
Sedangkan didalam ruangan lain, Zahiya dan David sedang duduk berdampingan dan menatap dua orang didepan nya. Siapa lagi jika bukan Viera dan Varo, putra mereka sendiri.
"Apa benar jika kalian tidak menjalin hubungan apa-apa? Jawab dengan tegas dan jujur" tanya Zahiya menatap satu persatu dua orang tersebut.
"Untuk saat ini memang belum ada Mi, tapi aku usahakan jika kami akan memiliki hubungan lebih dari sekedar dekat saja" jawab Varo yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Viera dan Viera langsung menyela ucapan Varo.
"Benar Nyonya, saya dengan nya tidak ada hubungan apa-apa. Kecuali bawahan dan atasan saja Nyonya" jawab Viera dengan tegas dan dia tidak ingin jika dia dianggap mencari keuntungan karena bisa dekat dengan Bos nya.
"Jadi, kalian ini sebenarnya belum memiliki hubungan? Kenapa kalian bisa dekat jika belum memiliki hubungan? Apa kalian berdua berteman?" tanya David menatap kearah dua orang didepan nya.
"Tidak, iya" jawab keduanya dengan kompak dan berbeda ucapan. Jika Varo mengatakan iya, maka Viera sebaliknya.
"Mana yang benar?" tanya David menatap keduanya dengan tegas.
"Saya, aku" jawab keduanya yang tidak mau mengalah satu sama lain.
"Kalian kompak sekali. Sekarang serius, Va dan kamu nak, apa kalian yakin jika kalian tidak menjalin hubungan apa-apa atau memiliki rasa satu sama lain?" tanya David yang menatap lekat kearah Varo dan Viera.
"Sudah saya katakan Tuan, jika saya tidak memiliki hubungan dan menjalin hubungan dengan putra anda. Saya harus menjelaskan nya seperti apa lagi agar anda berdua bisa percaya? Saya kemari juga dipaksa dan dengan ancaman juga. Jadi saya mau tidak mau ikut kemari dan berada ditengah-tengah keluarga anda. Maaf jika ucapan saya ini lancang" jawab Viera yang membuat Varo hanya diam dan dia menatap semakin dingin juga kedua tangan nya mengepal erat.
'Mimi tahu Va, jika kamu memiliki perasaan padanya. Tapi kelihatan nya jika wanita ini akan sulit kamu taklukan nak, Mimi hanya bisa mendo'akan juga menjaganya dari jauh. Semoga saja Allah memang menakdirkan kalian berdua bersatu, jika tidak Mimi mohon jangan pernah kamu menyakiti diri kamu sendiri lagi, jangan pernah lagi Va' ucap Zahiya dalam hati dan dia hanya bisa menatap kearah putranya yang terlihat seperti kejadian belasan tahun silam.
"Baiklah, maafkan putra saya Nona Xaviera Purnama. Kami atas nama putra kami, kami meminta maaf karena sudah membuat anda tidak nyaman. Sekarang, anda boleh pulang dan akan ada supir yang mengantarkan anda sampai dengan selamat kerumah" ucap David yang mempersilahkan Viera untuk pulang dan menatap kearah Varo yang hanya diam dan dengan tatapan sulit untuk diartikan.
"Saya permisi Tuan, Nyonya dan Tuan Muda. Assalamualaikum" ucap Viera yang segera bangkit dari duduknya dan membungkuk pamit pada ketiga orang tersebut.
.
"Akhirnya, gue bisa pulang juga. Mana bisa gue berada disini terus dan melihat orang-orang yang membuat gue pusing juga bingung" gumam Viera yang berjalan menuju pintu depan.
Saat sedang berjalan dia samar-samar mendengar seseorang sedang berbicara. Dia mendekat dan melihat kearah ruang keluarga tadi. Disana masih ada tiga pria yang mirip dengan Varo.
__ADS_1
"Bang, apa mungkin jika dia adalah wanita yang bang Varo ajak serius? Karena hanya dia yang diajak kemari olehnya" tanya Varuz pada Varaz yang mengedikan bahunya saja.
"Abang tidak tahu, semoga saja dia tidak melakukan atau terobsesi lagi akan sesuatu karena kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Karena abang orang pertama yang mungkin akan berlutut dihadapan nya supaya dia mau menerima Varo" jawab Varaz yang diangguki oleh Variz yang duduk disebelahnya.
"Semoga saja dia memang wanita yang tepat dan bisa melihat ketulusan dari bang Varo" ucap Varuz yang menghela nafasnya sedikit kasar saat mengatakan nya.
"Semoga Allah mendengarkan do'a kita semua, Amiin" ucap Variz yang diamnini oleh kedua saudaranya yang lain.
Apa yang mereka ucapkan tidak disadari jika ucapan nya didengar oleh orang yang mereka maksud, apa mungkin jika mereka akan diam dan benar-benar melakukan apa yang mereka ucapkan? Terutama Varaz yang mengatakan akan berlutut dihadapan Viera untuk mau menerima Varo menjadi seseorang yang penting untuknya. Atau justru dia mangkir dari ucapan nya sendiri? Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi.
'Apa yang dikatakan oleh mereka itu adalah kebenaran tentangnya? Jika iya, apa yang harus gue lakukan sekarang? Tidak mungkin jika gue menerimanya tanpa merasakan apa-apa padanya, Ya Allah... Jika memang dia yang Engkau pilihkan untuk ku, biarkan dia dekat, tapi jika sebaliknya. Jauhkan dia Ya Allah' ucap Viera yang langsung pergi dari sana setelah mendengarkan apa yang dibicarakan ketiga pria tersebut.
Dia keluar rumah dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah siap bersama dengan supirnya. Yang siap mengantarkan dirinya pulang dengan selamat sampai tujuan.
.
Sedangkan didalam ruangan yang tadi mereka berbicara. Zahiya, David dan Varo hanya saling diam. Varo berjalan kearah jendela yang terhubung kearah teras, dimana Viera masuk kedalam mobil yang ada disana.
Varo hanya diam dan menatap kearah mobil yang berjalan menjauh dari teras rumah.
"Jika memang iya, lekat dia dan buat dia nyaman juga bergantung padamu. Karena dengan begitu, kau bisa memilikinya" lanjut Zahiya lagi saat melihat Varo masih saja diam mematung ditempatnya berdiri.
"Sayang, jangan memaksanya untuk melakukan yang sama sekali bukan keinginan nya dan atas dasar kata hatinya. Jika yang dipaksakan akan tidak baik, jadi kita hanya mendukung apapun yang akan diputuskan oleh putra kita sayang" bukan Varo yang menjawab atau menyela ucapan Zahiya. Melainkan David yang mengatakan nya sambil merangkul bahu Varo yang lebih tinggi darinya.
"Jagoan, jika memang hati kamu mengatakan ingin memilikinya kejar dia. Jika dia masih tetap menjauh darimu, lakukan cara tarik ulur" ucap David yang membuat Varo mengernyitkan keningnya dan dia menatap kearah sang Pipi.
"Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapan ku barusan?" tanya David yang menatap kearah kedua orang kesayangan nya.
"Tidak ada yang salah By, tapi Hubby dapat dari mana kata-kata itu?" tanya Zahiya yang menatap heran pada suaminya.
"Dapat dari orang yang mengajarkan untuk bisa mengetahui apa yang ada didalam hati seorang wanita sayang. Apa kau lupa dengan kita dulu? Bukankah saat aku mengejarmu, kau semakin menjauh, tapi saat aku yang menjauh, justru kau yang mendekat padaku" jawab David dengan senyuman dibibirnya.
__ADS_1
"Jadi, jagoan. Kau akan mengikuti jejak Pipi atau ingin memantapkan hatimu dulu" tanya David yang ingin tahu apa yang dikatakan oleh Varo sekarang dan apa keputusan nya.
"Kita lihat saja nanti Pi, aku kekamar dulu" jawab Varo dengan singkat, jelas dan padat.
"By, aku takut jika dia akan seperti dulu lagi" ucap Zahiya yang merangkul pinggang David.
"Semoga saja tidak sayang. Kita do'akan dan kita dukung apa yang akan dia lakukan kedepan nya, jika memang ada kemungkinan seperti dulu lagi. Maka kita akan menggunakan cara lain yang lebih extreme, mungkin" ucap David yang menenangkan Zahiya supaya tidak khawatir pada Varo.
"Cara extreme? Maksud Hubby, kita akan memaksanya untuk mau bersama dengan Varo?" tanya Zahiya yang mendapatkan anggukan dan senyuman termanis dari David, suaminya.
"Makanya tadi aku memberikan saran supaya dia menggunakan cara tarik ulur. Jika berhasil itu akan lebih baik untuk mereka berdua, jika tidak kita yang akan turun tangan" jawab David yang langsung memeluk Zahiya dan mereka berpelukan bersama.
.
Sedangkan didalam kamar, Varo sedang menatap dirinya dicermin. Dia menatap dirinya sendiri didalam cermin lalu memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Pipi nya.
"Apa mungkin aku akan melakukan apa yang Pipi katakan tadi? Atau aku akan diam saja seperti ini dan... Aaaa, sial" teriak Varo yang meninju cermin tersebut hingga pecah berkeping-keping dan berantakan dilantai.
PRANG....
PYAR...
Varo tidak merasakan jika dirinya terluka, bahkan dia menggenggam pecahan kaca tersebut hingga darahnya berceceran dilantai dan semua orang menghampiri dirinya.
"Varo...!" teriak Zahiya yang melihat putranya terluka seperti itu. Dia panik dan segera memanggil Aruna untuk segera mengobati luka Varo.
"Varo...!" teriak semua orang dan tidak lama kemudian Aruna datang untuk mengobati luka Varo dengan tergesa-gesa.
"Cepat, cepat tangani dia segera!" ucap Zahiya mengatakan nya dengan sangat kencang pada Aruna.
"Anda tenang dulu Queen, saya akan segera mengobatinya" ucap Aruna yang segera memberikan pertolongan pertama untuk Varo.
__ADS_1
Semua orang yang ada disana menjadi panik, melihat keadaan Varo yang memprihatinkan. Mereka ketakutan jika kejadian belasan tahun silam terulang kembali dan membuat mereka semakin tidak tenang akan semua ini.