
Masih Flashback....
"Iya Mi, akan aku ingat semuanya yang Mimi katakan padaku" jawab Varo yang mengatakan nya dengan bersungguh-sungguh.
"Good boy, sekarang istirahat dan berhenti dulu membacanya. Karena besok kamu harus sekolah seperti biasa" ucap Zahiya yang membaringkan Varo supaya segera tidur.
"Good night Mi" ucap Varo yang akan memejamkan matanya.
"Good night boy, mimpi indah" ucap Zahiya yang mencium kening Varo sebelum dia meninggalkan nya tidur.
.
Keesokan harinya seperti biasa Varo akan sarapan bersama dan dia masih berpenampilan sama seperti sebelumnya yang selalu menggunakan kacamata tebalnya. Memang mirip dengan Zahiya waktu muda dulu, akan menyembunyikan ketampanan nya dengan kacamata dan rambut penuh dengan pomade.
"Boy, apa kamu akan tetap berpenampilan seperti ini terus? Kamu sudah 12tahun lebih, kenapa tidak seperti saudaramu yang lain?" tanya David pada Varo yang hanya diam dan terus mengunyah sandwich kesukaan nya.
"Memangnya ada yang salah dengan penampilan nya Pi?" bukan Varo yang bertanya pada David. Melainkan Zahiya yang merasa tersindir dengan pertanyaan dari David, suaminya.
"Bukan begitu sayang, aku hanya bertanya saja" ucap David yang gelagapan saat menjawab pertanyaan dari Zahiya, istrinya.
"Sudah lah Mi, Pi. Kenapa kalian berdua malah berdebat seperti ini?" ucap Varuz yang mengatakan nya seperti biasa dengan wajah datarnya.
"Sudahlah, lebih baik kita sarapan dan jangan banyak bicara" ucap Variz yang selalu menjadi penengah diantara mereka semua.
Setelah sarapan bersama semuanya berangkat ketempat yang mereka inginkan. David yang kekantornya dan anak-anak akan kesekolahnya masing-masing.
"Hai, apa kamu sudah mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru galak itu?" tanya Clara sudah datang lebih dulu dan menghampiri Varo yang baru turun dari mobil.
"Sudah, dan selesai semuanya" jawab Varo dengan santai dan dia langsung berjalan menuju kelasnya.
"Bagus, aku kira kamu belum menyelesaikan semuanya. Oh iya nanti setelah jam pelajaran pertama selesai kita nongkrong bareng seperti biasa kan? Aku akan memberikan sesuatu padamu. Ingat jangan sampai melupakan nya" ucap Clara yang segera berlari menuju kelasnya yang lumayan jauh dari kelas Varo.
"Kelihatan nya kamu memang sudah sangat dekat dengan nya" ucap Varaz yang menatap saudaranya dengan teman-teman barunya.
"Memang benar, jika malapetaka akan segera datang" ucap Variz yang menatap kearah Varo.
"Kenapa abang bilang gitu? Apa akan ada sesuatu?" tanya Varuz yang menatap penuh dengan selidik.
"Sepertinya dia tidak tulus pada Varo dan hanya menginginkan sesuatu darinya" ucap Variz menatap punggung anak perempuan yang sudah tidak terlihat lagi itu.
"Apa kamu yakin Riz?" tanya Varaz yang menatap wajah Variz.
"Sangat, apa lagi Varo sudah mulai mempercayainya. Kita harus bisa benar-benar menjaganya dengan baik" ucap Variz dengan sangat tegas dan dia segera pergi menuju kelasnya bersama dengan Varuz.
"Va, aku tahu kamu sedang dekat dengan nya. Apa kamu tidak merasa curiga padanya? Maaf jika aku mengatakan ini padamu" ucap Varaz yang sekarang berpindah duduknya menjadi disamping Varo.
"Aku tidak tahu. Hanya mengikuti keinginan hati saja" jawab Varo yang terus fokus pada bukunya.
"Baiklah, sebaiknya kamu jangan pernah mengecewakan diri kamu sendiri sebelum orang terdekat kamu. Aku akan selalu mendukumu" ucap Varaz yang sekarang dia juga ikut membaca buku tentang bisnis.
"Akan aku lakukan" jawab Varo yang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu nyaman berteman dengan nya? Dia memang anak yang manis dan periang" tanya Varaz lagi dan dia menatap lurus kedepan sana.
"Sepertinya" jawab Varo yang menatap kearah Varaz.
Mereka berdua saling diam dan saat guru memberikan tugas, baru mereka fokus pada pelajaran mereka. Hingga jam istirahat pertama dimulai, Varo seperti biasa akan duduk ditaman belakang sekolah.
Clara juga datang kesana dan dia membawa sebuah bekal untuknya dan juga Varo. Dia sangat semangat memberikan sesuatu untuk Varo.
"Ini, aku tahu jika kamu tidak suka makan nasi. Makaya aku membawakan ini untuk kamu" ucap Clara yang memberikan roti bakar yang tidak berbentuk dan sepertinya juga dipanggang terlalu lama.
__ADS_1
"Kenapa, kamu tidak menyukainya ya? Maaf, aku memang yang membuatnya sendiri. Jadi hasilnya begini deh, jika kamu ragu jangan kamu makan. Takutnya kamu sakit perut, hehehe" ucap Clara yang tersenyum meringis saat mengambil kembali kotak bekalnya dari tangan Varo.
"Jika sudah diberikan jangan diminta lagi" ucap Varo yang mengambil kembali kotak bekal milik Clara.
"Akan aku makan" ucap Varo yang langsung memasukan satu potong kecil kedalam mulutnya.
'Rasanya tidak terlalu buruk' ucap Varo dalam hati dan dia terus mengunyahnya perlahan.
"Kenapa? Tidak enak kan? Sebaiknya muntahkan saja, kamu bisa-bisa akan sakit perut" ucap Clara yang meminta Varo memuntahkan makanan yang sedang dalam mulutnya.
"Rasanya tidak buruk" ucap Varo setelah menelan nya perlahan.
"Benarkah? Akan aku coba juga. Soalnya belum aku coba sama sekali" tanya Clara yang segera memakan satu potong juga dan dia mengunyahnya perlahan.
"Lumayan lah" ucapnya setelah menelan rotinya.
"Jadi ini yang ingin kamu berikan padaku?" tanya Varo yang langsung diangguki oleh Clara.
"Apa kamu suka? Jika iya, aku akan membuatkan nya untuk kamu setiap hari dan akan belajar lebih baik lagi dari ini" ucap Clara yang tersenyum meringis mengatakan nya.
"Jika kamu ingin membawanya, bawa saja" ucap Varo yang terus membaca bukunya.
"Benar ya, kamu akan memakan nya bersama dengan ku? Karena kamu tahu sendiri jika aku ini tidak memiliki teman dan hanya kamu saja teman aku. Janji" ucap Clara yang mengulurkan jari kelingkingnya pada Varo.
Varo yang tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Clara hanya mengernyitkan keningnya bingung.
"Begini perjanjian teman" ucap Clara yang mengaitkan jati kelingkingnya dengan kelingking Varo.
"Kau ini aneh" ucap Varo yang menarik tangan nya dari tangan Clara.
"Aneh itu adalah nama lainku. Hahaha" ucap Clara dengan tawa renyah dibibirnya.
Varo mulai nyaman dan bisa sedikit-sedikit membuka suaranya pada Clara. Bahkan Clara tidak membuat Varo curiga dan dia sangat nyaman berteman dengan Clara hingga jarang berkumpul dengan saudaranya yang lain. Karena selalu bersama dengan Clara setiap saat disekolah. Jika dirumah mereka akan saling menelpon hingga tidak ada waktu untuk keluarga bersama.
"Kenapa sayang?" tanya David yang melihat Zahiya sangat panik dan dia terlihat kesal juga menatap layar laptopnya.
"Dia memang sengaja menggunakan anaknya untuk menghancurkan keluarga kita By" jawab Zahiya yang memperlihatkan seseorang yang sejak dulu menjadi musuhnya dan mereka dengan liciknya menggunakan putrinya untuk bisa masuk kedalam kehidupan mereka.
"Maksud kamu apa sayang? Aku tidak mengerti" tanya David yang memang tidak kenal dan tidak mengerti dengan semua yang ditunjukan oleh Zahiya padanya.
"By, anak perempuan ini adalah anak dari klan ku yang dulu ingin sekali menghancurkan aku dan juga keluargaku. Dan entah dari mana mereka tahu jika kelemahan aku ada pada Varo, anak yang sangat berbeda dengan anak-anak kita yang lain By" jelas Zahiya ternyata pembicaraan nya didengarkan oleh Varo yang ingin menanyakan sesuatu pada kedua orang tuanya.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang sayang? Tidak mungkin kita mengatakan nya pada Varo, dia akan tidak percaya dan mungkin akan menentang kita" ucap David yang malah membuat Zahiya semakin panik dan membenarkan apa yang dikatakan oleh David.
"Semua yang Mimi dan Pipi katakan tidak benar semuanyakan? Kenapa Mimi mengatakan itu pada teman baik ku?" tanya Varo yang langsung menerobos masuk kedalam kamar Zahiya dan David, kedua orang tuanya.
"Sayang, boy. Mimi bisa menjelaskan semuanya pada kamu, Mimi akan menceritakan segalanya pada kamu. Tapi kamu harus berjanji, jika kamu tidak akan melakukan sesuatu yang membuat kamu terluka nantinya" ucap Zahiya yang berbicara pelan pada Varo.
"Duduklah boy, Pipi dan Mimi akan menjelaskan semuanya" ucap David yang sudah ketar-ketir melihat raut tidak bersahabat dari Varo.
"Jelaskan semuanya sekarang" ucap Varo yang mengatakan nya dengan tatapan yang membuat Zahiya menjadi sedih dan juga marah pada orang yang sudah membuat putranya seperti ini.
"Apa kamu mendengar semuanya? Jika mendengar semuanya itulah kebenaran nya, dan itu yang Mimi tidak inginkan dari ini semua. Apa kamu bisa berjanji pada Mimi untuk tetap percaya pada Mimi?" tanya Zahiya dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca dan ini adalah untuk melihat bagaimana sikap Varo menanggapi kesedihan nya ini.
"Aku percaya pada Mimi. Aku akan membuat mereka menyesal telah melakukan ini semua padaku" ucap Varo yang segera menghapus air mata dipipi Zahiya, Mimi nya.
"Jangan, Mimi mohon. Kamu jangan melakukan apapun yang membuat kamu dalam bahaya, Mimi tidak mau" ucap Zahiya yang menggenggam tangan Varo.
"Aku akan melakukan itu dengan atau tanpa persetujuan dari Mimi" ucap Varo yang segera pergi dari kamar kedua orang tuanya.
"Ini yang aku takutkan By, ini" ucap Zahiya yang menangis dalam pelukan David dan dia tidak mungkin menyalahkan anak-anak. Karena mereka tidak tahu apa-apa tentang masalah mereka, para orang tua.
__ADS_1
.
Keesokan harinya Varo bersikap lebih berbeda lagi. Bahkan dia sudah melepaskan kacamata tebalnya dan pomade nya. Bahkan dia sekarang berpenampilan seperti anak yang terkesan urakan.
"Va, apa kamu tidak salah alamat sekolah dengan penampilan seperti itu? Ini bukan stile kamu" tanya Varaz yang menatap penampilan Varo.
"Inilah aku sebenarnya" jawab Varo tanpa mengalihkan pandangan nya dari makanan nya.
"Ini yang aku takutkan" gumam Variz yang masih bisa didengar oleh Varo juga.
"Apa yang kau katakan? Apa kau tidak suka dengan penampilan ku? Katakan saja" tanya Varo dengan pandangan tajamnya dan membuat Varaz menengahi mereka berdua.
"Sudah-sudah, kita ini saudara dan saudara saling membantu. Bukan beradu argument seperti ini, dan untuk kamu Va. Kamu bisa melakukan apa yang kamu suka dan kamu nyaman. Tapi kamu harus bisa menghormati saudara kamu yang lain. Untuk kamu Riz, kamu yang lebih dewasa dan pengertian jangan memancingnya dengan kata-kata kamu yang seperti itu. Kita harus selalu kompak dan bersama-sama hingga nanti, bukan seperti sekarang" ucap Varaz yang bisa menjadi penengah untuk saudaranya yang sedang berdebat.
Varo langsung pergi dari sana dan membawa tasnya meninggalkan ruangan makan dengan wajah dingin dan datarnya. Lalu seperti biasa Alvarez akan menghibur adiknya yang sedang seperti ini dengan tingkah konyolnya.
"Apa mau berangkat dengan abang adik manis?" tanya Alvarez yang membukakan pintu mobil untuk Varo.
Varo yang masih kesal hanya bisa diam dan duduk saja. Didalam fikiran nya dia akan membuat Clara atau siapapun yang berniat buruk padanya mendapatkan akibatnya. Itu sudah terbaca oleh Alvarez yang memang sudah dilatih sedemikian rupa oleh Zahiya dan Zayn secara langsung. Karena dia memang sangat menginginkan menjadi pengganti Zahiya sebagai Queen Mafia.
"Kamu jangan memendam amarah kamu seperti ini Oz, karena sangat tidak baik. Jika ingin abang mengajak kamu kesuatu tempat yang akan membuat kamu bisa tenang. Mau ikut?" tanya Alvarez yang menatap kearah Varo yang hanya diam saja. Dan itu bukan rahasia umum lagi.
"Aku ingin sekolah saja bang" ucap Varo yang sejak tadi diam saja.
"Baiklah, sekolah yang rajin. Karena kamu yang akan menjadi CEO PENZ.DRC selanjutnya. Karena ketiga saudaramu yang lain tidak berminat dengan perusahaan raksasa itu. Jadi harus tetap fokus" ucap Alvarez yang bisa membuat Varo sedikit melupakan kekesalan nya.
"Sudah sampai, turunlah" ucap Alvarez yang membukakan pintu mobil untuk Varo.
"Thanks brother" ucap Varo yang menepuk lengan Alvarez dan dia berjalan masuk kedalam sekolah.
"Varo" teriak Clara seperti biasa menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Varo balik dan itu membuat class senang dan dia tidak salah mengenali Varo.
"Nggak, aku takut salah mengenali orang. Karena penampilan kamu berubah" ucap Clara dengan senyuman dibibirnya.
"Apa ada yang salah?" tanya Varo yang menatap kearah Clara.
"Nggak, justru aku lebih suka kamu bisa berubah dan kelihatan lebih keren dari sebelumnya" jawab Clara yang tersenyum sangat manis pada Varo.
"Benarkah? Bisa ikut aku sebentar" tanya Varo yang mengajak Clara menuju taman belakang sekolah.
"Ada ap" ucap Clara yang tidak melanjutkan ucapan nya lagi karena tiba-tiba dia melihat sosok berbeda dari Varo.
"Apa ini yang kamu inginkan hmm? Karena kamu sudah membuatku melawan kedua orang tuaku karena kamu menjadi suruhan kedua orang tua kamu untuk menghancurkan ku bukan" ucap Varo yang mencengkram pipi Clara dengan kuat.
"Aku, aku tidak tahu apa-apa tentang ini semua. Aku, aku memang selalu bercerita tentang kamu pada mereka, tapi sungguh. Aku tidak tahu apa-apa, karena aku tulus ingin berteman dengan kamu" ucap Clara menahan tangan Varo yang terus mencengkramnya kuat.
"Lalu, taruhan mu dengan teman-teman mu? Apa kau juga tidak tahu apa-apa? Aku ingin lihat, bagaimana reaksi mereka jika tahu sahabat dan anak mereka terluka" ucap Varo yang bertanya pada Clara yang sudah sangat ketakutan melihat sikap Varo yang berubah drastis.
"Aku, aku awalnya memang bertaruh dengan mereka untuk bersenang-senang saja. Tapi setelah dekat dengan kamu aku berubah fikiran. Aku, aku merasakan nyaman berteman dengan kamu. Please, lepaskan... Ini sakit" ucap Clara dengan menangis kesakitan dan dia tidak ingin jika Varo salah faham padanya.
"Sayangnya aku tidak percaya" ucap Varo yang menghempaskan wajah Clara hingga dia tersungkur ditanah dan dia hampir mengenai batu jika saja Varaz tidak datang tepat waktu.
"Sebaiknya kamu pergi dan masuk kelas kamu" ucap Varaz yang meminta Clara pergi dari sana. Sebelum pergi, Clara mengatakan sesuatu pada Varo.
"Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tulus ingin berteman dengan kamu. Aku tidak perduli jika kamu tidak percaya lagi pada aku" ucap Clara yang segera berlari menuju kelasnya dengan tangisnya.
"Apa kamu sudah tidak waras! Kamu menyakiti seorang perempuan" ucap Varaz menatap kearah Varo yang hanya diam tidak bergeming.
"Kamu tahu kan jika dia itu teman yang selalu kamu dekati dan bahkan kamu tidak mau lagi gabung dengan saudara kamu sendiri. Tapi sekarang, kenapa kamu malah menyakitinya dengan begitu kasar? Apa kamu sudah lupa semua yang Mimi dan Pipi katakan, hah" teriak Varaz yang sudah tersulut emosi dan dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ini semua.
__ADS_1
"Bullshit" ucap Varo yang langsung pergi dari sana meninggalkan Varaz sendirian disana.
Varo ingin membuat Clara merasakan jika sakit dibohongi dan sakit fisik berbeda. Ternyata ini yang dinamakan tidak ada ketulusan dalam berteman. Varo hanya menghabisakan waktunya dengan membaca dan mengerjakan soal-soal dari gurunya, bahkan Varaz tidak dia hiraukan lagi. Membuat mereka terlihat seperti sedang perang dingin antar saudara.