
BRAK...
Tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat kencangnya dan terlihatlah Varo sedang berdiri dengan tatapan mengerikan nya dan itu membuat bayi dalam gendongan Viera menangis kencang.
Mia juga terkaget dan ketakutan saat melihat seorang pria tiba-tiba masuk dengan kasar dan membanting pintu juga. Apa lagi melihat tatapan nya membuatnya semakin ketakutan dan tidak berani menatapnya.
"Abang iiihh, kenapa malah membanting pintu sih? Dia jadi menangis lagi kan" ucap Viera yang menggerutu saat bayi dalam dekapan nya menangis dan sulit untuk dia tenangkan kembali.
"Kau membuatku takut saja" bukan nya menjawab pertanyaan Viera, Varo malah langsung memeluk Viera dengan erat dan tidak menghiraukan bayi yang ikut diam dekapan juga langsung diam.
"Eh, dia malah langsung diam berada dekapan abang juga. Makasih abang sayang" ucap Viera membuat Varo tersadar dan melepaskan pelukan nya dari Viera.
Varo malah mengernyitkan keningnya menatap kearah Viera dan bayi dalam gendongan Viera. Dia baru sadar jika sejak tadi Viera sedang menggendong seorang bayi.
"Honey, sejak kapan kamu memiliki bayi? Kenapa dia berada dalam pelukan kamu?" tanya Varo dengan tatapan datarnya tapi penuh tanya ada Viera.
"Ya Allah abang, dia ini bukan bayi aku. Dia adalah anaknya, tapi lucu sekali bukan? Sangat cantik" ucap Viera membuat Varo merasa semakin bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Viera.
"Jika bukan bayi kamu, kenapa kamu gendong?" tanya Varo lagi membuat Viera menepuk keningnya sendiri dan dia menyerahkan bayi menggemaskan itu pada Mia.
"Aku akan kembali lagi besok bertemu dengan si cantik ini. Aku harus menjelaskan nya dulu pada bayi besar aku dulu" ucap Viera pada Mia dan segera menggandeng tangan Varo untuk keluar dari kamar tersebut.
"Apa, kenapa kamu malah membawa kita masuk kedalam kamar? Apa kamu tidak akan menjelaskan nya padaku?" tanya Varo yang sudah banyak sekali bicara dan tidak bisa terbantahkan.
"Ya Allah, kenapa Engkau mengirimkan suami modelan gini ya? Cakep emang, tapi mbok ya jangan terlalu lugu atau bahkan bodohh" gumam Viera yang menepuk keningnya dan dia mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa kau malah mengumpatku?" tanya Varo yang membuat Viera menarik nafasnya berulang-ulang dan dia segera menetralkan nya untuk menjelaskan semuanya pada Varo.
__ADS_1
"Dengarkan aku abang sayang. Aku juga baru mengenal dia dan aku belum memiliki bayi. Yang benar saja aku sudah memiliki bayi sebesar itu tanpa hamil" ucap Viera yang menjelaskan semuanya pada Varo dari awal hingga Varo datang mengagetkan mereka.
"Jadi dia anak dari wanita itu? Kenapa dia adalah disana? Bukankah wanita disini hanya ada kamu, Mimi dan Oma saja. Kenapa dia bisa berada disini?" tanya Varo dengan konyolnya pada Viera.
"Jika abang tanya aku, aku harus tanya siapa? Abang nih suka aneh-aneh klo ngomong" ucap Viera yang mendudukan dirinya ditepi ranjang sambil melipat kedua tangan nya didepan dada.
"Jadi, kamu juga tidak tahu? Apa mungkin itu tamu Mimi?" tanya Varo yang dijawab oleh Viera dengan kedikan bahu saja.
"Aku udah ngantuk bang, tapi... Bukankah tadi katanya ada yang terluka ya? Siapa bang yang terluka?" tanya Viera yang kembali bangkit dari duduknya menghampiri Varo.
"Variz, dia yang terluka. Dadanya terkena tembakan, untung saja tidak mengenai organ vitalnya. Jadi hanya butuh istirahat dan donor darah saja" jawab Varo yang memeluk Viera dengan erat.
"Apa darahnya sama kayak abang? Atau berbeda?" tanya Viera yang merasa khawatir akan keadaan saudara dari suaminya.
"Hanya aku yang berbeda. Golongan darah ku sama dengan Opa Zayn, jadi sangat sulit dibandingkan dengan yang lainnya" ucap Varo menjelaskan nya pada Viera.
"Kita temui mereka, aku belum melihat keadaan nya yang sekarang. Sekalian menanyakan kenapa ada orang asing didalam rumah ini" ucap Varo mengajak Viera keluar dari kamar dan dia menghampiri tangan nya dengan erat.
"Abang, kenapa harus digandeng gini sih? Udah mirip truk gandeng aja" tanya Viera yang merasa tidak enak pada semua orang yang ada disana menatapnya.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan ini?" tanya Varo dengan santainya membawa Viera menuju seluruh keluarganya.
"Apa kamu baik-baik saja Va?" tanya Oma Lulu yang melihat cucu kesayangan nya menghampiri.
"Seperti yang Oma lihat" jawab Varo yang mencium punggung tangan Oma Lulu diikuti oleh Viera juga.
"Syukurlah, kamu bagaimana nak? Apa cucu Oma suka kasar sama kamu? Jika iya, bilang saja sama Oma, biar Oma jewer telinganya" tanya Oma Lulu pada Viera.
__ADS_1
"Alhamdulilah baik Oma. Abang baik banget Oma, mana pernah abang bicara kasar apa lagi berbuat kasar pada aku" jawab Viera yang tersenyum canggung saat mengatakan nya didepan keluarga Varo.
"Syukurlah, apa kalian ingin menjenguk Variz? Jika iya, jangan sekarang. Besok saja, kalian juga harus istirahat. Begitu juga Variz, besok Oma dan Opa ingin berbicara dengan kalian semua. Jadi sekarang kalian semua istirahat saja. Oma juga akan istirahat" ucap Oma Lulu yang meminta seluruh keluarganya untuk istirahat saja sebelum mereka berkumpul esok hari.
"Baiklah Oma, kami permisi lebih dulu" ucap Varo yang masih menggenggam tangan Viera dan berlalu dari sana.
"Syukurlah, sepertinya mereka berdua sudah saling mencintai. Mama sangat senang melihatnya" ucap Oma Lulu pada Opa Devon yang mengangguk setuju dengan ucapan dari istrinya.
"Mama harus istirahat sekarang juga Ma, ini sudah larut. Tidak baik untuk kesehatan Mama" ucap David yang juga sedang menggandeng tangan Zahiya.
"Baiklah, Mama dan Papa akan istirahat. Kalian juga, jangan begadang dan membuat lemas istrimu" ucap Mama Lulu dengan tatapan tajamnya pada David.
"Jika itu sudah kebutuhan Ma. Lagian itu memang kegiatan rutin kami berdua" ucap David sambil menaik-turunkan alisnya menatap kearah Mama Lulu.
"Dasar bocah tua. Masih saja digedein yang begitu" ucap Mama Lulu yang segera pergi dari sana. Karena jika meladeni David tidak akan pernah selesai nantinya.
"Au, sakit sayang. Kenapa kamu suka sekali mencubit perut aku sih?" tanya David yang merasakan sakit diperutnya akibat cubitan pedas Zahiya.
"Makanya kalo ngomong itu dijaga. Udah tua masih saja berbicara tanpa disaring dulu" ucap Zahiya yang segera pergi dari sana setelah mengatakan itu pada David.
"Sayang, kenapa malah nyalahin aku? Bukankah itu yang kamu suka dari aku" tanya David sambil setengah berteriak pada Zahiya.
"Makanya Pi, jangan asal jika bicara. Jika sudah ngambek gitu akan sulit menjinakan singa betina yang sedang mengamuk. Haum" ucap Varaz yang malah mengejek David, Pipi nya sendiri.
"Dasar anak durhakim kamu. Pipi sumpahin biar makin ganteng" ucap Pipi David yang membuat Varaz tersenyum senang mendengar ucapan Pipi nya.
"Thank you Pi, aku memang ganteng" ucap Varaz dengan sangat percaya diri mengatakan nya. Dia segera pergi dari hadapan David menuju kamarnya dilantai dua.
__ADS_1