
"Bagaimana dengan menantu saya, apa dia baik-baik saja?" tanya Zahiya lagi menatap dengan sangat serius pada dokter Aruna.
"Kondisinya baik-baik saja Queen, dia juga sudah melewati masa keritisnya. Hanya menunggu siuman saja, karena beliau mendonorkan darahnya dengan sangat banyak. Jadi kita tunggu saja semuanya hingga benar-benar pulih kembali" bukan dokter Aruna yang menjawab pertanyaan dari Zahiya. Melainkan Aaron Ryan, Ayah kandung dokter Aruna yang sudah mengabdikan dirinya pada Zayn. Ayah Zahiya.
"Apa kau yakin uncle? Jangan pernah mengatakan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Saya tidak suka jika ada kebohongan dari kata-kata uncle" ucap Zahiya yang bertanya dengan nada yang sangat datar dan dingin.
"Anda bisa memegang kata-kata saya Queen, karena selama ini saya sudah selalu mengatakan apa yang memang itulah kebenaran nya. Jika saya berbohong dan terjadi sesuatu pada Nona Muda, saya bersiap menanggung hukuman yang berat dari anda atau King sekalipun" jawab Aaron dengan tegas pada Zahiya.
"Saya percaya pada uncle. Karena uncle adalah orang kepercayaan Daddy selama ini" ucap Zahiya yang mengangguk dan dia terduduk kembali.
"Terimakasih Aaron, kalian boleh pergi dan saling melepas rindu. Jika terjadi sesuatu kami akan memanggil kalian lagi. Sekali lagi terimakasih banyak" ucap David yang merangkul bahu Zahiya dan membuatnya tenang.
"Terimakasih Tuan. Ini memang sudah menjadi tugas kami sebagai seorang dokter keluarga Malik dan Tomlinson sekarang" jawab Aaron yang mengajak anaknya untuk kedalam ruangan nya.
"Sayang, kita do'akan saja semuanya baik-baik saja. Jika Aaron sudah bilang semuanya baik-baik saja, maka semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya harus berfikir positive tingking saja untuk putra kita dan juga menantu kita" ucap David yang memeluk Zahiya dan mengusap punggung dan kepala istrinya tercinta.
"Iya By, aku selalu mendo'akan mereka berdua. Aku hanya tidak habis fikir saja dengan apa yang dilakukan oleh Varo. Kenapa dia selalu menyakiti diri sendiri dan juga wanita yang dia cintai? Aku benar-benar bingung mengartikan nya" ucap Zahiya yang memeluk David dan menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya.
"Sabar saja sayang, mungkin putra kita ini belum memikirkan apa dampak yang akan terjadi jika dia selalu seperti ini. Mudah-mudahan, setelah ini dia bisa berubah dan tidak selalu melakukan hal yang sama terus-menerus. Kita harus bisa menasehatinya dan selalu ada untuknya, dengan begitu dia bisa berfikir dengan sehat" ucap David yang langsung mendapatkan anggukan dari Zahiya.
__ADS_1
Kedua orang tua itu sedang saling mengiyakan satu sama lain. Sedangkan tidak lama kemudian datang anak-anak mereka yang lain, setelah mendapatkan kabar, jika adik mereka sedang dalam masa kritis. Begitu juga dengan Xaqer yang datang dengan Varez.
"Mi, Pi bagaimana keadaan Varo sekarang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Varez yang diangguki oleh adik-adiknya yang lain.
"Dia sudah sadar dan sekarang sedang istirahat. Kalian semua sengaja datang kemari? Apa Oma dan Opa tahu semua ini?" jawab Zahiya yang baik bertanya pada Varez.
"Kami memang dari tempat kerja masing-masing Mi, jadi Oma dan Opa tidak tahu" jawab Varaz mewakili saudaranya yang lain.
"Syukurlah, Mimi hanya tidak mau jika beliau tegang dan tekanan darah mereka naik lagi. Bisa berbahaya, apa lagi Oma kalian" ucap Zahiya yang mengangguk selalu mengkhawatirkan keadaan kedua mertuanya.
"Mimi tenang saja, kami juga mengerti kok. Jadi jangan difikirkan masalah itu, kita do'akan saja semuanya baik-baik saja" ucap Variz yang paling bijaksana dibandingkan dengan saudaranya yang lain.
"Kakak kamu ada didalam, dia sedang menemani Varo. Dan kami berdua juga tidak boleh menjenguknya, karena ini adalah ruangan steril" jawab David pada Xaqer. Karena David tidak mau jika Xaqer semakin khawatir akan keadaan kakaknya itu.
"Syukurlah, saya kira dia tidak tahu akan keadaan bang Varo" ucap Xaqer yang menghembuskan nafasnya lega akan jawaban dari David.
Mereka semua kembali diam dan hanya terdengar kembusan nafas mereka saja. Tidak lama kemudian Leonard datang untuk menyampaikan sesuatu pada Varez.
"Permisi Queen, Tuan. Saya ingin berbicara dengan prince sebentar sekarang juga" ucap Leonard pada Zahiya dan David.
__ADS_1
Zahiya hanya mengangguk dan membiarkan Leonard mengajak Varez untuk keluar dari rumah sakit.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Varez yang langsung to the point pada Leonard.
"Saya menemukan kejanggalan pada salah satu anggota kita prince, dia sepertinya sudah mengkhianati kita semua dengan menjual semua informasi yang kita miliki. Dan kamu sedang mengikutinya bertemu dengan seseorang yang kita curigai" jawab Leonard yang memberikan bukti-bukti yang dia dapatkan dengan sangat detail.
"Kita kesana sekarang juga. Jangan biarkan dia logos dan memberikan semua informasi tentang kita pada mereka" ucap Varez segera masuk kedalam mobil yang sudah siap didepan nya.
'Rupanya ada yang ingin mengajak ku bermain-main rupanya. Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi setelahnya. Akan ku pastikan, jika kau tidak akan pernah bisa selamat dari ku' ucap Varez tersenyum devil saat dia akan melakukan peregangan otot-ototnya yang kaku.
'Jika anda sudah tersenyum seperti itu, sudah dipastikan dia tidak akan selamat lagi. Baik pengkhianat itu, maupun seseorang yang berada dibelakangnya. Kalian salah dalam mencari lawan' ucap Leonard dalam hati, dia merasa bergidik ngeri saat melihat senyuman menakutkan dari Varez.
Mereka langsung bersiap-siap untuk menyerang mereka semua. Sedangkan didalam rumah sakit, terjadi kehebohan kembali. Saat mendapatkan kabar yang mengejutkan.
Bagaimana tidak heboh dan panik. Jika tombol darurat ditekan dan semua dokter juga perawat langsung berhamburan. Termasuk Aaron dan Aruna, mereka berdua berlari menuju ruangan UGD.
'Honey, aku mohon jangan seperti ini. Aku tidak bisa jika harus kehilangan kamu, aku akan ikut dengan mu kemanapun kau pergi. Tolong jangan seperti ini, jangan menghukum ku dengan cara seperti ini. Jika marah dan ingin memaki ku silahkan saja, bahkan jika ingin memukul ku juga aku akan menerimanya dengan baik. Jangan seperti ini, aku mohon pada kamu honey' ucap Varo yang terus menggenggam tangan Viera dan dia menangis dengan derasnya.
Baik Arron maupun Aruna tidak ada yang berani meminta Varo untuk menjauh dari Viera. Walau mereka sedikit kesulitan untuk memeriksa keadaan Viera yang tiba-tiba kejang-kejang.
__ADS_1
Mereka berdua tidak seberani itu untuk meminta Varo menjauh dari Viera. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan yang tepat, baik Varo dan kedua dokter yang menangani Viera merasa lega. Karena Viera sudah tidak kejang-kejang lagi. Hanya kondisinya masih kritis dan lebih parah lagi dibandingkan sebelumnya.