana dalam hati sambil terus tersenyum sangat lebar.


Mereka masuk kedalam mobil yang sama, melainkan mobil milik Varo. Varo sengaja mengemudikan nya sendiri, dia ingin melihat bagaimana menderitanya Viera.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima menit, mereka berdua sudah sampai didepan unit apartment miliknya. Varo segera masuk dan dia melihat Viera yang mematung saat melihatnya.


Viera merasa kaget saat pintu apartment nya ada yang membuka dari luar dan ini masih pukul delapan malam. Dia segera berlari kearah pintu dan melihat Varo sedang menggenggam tangan seorang wanita.


"Bang, sudah pulang?" tanya Viera yang sudah merubah panggilan nya pada Varo. Dia tidak mungkin memanggil Varo dengan sebutan loe gue terus, itu tidak sopan. Karena Varo adalah suaminya yang harus selalu dia hormati.


"Hmm" jawab Varo yang menggandeng tangan Ana untuk masuk kedalam kamarnya.


"Bang, dia siapa? Kenapa abang membawa wanita masuk?" tanya Viera dengan perlahan dan dia menatap wajah datar Varo.


"Kenapa? Apa kau keberatan?" tanya Varo dengan tatapan sinisnya pada Viera.


"Nggak bang, abang sudah menikah dan itu tidak baik jika abang mengajak seorang wanita yang bukan mahrom abang berduaan didalam kamar" ucap Viera yang menunduk dan dia tidak berani menatap wajah Varo yang sudah mengeras.


"EL, dia istri kamu? Kenapa kamu berlaku kasar padanya? Dan apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Ana yang menatap kearah Varo.


"Lebih baik kau diam dan jangan banyak bertanya" ucap Varo yang segera pergi meninggalkan Ana yang berdiri mematung.


"Maksudnya apa dia bersikap seperti ini? Apa dia dijodohkan oleh orang tuanya dengan wanita itu? Atau mereka sedang bertengkar? Ah, masa bodo. Aku nggak perduli, aku hanya ingin membuat Varo bisa dekat dengan ku dan menjadi milik ku sepenuhnya. Kapan lagi bisa dekat seperti ini dengan nya" gumam Ana yang sudah sangat bersemangat untuk merebut Varo dari istrinya.


"Lihat saja EL, aku akan membuat kamu merasa nyaman dan bergantung padaku. Dengan begitu kamu akan selalu ada untuk aku juga menjadi milik ku selamanya, dan kamu menceraikan wanita itu. Iya sih, tidak bisa dipungkiri, jika dia memang sangat cantik walau tanpa riasan sedikitpun juga. Tapi aku akan membuat kamu selalu ada untuk aku" gumamnya yang menatap bingung saat melihat seluruh isi kamar Varo yang terkesan kamar pria lajang pada umumnya.


"Kau keluarlah, aku akan menyusulnya nanti" ucap Varo yang meminta Ana untuk keluar dari kamarnya.


"Oke, aku juga mau berkenalan dengan istri kamu itu" ucap Ana yang ingin pergi tapi tidak jadi saat Varo mengatakan sesuatu padanya.


"Jangan pernah mencari masalah dengan nya. Dan jangan macam-macam padanya, jika itu terjadi. Aku tidak perduli jika kau itu adalah seorang wanita" ucap Varo dengan penuh penekanan disetiap katanya.

__ADS_1


"I... Iya, aku hanya ingin berkenalan saja dengan nya. Siapa tahu aku bisa berteman dengan nya, seperti aku berteman dengan mu" ucap Ana yang segera pergi dari sana. Karena tatapan Varo yang mengintimidasi.


Ana segera keluar dan membenahi pakaian nya yang kusut, dia juga membuat tanda pada lehernya sendiri supaya terlihat jika mereka berdua telah melakukan sesuatu. Rambutnya juga Ana sengaja membasahinya dengan sedikit air mineral yang ada didalam tas nya.


"Maaf, bisa minta tolong ambilkan air minum. Saya haus sekali" ucap Ana pada Viera yang sedang membersihkan meja makan.


"Anda masih punya tangan dan kaki bukan? Kenapa harus meminta pada saya yang sedang bekerja ini" tanya Viera yang membuat Ana kesal.


'Si alan, kenapa dia malah tidak menurut. Awas saja, aku akan membuat kamu dimarahi oleh Varo dan mungkin saja lebih parah' ucap Ana dalam hati dan dia menatap sinis. Dia sengaja mengibaskan rambutnya, supaya Viera bisa melihat tanda merah yang dia buat sendiri.


"Apa kau bisa melihatnya sekarang, aku yakin jika kamu sedang merasa kepanasan" gumamnya yang hanya gumaman saja. Viera tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.


'Sebenarnya kamu ini kenapa bang? Kenapa kamu malah melakukan itu dengan wanita lain? Apa ada yang salah dengan ku, atau aku memiliki kesalahan padamu? Kenapa aku merasa sakit? Bukankah aku tidak memiliki perasaan apapun padanya? Tapi setidaknya jangan membawanya kemari, setidaknya jika ingin melakukan apapun jangan dihadapan mataku ini' ucap Viera dalam hati dan dia sambil memegang dadanya yang terasa berdenyut nyeri.


Ana berjalan kearah Viera dan tidak sengaja dia menyenggol ember berisi air hingga tumpah dan dia terjatuh hingga membentur meja. Viera yang melihatnya merasa kaget dan segera membantunya berdiri.


"Sini saya bantu" ucap Viera yang membantu Ana berdiri dan akan mengobati luka pada kening dan lutut Ana. Tapi Varo melihat dan malah salah faham.


"Apa yang sudah kau lakukan?!" tanya Varo dengan dingin nya pada Viera.


"Gue, emm. Aku nggak melakukan apa-apa, aku justru membantunya" jawab Viera yang segera melepaskan rangkulan nya pada Ana saat Varo mendorongnya.


"Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Varo yang mengatakan pada Ana, tapi matanya menatap kearah Viera.


"Aku baik-baik saja, hanya luka kecil saja. Sungguh" ucap Ana yang sudah tersenyum senang. Walau dia terluka, tapi dia mendapatkan perhatian dari Varo.


"Baiklah, kita kedokter sekarang" ucap Varo yang meminta Ana untuk duduk dulu dan dia mengambil jaket untuk Ana gunakan. Karena pakaian nya basah.


"Kau, akan mendapatkan lebih parah dengan apa yang dia rasakan sekarang!" ucap Varo yang mencengkram kedua pipi Viera dengan kencang.


Viera hanya bisa diam dan matanya berkaca-kaca. Dia menahan rasa sakit pada punggungnya yang membentur ujung meja, karena tadi Varo mendorongnya dengan sekuat tenaganya. Dia ingin melihat apa yang akan Varo lakukan padanya sekarang.


Varo langsung melepaskan cengkraman nya hingga Viera menoleh dan keningnya membentur kursi makan tersebut. Varo tidak kuat jika melihat Viera menangis, dia akan mudah luluh dan merasakan apa yang Viera rasakan sekarang.

__ADS_1


Varo meninggalkan Viera yang masih terduduk dilantai. Dia merangkul bahu Ana untuk pulang. Dia sebenarnya sangat malas jika harus mengantarkan nya pulang. Dan dia menghubungi supirnya untuk mengantarkan Ana pulang dengan selamat.


__ADS_2