
"Jika aku suka dan tidak suka memangnya kenapa?" tanya Varo yang menatap kearah Viera dan mencium bibirnya sekilas, tapi berulang-ulang.
"Abang, iiihh. Kenapa mesum banget sih" ucap Viera yang menahan wajah Varo supaya tidak mendekatinya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka aku dekati?" tanya Varo yang menatap dingin dan datar pada Viera.
"Ya, nggak gitu juga. Abisnya aku hanya ingin bertanya pada abang, kenapa suka aku gombalin?" ucap Viera yang seketika mundur dan dia ketakutan melihat wajah Varo.
"Kenapa malah menjauh? Biarkan seperti ini" ucap Varo yang kembali memeluk Viera dan dia mengecupi pucuk kepala Viera.
"Apa abang sudah lebih baik? Apa lukanya tidak sakit aku tindih seperti ini?" tanya Viera memegang tangan Varo yang penuh dengan perban.
"Aku baik-baik saja, ini semua sudah sembuh. Jangan khawatir" jawab Varo yang kembali memeluk Viera.
KRUYUK....
KRUYUK...
"Apa kamu lapar?" tanya Varo yang mendengar bunyi perut Viera yang menahan laparnya sejak tadi.
"Hehehe, iya" jawab Viera yang nyengir memperlihatkan gigi putihnya. Dia sangat malu, saat perutnya berbunyi sangat kencang.
'Anjrit! Perut gue malu-maluin banget. Mana depan abang ganteng lagi, bunyi kagak bilang-bilang' gumam Viera dalam hati yang merasa malu karena perutnya tidak bisa diajak kompromi.
"Kita makan sekarang saja. Kenapa kamu tidak bilang sejak tadi, jika kamu lapar hmm?" tanya Varo menatap Viera yang hanya nyengir kuda.
"Aku kira nggak bakalan bunyi dan bikin malu bang, nggak tahunya malah lebih keras dari yang aku bayangkan" ucap Viera yang sudah bangun dan mengikuti Varo untuk duduk diatas sofa.
Dimana sudah ada makanan dan minuman diatas meja. Dari makanan ringan hingga berat, bahkan buah dan juss juga ada disana. Viera terlihat sangat kaget melihat menu sarapan saja sebanyak ini.
"Apa ini menu sarapan kita bang? Apa tidak salah? Ini sih udah mirip buat makan orang sekampung" tanya Viera yang melihat berbagai macam makanan diatas meja.
__ADS_1
"Iya, memang seperti ini. Memangnya kenapa? Apa ada lagi yang kamu inginkan? Jika iya, aku akan meminta mereka menyiapkan nya untuk kamu" tanya Varo setelah menjawab pertanyaan dari Viera.
"Masya Allah abanggg.... Ini sudah lebih dari banyak banget malah. Masa aku mau menghabiskan makanan sebanyak itu. Yang benar saja bang? Aku tidak serakus itu kali" ucap Viera yang mengerucutkan bibirnya saat Varo bertanya akan menambah menu makanan nya jika dia tidak suka.
"Aku tidak mengatakan jika kamu rakus, aku hanya bertanya, mungkin saja kamu tidak menyukai itu semua dan menginginkan makanan lain" ucap Varo sambil mengambilkan sandwich untuk Viera.
"Makasih, tapi ini sudah lebih dari cukup bang" ucap Viera yang menerima sandwich dari tangan Varo.
"Buka mulutnya, bukan tangan" ucap Varo yang menyodorkan sandwich pada mulut Viera.
"Eh, kenapa malah jadi kebalik? Tangan aku baik-baik saja abang. Sini, biar aku saja yang suapin abang" ucap Viera yang mengambil sandwich dari tangan Varo.
"Aa, buka mulut abang" ucap Viera lagi yang menyodorkan dihadapan mulut Varo.
"Kamu juga makan, aa" ucap Varo yang menyuapi
Varo menerima sandwich dari tangan Viera. Mereka menghabiskan makanan diatas meja hanya berdua saja. Mungkin karena mereka makan saling menyuapi, jadi tidak terasa menghabiskan makanan sebanyak itu. Saat sudah habis mereka baru menyadarinya.
"Anggap saja seperti itu" jawab Varo dengan santainya dan dia melonggarkan ikat pinggangnya. Karena perutnya terasa sangat begah sekali.
"Abang mau kemana?" tanya Viera menatap Varo yang beranjak dari duduknya.
"Mau keluar, mau ikut?" jawab Varo yang berbalik menatap kearah Viera.
"Kenapa keluar lewat kesana? Bukankah, pintu keluarnya ada disebrangnya?" tanya Viera yang bingung dan dia menghampiri Varo.
"Jika lewat sana, akan banyak yang melihat. Lebih baik lewat jalan ini" jawab Varo yang merangkul pinggang Viera dan mendekatkan wajahnya pada wajah Viera.
Saat Varo akan mencium bibir Viera. Viera malah menahan bibir Varo untuk tidak menyentuhnya.
"Jangan macem-macem, lagian ini rumah sakit. Macem-macem aja" ucap Viera yang sedikit mendorong tubuh Varo darinya.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Ada yang salah? Kamu istriku dan aku suamimu" ucap Varo yang menahan pinggang Viera dan membenturkan pada dadanya.
"Iya tahu, tapi ini tempat umum bambank. Kalau dirumah sendiri it's okay, nah ini? Masya Allah" ucap Viera yang menepuk keningnya sendiri saat mengatakan itu pada Varo.
"Jadi, jika kita pulang kamu mau melakukan nya lagi dengan ku?" tanya Varo yang menatap sangat mesum pada Viera.
"His, nggak gitu juga. Kenapa abang kasi mesum gini sih? Aku hanya... Ah, Sudahlah. Kita jadi keluar apa tidak ini?" tanya Viera yang mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kenapa merona seperti ini pipi kamu, hmm? Apa kamu malu?" tanya Varo malah menggoda Viera yang sudah menahan malunya.
"His, bisakah abang tidak seperti ini? Aku merasa sesak tahu" ucap Viera yang masih merasa malu dan dia mengalihkan pandangan nya dari Varo.
"Kenapa malah memalingkan wajah kamu honey? Apa aku tidak boleh melakukan apa yang kamu katakan tadi?" tanya Varo yang menangkup wajah Viera dan dia menatap sangat dekat, bahkan helaan nafasnya terasa pada wajah Viera.
"Nggak, aku nggak apa-apa" jawab Viera yang masih merasa malu akan pertanyaan dari Varo.
Saat mereka berdua sedang berpelukan dan terlihat sangat mesra, ada seseorang yang tiba-tiba masuk dan melihat kearah keduanya.
"Sorry, gue nggak sengaja" ucap seseorang yang tidak lain adalah Varez yang datang dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Varo yang tidak melepaskan pelukan nya dari Viera.
"Haiss, tidak bisakah loe nanti saja melakukan itunya? Ini sedang urgent" ucap Varez yang sengaja ingin membuat Varo sedikit menjauh dari Viera. Supaya dia bisa membahas sesuatu dengan nya.
"Memangnya apa yang terjadi? Bukankah kau ini adalah Prince? Kenapa malah menemuiku yang tidak mengerti akan hal-hal yang berbau seperti itu" ucap Varo dengan santainya dan dia malah mengejek Viera duduk disampingnya.
'Ini orang otaknya udah geser apa gimana? Masa kagak ada malu-malunya sama sekali dihadapan abangnya sendiri? Wah, wah, wah... Jangan-jangan bukan tangan nya yang terluka, tapi otaknya yang luka dan mungkin sudah benar-benar geser' gumam Viera dalam hati dan dia masih menatap kearah Varez dan Varo bergantian.
"Sudahlah, kau ini jangan banyak bicara lagi. Gue ingin mengajak loe sebentar doang" ucap Varez sambil menghela nafasnya sedikit kasar saat melihat Varo tidak bergeming dan tidak mengerti akan kode yang dia berikan.
'Apa dia sengaja melakukan ini hanya untuk membuat gue kesal dan tidak jadi mengatakan sesuatu padanya? Ah... Sial' gerutu Varez yang membuatnya menjadi kesal sendiri pada adiknya yang satu ini.
__ADS_1