Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Varo terluka


__ADS_3

Semua orang masih menunggui Varo yang sedang diobati oleh Aruna. Para pelayan juga dengan tenang membersihkan bekas pecahan kaca tersebut hingga bersih.


"Apa lukanya tidak parah dan dalam?" tanya Zahiya yang duduk disamping Varo dan menggenggam tangan Varo sebelahnya lagi.


"Lukanya cukup dalam dan parah Queen, untung saja Tuan Muda tidak melukai nadinya. Jika sampai melukai nadinya, entah apa yang akan terjadi padanya sekarang. Tapi sekarang sudah lebih baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan keadaan Tuan Muda" jelas Aruna pada Zahiya yang hanya diam dan menatap kearah Varo dengan tatapan berkaca-kaca.


"Alhamdulilah" semua orang mengucapkan syukur dan tanpa disadari oleh semua orang. Varez merekam kejadian yang terjadi pada Varo hingga saat Varo diobati dan penjelasan dari Aruna.


'Kau akan tahu apa yang terjadi pada adik ku. Jadi kau bisa memutuskan akan seperti apa' ucap Varez dalam hati dan dia hanya tersenyum samar saat mengatakan nya.


"Apa abang sedang memikirkan sesuatu? Kenapa terlihat sangat senang seperti itu?" tanya Varaz yang menatap kearah Varez, abangnya.


"Diamlah, kita akan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan untuk Varo" ucap Varez yang mengatakan nya dengan perlahan lalu mereka berdua pergi dari sana dan diikuti oleh kedua saudaranya yang lain.


"Apa yang akan abang lakukan sekarang?" tanya Varuz yang menatap kearah dua abangnya.


"Kita lihat saja sampai beberapa menit kedepan. Jika memang dia memiliki perasaan pada Varo, abang yakin dia tidak akan bisa tenang saat melihat Varo terluka sangat parah seperti itu. Tapi jika tidak sekarang kita tinggi sampai besok pagi" jawab Varez dengan santainya dan tidak selang berapa lama apa yang dikatakan oleh Varez memang benar adanya.


Ada dua orang yang datang dan itu tidak lain adalah Viera bersama dengan seorang pemuda disampingnya sambil meletakan helm miliknya diatas motor matic nya.


Viera segera berlari dan dia tidak memperdulikan semua orang yang sedang menatap kearahnya dengan tatapan penuh senyuman dibibir mereka.


Bahkan mereka berempat saling bertos ria, saat apa yang dikatakan oleh Varez memang benar adanya. Jika Viera akan datang kemari dan memang memiliki perasaan pada Varo.


"Assalamualaikum abang semua" ucap Xaqer yang tidak lain adalah adik Viera.


"Wa'allaikumsalam, silahkan masuk saja. Tapi lebih baik disini saja bersama dengan kami, biarkan kakak kamu menemui orang yang penting menurutnya" ucap Varez yang mengajak Xaqer untuk duduk diteras.


"Baik bang" jawab Xaqer pada keempat pria didepan nya itu.


"Siapa nama kamu bocah?" tanya Varaz yang duduk disamping Xaqer.


"Nama saya Xaqer bang" jawab Xaqer pada mereka berempat.

__ADS_1


"Apa namamu Purnama juga? Sama seperti kakak kamu itu?" tanya Varuz yang menanyakan hal absurd pada Xaqer.


"Bukan bang, kalo saya Permana" jawab Xaqer.


Mereka berbicara dengan santai dan sangat terlihat sangat akrab. Seperti memang sudah saling mengenal lama. Sedangkan Xaqer merasa canggung dan tidak enak, pasalnya bisa dekat dan bertemu dengan orang-orang besar juga sangat menguasai ahlinya masing-masing.


.


Viera terus berlari menuju ruangan yang entah sejak kapan dia berputar-putar mencari keberadaan Varo. Bahkan dia sudah terjatuh berkali-kali, tidak dia rasakan sama sekali.


"Nona, anda akan kemana? Anda terluka" tanya salah seorang pelayan yang melihat Viera terjatuh dan keningnya membentur tembok dan sedikit mengeluarkan darah segarnya.


"Saya baik-baik saja. Saya ingin menuju kamarnya Varo" ucap Viera yang bangkit berdiri dan dia menatap kearah pelayan tersebut.


"Mari saya antar anda Nona" ucap pelayan tersebut mengatakan Viera menuju kamar Varo.


Viera langsung masuk setelah diberi tahu oleh pelayan jika itu kamar Varo. Viera langsung menghampiri Varo dan memeluknya, tanpa menghiraukan tatapan dari semua orang yang ada disana dan mereka langsung meninggalkan mereka berdua untuk saling bicara dari hati kehati.


"Kenapa loe melukai diri sendiri? Apa kau tidak sadar, jika yang loe lakukan itu berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa loe sendiri!" ucap Viera yang membentak Varo tapi sambil menangis terisak mengatakan nya.


"Ssttt, kenapa harus mengatakan itu? Jangan pernah mengatakan itu lagi" ucap Viera yang menutup mulut Varo menggunakan telapak tangan nya.


"Kenapa? Apa kamu takut jika aku kenapa-kenapa?" tanya Varo yang menatap wajah Viera dan mengusap pipi Viera.


"Nggak lah, kenapa juga gue takut? Siapa loe buat gue" ucap Viera yang mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangan nya didepan dada.


"Iya, aku tahu. Jika aku ini bukan siapa-siapa untuk kamu dan tidak penting juga. Tapi terimakasih sudah mau datang kemari lagi, maaf, sudah menyusahkan kamu" ucap Varo yang membuat Viera mengernyitkan keningnya menatap kearah Varo yang mengatakan nya sambil menunduk dan mere*as tangan nya yang terluka, hingga berdarah kembali.


"Kenapa loe melukai diri loe sendiri? Apa loe tidak sadar jika yang loe lakukan ini membuat seluruh keluarga loe bersedih. Terutama nyokap loe itu, apa loe tidak sadar" ucap Viera membuat Varo hanya bisa diam dan menyimak apa yang dikatakan oleh Viera.


"Gue tahu, jika gue ini mungkin belum memiliki perasaan pada loe. Begitu juga dengan loe sendiri bukan? Sebaiknya kita introfeksi diri sendiri dulu dan jalani semuanya seperti air yang mengalir saja. Karena gue kagak tahu apa yang terjadi kedepan nya" ucap Viera yang menggantikan perban ditangan Varo dengan yang baru dan dia menepuknya perlahan.


"Kenapa kau begitu yakin jika aku ini tidak memiliki perasaan apapun padamu? Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan? Aku merasa jika kau ini memiliki rasa padaku, tapi hanya saja kau belum menyadarinya" ucap Varo yang mengatakan nya dengan sangat lembut pada Viera.

__ADS_1


"Sok tahu loe" ucap Viera yang mengatakan nya sambil menunduk dan dia merasa malu akan ucapan yang keluar dari mulut Varo.


"Apa kita perlu pembuktian?" tanya Varo yang menarik Viera untuk berbaring bersama dengan nya dan memeluknya juga mencium keningnya dengan sangat lembut dan lama.


Viera membolakan matanya dan dia merasakan jika debaran jantungnya terasa lebih kencang dan terasa gugup saat Varo melakukan itu dengan mendadak dan melakukan nya dengan penuh kelembutan juga sepenuh hati dan perasaan nya pada Viera.


"Apa kau merasa malu? Kenapa pipimu terlihat marah?" tanya Varo yang malah menggoda Viera dan memaukan nya kembali pada pelukan hangatnya.


"Maafkan aku sudah membuat kamu khawatir. Aku berjanji jika ini adalah yang terakhir kalinya aku melakukan nya, berjanjilah tidak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi. Dengan atau tidak ada perasaan apapun padaku, berjanjilah" ucap Varo yang mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan Viera.


Viera tidak langsung menyambut uluran tangan Varo. Dia hanya diam dan dia menunduk malu, apa lagi posisi mereka berdua sangat intim dengan saling memeluk.


"Jawablah, jika kamu tidak mau menjawabnya. Maka kamu siap untuk melihat ku terbaring disini untuk selamanya" ucap Varo yang memaksa supaya Viera berjanji padanya.


"Gue harus jawab apa? Jika loe terus memaksa, iya. Gue jawab iya" ucap Viera yang mengerucutkan bibirnya dan dia merasa malu saat mengatakan nya pada Varo.


"Terimakasih, mulai sekarang tinggal lah disini bersama dengan ku. Jika merasa tidak nyaman, aku akan membawamu ke apartment ku saja. Kita akan berdua disana, selalu bersama dan kita akan selalu berdua seperti ini" ucap Varo yang mempererat pelukan nya pada Viera.


"Tapi, apa loe tidak malu jika harus terus bersama dengan ku yang bukan siapa-siapa ini? Loe tahu sendiri bukan, jika gue ini orang miskin dan juga tidak pantas jika harus bersanding dengan loe seperti ini" ucap Viera yang menundukan kembali wajahnya sangat tidak ingin menatap kearah Varo.


"Kenapa harus malu? Aku senang jika kamu mau bersama dengan ku, jangan dengarkan orang lain mengatakan apa pada kamu. Cukup dengarkan aku dan aku saja, sisanya abaikan saja" ucap Varo yang menangkup wajah Viera dan mengusap pipinya dengan lembut.


Lalu mengecup bibir Viera sebentar dan dia menyatukan keningnya dengan kening Viera. Mereka memejamkan matanya saling meresapi perasaan nya masing-masing.


"Baiklah, gue janji. Loe juga harus janji pada gue, loe jangan melakukan ini lagi dan melukai diri sendiri. Buat gue dan keluarga loe juga, gue hanya ingin melihat loe yang seperti biasanya. Bukan lemah seperti ini, juga rapuh dan seperti orang yang tidak waras. Jangan melakukan nya lagi" ucap Viera yang memegang pipi Varo dan mengusap rahang tegasnya perlahan lalu dia tersenyum pada Varo.


"Aku berjanji. Kau belum menjawab pertanyaan dari aku, apa kau mau tinggal bersama dengan ku seperti ini setiap hari dan bersama dengan ku selamanya" ucap Varo yang mengecup tangan Viera dan meletakan nya pada pinggangnya untuk bisa memeluknya.


"Gue nggak bisa" jawab Viera yang langsung membuat Varo akan melukai dirinya sendiri, tapi ditahan oleh Viera.


"Gue nggak mau, karena gue nggak mau jika kita selalu bersama dan berdua seperti ini tanpa ikatan. Loe kan tahu, jika dalam agama kita dilarang melakukan hal seperti ini. Jadi jangan salah faham dulu, dan salah mengartikan apa yang gue katakan" ucap Viera yang untuk pertama kalinya mengatakan kata-kata lembut pada Varo.


"Apa kau ingin jika aku menikahi kamu? Jika iya, besok kita akan menikah dan kita akan selalu berdua seperti ini selamanya. Atau mau sekarang saja kita menikah?" tanya Varo yang langsung mendapatkan cubitan pedas pada perutnya yang sixpack.

__ADS_1


"Loe fikir menikah itu gampang apa? Kan harus mengurus ini dan itunya dulu, jadi besok saja. Gue tahu, jika loe bisa melakukan apa saja dengan koneksi dan juga uang loe itu. Sekarang gue mau istirahat, gue ngantuk banget" ucap Viera yang memejamkan matanya dan itu membuat Varo merasa sangat senang.


Varo tidak melepaskan pelukan nya dari Viera. Bahkan dia semakin mempererat pelukan nya, Viera juga tidak terusik, yang ada semakin nyenyak tidurnya dalam pelukan hangat Varo.


__ADS_2