
"Kalian salah memilih lawan, walau kalian menyerang ku ataupun bukan. Kalian akan mudah dikalahkan juga" ucap Varo meninggalkan mereka berdua yang sudah tidak berdaya sama sekali.
Varo tidak jadi menuju markas. Dia salah langsung masuk kedalam hutan untuk menenangkan dirinya. Dan menjernihkan fikiran nya yang kusut, memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang.
"Ini adalah tempat yang pas" gumamnya yang sudah duduk diatas rumput sambil menatap kearah langit malam yang sangat gelap, tidak ada bintang satupun disana.
Dia benar-benar menghabiskan waktu berjam-jam lamanya didalam hutan tersebut. Bahkan dia tidak sadar jika dia sudah terlelap diatas rumput.
.
Sedangkan didalam apartment, Viera sedang duduk dibalkon dan melihat kearah jalanan yang ramai lancar diluaran sana.
"Kenapa hidup gue jadi rumit gini? Apa yang pernah gue lakukan, hingga membuat gue jadi kek gini?" gumamnya yang merasa jika hidupnya sedang dipermainkan oleh takdir.
"Huh, seandainya gue bisa pergi dan lepas darinya. Mungkin gue akan melakukan nya, tapi apa yang akan dia lakukan pada dirinya sendiri? Mana bisa gue diam saja melihatnya seperti itu?" gumamnya lagi sambil terus menatap kearah langit yang gelap.
Viera menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang bisa dia atur untuk berbaring. Tanpa mereka sadari keduanya sama-sama sedang menatap langit gelap, karena mereka memang sudah dipersatukan oleh takdir dan juga kehendak yang maha kuasa.
Bahkan keduanya terlelap dibawah langit yang sama dan hanya berbeda tempat saja. Dan sepertinya hati mereka berdua sudah saling bertaut satu sama lain.
Hingga menjelang subuh mereka baru bangun dan sadar jika keduanya berada ditempat yang asing. Varo langsung menuju mobil untuk kembali ke apartment nya. Dimana dia akan bertanya dengan wanita yang dia nikahi satu hari yang lalu, dan dia juga yang memaksanya untuk mau menikah dengan nya.
Varo hanya beberapa kali menghela nafasnya. Dia mengemudikan mobilnya perlahan tapi pasti. Karena dia tidak ingin jika dia celaka dan membuat semua orang merasa sedih. Jadi dia hanya perlahan hingga sampai didalam parkiran apartment miliknya.
Varo langsung masuk saja tanpa dia tahu jika Viera melihatnya merasa ada tangan tak kasat mata sedang mer*mas hatinya. Apa lagi penampilan Varo masih berantakan dan terlihat sangat lelah.
"Ya Allah, hamba tidak ingin berperasangka buruk pada suami hamba. Tapi melihat penampilan dan juga keadaan nya, hamba bisa apa Ya Robb" gumam Viera yang tidak terasa meneteskan air matanya.
Dia segera melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang Muslim. Setelah selesai dia menyiapkan makanan untuk sarapan, Viera ingin jika dia berubah dan menerima pernikahan dengan perjanjian yang sudah dia tandatangani.
"Ini sudah pagi, kenapa dia belum keluar-keluar juga? Ah, biarkan saja. Aku harus segera bekerja, kemarin aku tidak masuk kerja. Masa iya, aku akan bolos lagi" gumamnya yang segera bersiap-siap pergi bekerja.
Sedangkan didalam kamar, Varo baru merasakan jika badan nya tidak enak. Dia ingin bangun saja tidak bisa, tapi jika meminta bantuan pada Viera merasa tidak enak juga. Dia memaksakan dirinya untuk bangun, tapi tidak bisa. Karena rasanya sangat lemas.
"Apa dia tidak tahu jika aku sedang tidak sehat? Kenapa dia tidak kemari? Apa dia..." gumam Varo yang tidak melanjutkan ucapan nya, karena jika dia lanjutkan. Yang ada dia berfikiran buruk pada Viera.
Sedangkan saat Viera akan masuk kedalam taxi tiba-tiba perasaan nya tidak enak. Akhirnya dia meng cancel orderan nya, sebagai gantinya dia tetap membayarnya. Walau tidak jadi menggunakan jasanya.
"Kenapa perasaan gue nggak enak gini sih, apa ada sesuatu? Lebih baik gue masuk lagi aja" gumam Viera yang kembali masuk kedalam apartment.
Dia masuk dan melihat jika Varo tidak keluar sama sekali, Viera penasaran dan dia langsung masuk kedalam kamar Varo.
"Bang, apa kau baik-baik saja?" tanya Viera yang melihat Varo yang masih berbaring dibawah selimut tebalnya.
"Astagfirullah, abang demam" ucap Viera memegang kening Varo yang sangat panas.
"Kau, mau kemana?" tanya Varo saat Viera akan pergi lagi.
"Aku akan mengambil alat kompres, abang tunggu disini saja. Aku akan segera kembali" jawab Viera yang melepaskan tangan Varo dari pergelangan nya.
Viera segera mengambil alat kompres dan saat akan mengambil kain wash lap dia melihat berbagai macam pakaian wanita hingga pakaian tidur yang kurang bahan ada disana. Hatinya terasa tersayat saat melihat itu semua ada didalam lemari Varo.
'Kenapa hati gue sakit ya, saat melihat itu semua. Huh, loe jangan berfikiran macem-macem Vi. Loe harus berfikiran positive tingking saja adanya, dia adalah suami loe' gumam Viera yang mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
Viera segera tersadar dan langsung menuju Varo yang masih berbaring lemah. Dia dengan tlaten mengurus Varo seharian, dan memberikan bubur yang dia masak sendiri.
"Abang makan dulu ya? Aku sudah memasak bubur untuk abang, setelah itu minum obat" ucap Viera duduk disamping Varo yang masih berbaring lemah.
__ADS_1
"Kenapa kau mau mengurus ku, saat aku sudah berlaku kasar padamu dan bahkan membuatmu terluka" tanya Varo yang menatap kearah Viera, hanya diam saja sambil memyodorkan satu sendok bubur buatan nya.
"Karena abang adalah suamiku, jika abang bersikap seperti itu. Mungkin aku yang salah, tanpa aku sadari" jawab Viera dengan senyuman nya dan dia terus menyuapi Varo.
"Kenapa sikap mu berubah? Kenapa kau tidak marah-marah saat aku melakukan itu padamu?" tanya Varo lagi yang menatap dengan tatapan sulit untuk diartikan.
"Sudah aku katakan, jika abang adalah suamiku dan aku ingin menjadi istri yang baik dan berbakti padamu. Sebagai suamiku, imamku" jawab Viera yang langsung berhenti menyuapi Varo saat Varo menggenggam tangan nya.
Lalu Varo mengambil mangkuk yang masih berisi bubur untuk diletakan diatas nakas, lalu Varo memeluk Viera dengan erat.
"Maaf, maafkan aku. Aku sudah membuat kamu sedih dan terluka dengan sikap aku" ucap Varo yang terisak dalam pelukan Varo.
"Maafkan aku, aku sudah salah faham padamu. Aku tidak bertanya dulu padanya kamu dan membuat kamu menangis. Maafkan aku, maaf" ucap Varo yang melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata dipipi Viera yang mengalir dengan deras.
"Kamu boleh marah dan bahkan memukulku, aku siap menerimanya. Tapi tangan pernah meninggalkan aku, jangan" ucap Varo mengecup kedua pelupuk mata Viera yang masih mengeluarkan air mata.
"Please, don't cry. Don't cry" ucap Varo yang mengusap air mata Viera dan dia menggelengkan kepalanya, supaya Viera tidak menangis.
"Abang, yang membuatku menangis. Kenapa sikapnya sekali membuat ku menangis dan juga kesal?" tanya Viera setelah menjawab pertanyaan dari Varo.
"Maaf" ucap Varo dan dia memeluk Viera kembali.
"Bisa lepaskan, aku sesak nafas" ucap Viera yang menepuk punggung Varo perlahan.
"Maaf-maaf, suapi aku lagi ya" ucap Varo yang sedikit menarik sudut bibirnya.
"Enak saja, bukankah abang sudah lebih sehat? Kenapa malah meminta aku untuk menyuapi?" tanya Viera yang melipat kedua tangan nya didepan dada.
"Benarkah? Kenapa kepala ku terasa sangat pusing dan sakit sekali" ucap Varo yang memegangi kepalanya dan dia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang.
"Ini yang terasa sakit. Bagian ini" jawab Varo yang memegang keningnya dan dia memegang tengkuknya.
Viera yang panik memegang kening Varo dan juga tengkuk Varo, lalu tanpa disadari Viera Varo sudah menaikan tubuh Viera diatas pangkuan nya. Lalu menekan pinggul Viera untuk lebih dekat dengan nya.
"Apa yang sakit? Apa masih terasa sakit? Ini, apa lagi?" tanya Viera lagi yang menangkup wajah Varo.
"Ini, ini yang terasa sakit" jawab Varo yang menunjuk bibirnya sendiri pada Viera.
PLAK...
"Ini sih, memang mau mu" ucap Viera yang menepuk dada Varo dan mereka saling tersenyum.
Keduanya saling berpelukan dan berbaring bersama. Mereka berdua saling bercerita, lebih tepatnya Viera yang banyak bicara dan mengatakan apa-apa saja pada Varo. Semua yang dia rasakan, hingga Varo malah terlelap dalam pelukan Viera.
.
Sedangkan ditempat lain, Anastasia Mendez sedang marah-marah. Karena dia tidak mendapatkan perhatian dari Varo sama sekali.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mama nya Ana saat melihat anaknya sedang marah-marah pada benda didalam kamarnya.
"Bagaimana aku nggak marah Ma, Mama tahu kan Elvaroz. Dia salah sekali tidak mau melirik aku, apa lagi sekarang dia sudah menikah, semakin pupus sudah harapan aku sekarang Ma" jawab Ana sambil mendudukan dirinya disamping sang Mama.
"Elvaroz, Elvaroz anaknya David Tomlinson? Apa kamu menyukainya sayang?" bukan nya menjawab pertanyaan dari putrinya.
"Iya Ma memangnya siapa lagi? Memangnya ada nama Elvaroz selain putranya Tuan David Tomlinson. Mama ini gimana sih Ma" ucap Ana yang semakin kesal pada sang Mama.
"Jika begitu, kamu pepet saja dia sayang. Jangan perdulikan istrinya itu, yang penting kamu bisa menaklukan nya. Jangan biarkan mangsa sebesar itu terlepas" ucap sang Mama memberikan nasehat yang sesat.
__ADS_1
"Mama benar, aku akan membuatnya menjadi milik ku sepenuhnya dan aku akan menjadi Nyonya Muda Tomlinson. Aku sudah sangat bahagia Ma, sangat-sangat bahagia" ucap Ana yang langsung tersenyum sumringah saat mendapatkan dukungan dari Mama nya.
"Teruslah berusaha sayang. Jangan biarkan kesempatan baik ini terlewatkan, Mama dan Papa akan selalu mendukung kamu" ucapnya malah mendukung putrinya yang sudah jelas-jelas salah.
"Pasti Ma, aku akan melakukan nya sekuat yang aku bisa. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, maka, aku akan melakukan nya dengan cara yang seratus persen berhasil" jawabnya yang sudah sangat percaya diri sekali.
Mereka berdua saling tersenyum bersama dan memiliki rencana yang tidak baik pada Varo dan Viera. Apa mungkin rencana mereka berdua akan berhasil? Atau sebaliknya? Kita lihat saja nanti, apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan Allah lakukan.
.
Sedangkan didalam apartment Viera merasa jika ini sudah lebih baik dan merasa jika pernikahan mereka berdua jauh dari kata buruk. Karena sekarang mereka masih berbaring dibawah selimut yang sama dan dalam pelukan hangat masing-masing.
"Kenapa?" tanya Varo saat merasakan pergerakan dari Viera.
"Tidak ada, aku hanya merasa jika pernikahan ini akan melangsungkan dan perjanjian nya mungkin akan berakhir" jawab Viera yang mendongakan kepalanya menatap kearah Varo.
"Kau benar, karena aku melakukan ini semua memang hanya untuk bisa membuat kamu selalu berada didekatku terus. Tapi, lebih baik jangan berakhir" ucap Varo yang malah mempererat pelukan nya pada Viera.
"Kau ini" ucap Viera yang juga memeluk Varo dengan erat.
"Diamlah, kau membangunkan nya" ucap Varo saat merasakan jika adik kecilnya terbangun dari hibernasinya.
"Ini terasa ada yang mengganjal dan juga tidak nyaman. Kenapa membangunkan? Bukankah abang sudah bangun sejak tadi?" jawab Viera sambil bertanya pada Varo.
"Apa kau ingin tahu apa yang ku maksud?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Viera, Varo malah balik bertanya.
"Iya lah, kenapa bisa mengatakan itu" jawab Viera yang masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Varo padanya.
"Baiklah, kemarikan tangan mu" ucap Varo yang mengambil tangan Viera dan menuntun nya menuju sesuatu yang sudah mengeras.
"Dasar mesum!" ucap Viera yang sudah menyentuh kepala botak milik Varo, dia malah bergidik saat tangan nya merasakan sesuatu yang keras dan bisa mengangguk.
Sedangkan Varo malah tertawa melihat expresi wajah Viera yang bergidik dan terlihat bingung. Karena ini adalah pengalaman pertama bagi Viera dan juga dirinya. Baik Varo maupun Viera, mereka memang sama-sama baru pertama kalinya merasakan kedekatan seperti ini. Jadi ada rasa bahagia dan juga canggung.
"Kenapa? Apa kau sudah tahu apa yang ku maksudkan?" tanya Varo yang sudah menghentikan tawanya dan dia menatap serius kearah Viera.
"Iya, kenapa kau mesum sekali!! Sudahlah, tangan dan jariku ini sudah tidak suci lagi" jawab Viera memperlihatkan tangan dan jari-jarinya yang dia gerak-gerakan.
"Apa kau mau merasakan sesuatu yang akan membuatmu nikmat juga?" tanya Varo yang malah melakukan aksinya untuk bisa mendapatkan lebih dari sekedar sebtuhan sekejap saja.
"Memangnya apa yang akan abang lakukan padaku? Dan kenikmatan seperti apa yang akan abang lakukan?" Viera baik bertanya pada Varo.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Viera, Varo langsung mencaplok bibir ranum milik Viera. Viera yang awalnya membolakan matanya pada Varo, sekarang malah ikut terbuai akan apa yang Varo lakukan padanya.
Varo terus mengexplor seluruh isi mulut Viera dan juga menjulurkan lidahnya, membuat Viera semakin terbuai. Apa lagi tangan Varo yang sudah bergerak kesana kemari untuk mengexplor juga pada bagian-bagian sensitive milik Viera.
Viera yang baru merasakan sesuatu yang membuatnya menggelinjang, dan merasakan panas dingin pada sekujur tubuhnya. Bahkan dia yang awalnya tidak bisa mengimbangi bermainan bibir dan lidah Varo, sekarang sudah bisa sedikit mengimbanginya juga.
Varo juga merasakan hal yang sama, dia merasakan jika seluruh tubuhnya juga merasakan panas dingin saat menyentuh bagian tubuh Viera yang baru pertama kalinya dia pegang dan dia rasakan oleh tangan nya.
.
.
.
Hayo... Nungguin apa??😎😎
__ADS_1