
"Eh bambank, bukan nya kamu itu memiliki adik yang genius. Kenapa tidak meminta bantuan nya saja? Malah minta gue nanya-nanya hal pribadinya dia. Loe emang kadang-kadang ngeselin" ucap Junior yang beranjak dari duduknya meninggalkan Varez yang menggerutu kesal padanya.
"Eh, kenapa gue malah ditinggal. Dasar dodol" gumam Varez yang segera mengikuti langkah Junior menuju ruangan kerjanya itu.
"Kenapa loe ngikutin gue? Apa loe nggak ada kerjaan lain apa? Gue harus balik kantor lagi, gara-gara loe yang tiba-tiba manggil gue dateng. Jadi makin ribet hidup gue" tanya Junior yang menggerutu dan dia segera menggunakan stelan jas nya seperti biasa.
"Gue memang sedang senggang. Makanya gue dateng kemari" jawab Varez dengan santainya dan dia malah duduk diatas sofa dengan menyilangkan kedua kakinya dihadapan Junior.
"Serah loe. Gue pergi, jika ada apa-apa loe bisa urus sendiri" ucap Junior yang langsung meninggalkan Varez sendiri didalam ruangan nya.
"Dasar bajingan tua. Bisa-bisanya dia meninggalkan ku sendirian, awas saja. Akan gue aduin sama buldoser itu" gumam Varez yang juga ikut meninggalkan ruangan kerja Junior yang memang sudah kosong.
.
Sedangkan masih berada didalam rumah sakit. Dimana Varo dengan Viera sedang duduk menikmati senja yang sangat indah dipandang mata.
"Bang, apa abang akan tetap seperti ini?" tanya Viera mendongakan kepalanya menatap wajah Varo yang berada diatasnya.
Karena sekarang posisi mereka sedang berpelukan. Lebih tepatnya Varo yang sedang memeluk Viera dari belakang dengan posisi duduk diatas sofa.
"Kenapa memangnya? Apa kamu menginginkan sesuatu, hmm?" Varo balik bertanya pada Viera yang menghela nafasnya.
"Abang fikir? Aku bosan disini terus dan dikurung mirip tahanan aja" jawab Viera yang mengerucutkan bibirnya saat Varo malah bertanya padanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu? Aku tidak pernah menahan kamu dan mengurung kamu" tanya Varo lagi sambil mengusap pipi Viera.
"Aku sudah bilang, jika aku bosan dan ingin keluar. Kenapa nggak ngerti juga sih? Cape, lama-lama ngomong sama abang" ucap Viera yang melepaskan pelukan Varo dan dia segera pergi dari dalam ruangan rawat masih menggunakan pakaian pasien.
"Dia kenapa? Apa dia baik-baik saja? Kenapa malah marah-marah seperti itu? Wanita memang sulit dimengerti" gumam Varo yang segera mengganti pakaian nya dan segera mengejar Viera.
"Dasar kanebo kering! Udah tahu gue paling nggak suka berada didalam ruangan terus-terusan, masih juga ngurung gue. Jika sudah begini, yang ada gue kek orang waras kan ngomong sendiri kagak jelas. Huh, dasar" gerutu Viera yang terus berjalan melewati koridor rumah sakit yang sangat besar tersebut.
"Mana gue lupa nggak ganti baju dulu lagi. Pasti ini mah, jika gue disangka pasien kabur yang kagak sanggup bayar dirawat disini. Nasib gue gini amat ya? Si amat saja mungkin lebih mujur dibandingkan gue" gumam Viera lagi yang terus berjalan.
Tanpa dia sadari jika orang yang sedang dia hindari sudah berjalan disampingnya sambil meletakan kedua tangan nya didalam saku celananya.
"Apa gue kudu pergi saja gitu dari dia? Kenapa juga gue masih sama dia kalo dianya aja kagak ngerti. Tapi... " gumamnya lagi sambil terus berjalan gontai dan sesekali mengusap wajahnya sendiri.
"Tapi apa?" tanya Varo yang sudah berdiri disampingnya sambil menatap tajam pada Viera.
"Kumpul, kumpul, kumpul" gumamnya sambil mengusap-ngusap dadanya sendiri.
"Apa ada yang sakit? Katakan, apa ada yang sakit? Kita masuk kembali kedalam dan kamu diperiksa dokter" ucap Varo panik dan dia akan mengangkat Viera.
"Apa-apaan sih abang nih. Aku cuman kaget saja bang. Lagian kenapa abang malah ngaggtin segala sih? Jangan bawa aku masuk lagi kedalam, aku ingin keluar dan menikmati suara segar malam ini" ucap Viera yang menolak Varo akan menggendongnya.
"Apa kamu yakin jika kamu baik-baik saja?" tanya Varo lagi sambil terus menatap Viera dan membolak balikan tubuh Viera. Lalu menangkup wajah Viera.
__ADS_1
"Iya, aku baik-baik saja. Aku ingin jalan-jalan, boleh kan bang?" jawab Viera lalu bertanya pada Varo.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Kamu harus banyak istirahat dan jangan cape-cape" ucap Varo yang mengangguk setuju, lalu merangkul pinggang Viera menuju mobilnya.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu pada abang, abang yang sedang sakit dan lihat luka ditangan abang itu? Masih sakit bukan?" ucap Viera yang memegang tangan Varo dan mengusapnya.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku honey. Maaf, jika sikapku ini kamu anggap mengekang. Ini aku lakukan karena aku tidak ingin kehilangan kamu. Jadi, jangan pernah berfikiran ingin meninggalkan aku. Jika menginginkan sesuatu, maka bilang saja, sebisaku akan aku usahakan hanya untuk kamu" ucap Varo yang segera memeluk Viera dan dia begitu bahagia bisa mendapatkan wanitanya dan memilikinya juga.
"Iya, aku tidak akan meninggalkan abang. Aku hanya ingin pergi jika abang mengizinkan nya, jika pun tidak, maka. Aku akan memaksanya" ucap Viera sambil tersenyum dan dia merasa sangat dicintai dan begitu diratukan oleh Varo.
"Kau ini. Jadi, kita akan kemana sekarang?" tanya Varo setelah masuk kedalam mobil yang sudah ada supir didalamnya.
"Aku ingin jalan-jalan. Tapi, apa mungkin aku berpakaian seperti pasien seperti ini?" tanya Viera yang memperlihatkan pakaian yang dia kenakan.
"Memangnya kau ingin pergi kemana? Jika ingin jalan-jalan saja seperti ini juga tidak masalah bukan?" Varo malah balik bertanya pada Viera.
"His, menyebalkan. Kenapa berubah lagi sih setingan nya? Baru saja mengatakan kata-kata manisnya. Sekarang balik lagi kepengaturan awal. Aku ingin jalan-jalan ala aku dan abang harus mengikutinya TITIK" ucap Viera yang mengerucutkan bibirnya dan dia mengalihkan pandangan nya kearah lain.
"Baiklah" ucap Varo yang meminta supirnya untuk mengantarkan mereka ke butik langganan nya.
Setelah berganti pakaian dengan keinginan nya sendiri. Viera merasa sangat nyaman dan dia ingin mengajak Varo berjalan-jalan sekitar taman kota saja, dan jajan jajanan pinggir jalan.
"Kenapa mengajak kemari? Bukankah ini sering kita lewati saat akan ke apartment atau hotel?" tanya Varo saat dia diajak berjalan kaki dan meninggalkan supir beserta mobilnya didepan jalan.
__ADS_1
"Inilah jalan-jalan ala aku. Apa abang tidak suka? Padahal disini sangat bagus dan udaranya juga sangat sejuk saat malam seperti ini. Aku sering datang kemari saat sedang sedih dan banyak fikiran. Apa lagi jika sedang mengingat Ayah dan Ibu, aku akan datang kemari dan melihat langit malam yang gelap seperti sekarang" ucap Viera yang menatap langit malam sambil meneteskan air matanya tanpa terasa.
Varo yang mendengarnya dan melihat kearah Viera merasa sangat menyesal sudah mengatakan hal yang menyepelekan. Ingin rasanya Varo kembali melukai dirinya lagi, saat melihat Viera yang menangis dalam diamnya.