Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Canggung


__ADS_3

"Kau boleh keluar sekarang" ucap Varo pada Aruna yang langsung mengangguk.


"Kenapa? Apa masih terasa sakit, atau makin sakitnya?" tanya Varo saat melihat Viera hanya diam saja dan sesekali meringis kesakitan.


"Gue baik-baik saja, gue mau pulang" jawab Viera langsung bangkit dari berbaringnya.


"Kau istirahat saja dulu disini, apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi padamu. Sebaiknya kau istirahat dan meminum obatnya dulu" ucap Varo memberikan dua butir obat pada Viera.


"Gue bisa sendiri!" jawab Viera yang mengambil obat dari tangan Varo dengan kasar.


'Kenapa loe selalu bersikap baik pada gue, disaat gue tidak mungkin bisa dekat dengan loe. jangankan dekat, dari kasta dan status sosial saja sangat berbeda jauh. Apa mungkin gue suka sama loe? Tapi apa mungkin?' ucap Viera dalam hati dan dia hanya diam saja sambil menunduk setelah meminum obatnya.


"Kenapa diam saja? Apa ada seauatu, atau masih merasakan sakit dan lebih dari sebelumnya? Atau bagaimana" tanya Varo yang memegang tangan Viera dan mengusap perut Viera perlahan.


"Kenapa sih, loe selalu bersikap baik pada gue? Apa yang loe inginkan dari gue? Gue cape jika harus seperti ini, gue nggak mau jika harus disebut dengan cewek kagak bener. Gue ingin hidup tenang, gue ingin seperti kehidupan gue yang dulu" ucap Viera yang melemah, dia menunduk dan menangis terisak.


"Gue hanya ingin tenang dan tidak ada yang mengganggu hidup gue. Gue ingin ketenangan gue kembali" gumamnya lagi.


"Apa aku selama ini mengganggu mu? Apa selama ini kau terganggu dengan adanya aku?" tanya Varo yang memegang bahu Viera dan dia mengangkat dagu Viera.


"Gue harus jawab apa? Apa gue selama ini bisa menolaknya? Nggak bisa, gue tidak bisa melakukan nya. Lalu apa yang harus gue lakukan, apa?" Viera balik bertanya pada Varo sambil terus terisak.


Saat Varo akan menjawab pertanyaan dari Viera, Zahiya datang membawakan makanan untuk Viera yang sedang duduk diatas ranjang.


"Va, apa dia baik-baik saja?" tanya Zahiya yang meletakan makanan diatas nakas.


"Iya Mi, dia baik-baik saja. Hanya sedang sakit perut akibat tamu bulanan nya" jawab Varo pada Zahiya yang bertanya.


Viera hanya diam dan tidak berani menatap kearah Zahiya yang terlihat sangat menakutkan menurut Viera, karena aura Zahiya memang sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang terlihat ramah dan humble.


"Apa masih merasakan sakit? Jika masih, saya akan membawakan air hangat untuk mengompres perutnya" tanya Zahiya dengan wajah datarnya.


"Saya baik-baik saja Nyonya, sebentar juga sembuh" jawab Viera dengan gugup dan dia mere*as selimut yang menutupi kakinya.

__ADS_1


"Benarkah? Jika begitu makan saja dulu, lalu minum air jahe ini. Supaya terasa hangat dan nyaman diperut kamu" ucap Zahiya yang memberikan satu mangkuk sup dan satu cangkir air jahe hangat.


"Terimakasih Nyonya, maaf, saya merepotkan anda" ucap Viera yang merasa sungkan dan itu membuat Varo merasa jika Mimi nya sudah welcome pada Viera.


"Sama-sama. Sama sekali tidak merepotkan, jadi silahkan dimakan, selagi masih hangat supnya" ucap Zahiya yang mengangguk.


"Terimakasih Nyonya" ucap Viera yang langsung memakan sup tersebut dan dia makan dengan sangat perlahan. Karena dia merasa canggung dan tidak nyaman.


Varo hanya diam saja dan memperhatikan interaksi keduanya yang mungkin salah satunya canggung. Tapi dia merasa senang, karena walau sikap Mimi nya terkesan dingin dan datar, tapi sangat perhatian dan sangat menyayangi semua orang. Jadi Varo sangat mempercayai Zahiya, Mimi nya sendiri.


.


Sedangkan diluar ruangan, saudara kembar Varo, Pipi David dan jangan lupakan Citra yang masih disana. Mereka semua sedang membicarakan Varo yang membawa seorang gadis untuk pertama kalinya.


"Pi, apa dia gadis pilihan Varo?" tanya Varaz yang menatap kearah ruangan khusus periksa.


"Mungkin saja, karena siapa tahu jika dia hanya teman saja. Kita lihat saja nanti dan tanyakan semuanya pada Mimi kamu" jawab Pipi David membuat Varaz merasa jika ini bukan jawaban yang dia inginkan.


"Bisakah Pipi memberikan jawaban yang pasti? Bukan malah sebaliknya" gerutu Varaz yang malah langsung duduk saat mendengar pintu ruangan terbuka dari dalam.


"Kami sedang menunggu Mimi keluar dan ingin menanyakan perihal siapa yang ada didalam" jawab Variz mewakili saudaranya yang lain.


"Oh" ucap Zahiya yang langsung meninggalkan mereka semua sambil membawa nampan berisi mangkuk kosong dan gelas kosongnya juga.


"Lah, kenapa Mimi malah pergi? Bahkan kita belum bertanya siapa didalam" gumam Varuz yang menatap punggung Zahiya.


"Biarkan saja, lebih baik kita pergi dari ini. Biarkan mereka memiliki prifasi sendiri, kita akan bertanya jika memang Varo ingin menceritakan nya" ucap Pipi David yang meninggalkan anak-anaknya untuk mengajak istri tercinta.


"Ya sudah, lebih baik kita bubar saja. Kita berkumpul lagi nanti saat makan malam" ucap Varaz yang melangkah lebih dulu dari saudaranya yang lain.


"Lalu aku bagaimana? Jika kalian pergi, aku akan sendirian dan tidak ada teman dong bang?" tanya Citra yang menatap semua saudara sepupunya.


"Ya, tidak bagaimana-bagaimana. Kamu pulang dan istirahat, besok kan kamu akan mulai bekerja di hotel bukan? Jadi persiapkan saja diri kamu dan buktikan pada Mama dan Papa, jika kau bisa" ucap Variz yang mengusap kepala Citra dengan lembut dan tersenyum, lalu pergi dari hadapan Citra.

__ADS_1


"Kau pulang saja Ci, karena kau tidak dibutuhkan disini" ucap Varuz yang tersenyum mengejek pada Citra.


"Bang Varuz nyebelin" ucap Citra yang menghentak-hentakan kakinya dilantai sambil mengerucutkan bibirnya, lalu pergi.


.


Didalam ruangan baik Varo maupun Viera hanya diam dan tidak ada yang bersuara, Varo mendekati Viera yang masih diam dan hanya duduk saja.


"Apa sudah lebih baik? Kenapa tidak istirahat dan tidur saja?" tanya Varo melihat kearah Viera yang sudah terlihat lebih segar dan tidak pucat lagi.


"Hmm, gue sudah lebih baik. Gue mana bisa tidur ditempat asking seperti ini, gue hanya ingin pulang" jawab Viera yang mengalihkan pandangan nya dari Varo.


"Aku sudah bilang pada Xaqer, jika kau tidak akan bisa pulang dan berada bersama dengan ku, karena kau harus banyak istirahat juga jangan kelelahan. Jadi dia mengizinkan nya, sekarang lebih baik kau jangan keras kepala jika disuruh untuk istirahat" ucap Varo yang langsung membuat Viera membolakan matanya.


"Apa loe sudah kehilangan akal! Atau otak loe ketinggalan disuatu tempat. Enteng banget loe mengatakan itu pada adik gue?" ucap Viera yang menggelengkan kepalanya dan dia berdecak kesal pada Varo. Dia juga mengumpatinya terus.


"Ini semua untuk kebaikan kamu sendiri. Terserah jika kau menganggap ku seperti itu, yang jelas. Aku sudah mengatakan nya pada Xaqer, jadi kau tidak akan ku biarkan pulang, apa lagi pergi dariku lagi. Faham" ucap Varo yang mengatakan nya dengan sangat tegas.


"Dasar gila, aneh, tidak waras, kaku dan yang buruk-buruk juga jelek-jelek ada pada loe semua. Gue ngaku dan nggak mau kenal apa lagi dekat dengan loe!" teriak Viera yang langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Varo.


"Terimakasih, aku melakukan ini hanya untuk kebaikan kamu saja" ucap Varo yang mengatakan terimakasih dan sisanya hanya dalam hatinya.


Viera tidak menanggapi apa yang dikatakan Varo padanya. Dia malah memejamkan matanya, Varo melakukan hal yang sama juga, dia berbaring disamping Viera dan memeluknya dari belakang.


'Aku akan berusaha membuatmu merasa nyaman dan tidak akan kesepian apa lagi bersedih. Kenapa kau tidak bisa melihat ketulusan yang ada didalam diriku ini Xa? Aku tidak bisa jika harus bersikap manis dan banyak bicara, apa lagi harus membual. Aku tidak bisa' ucap Varo dalam hati sambil memeluk pinggang Viera dari belakang.


Mereka berdua memejamkan matanya dan saling memeluk tanpa Viera sadari. Sedangkan diluar semuanya sedang berkumpul, termasuk Oma Lulu dan Opa Devon juga ada disana semua.


"Za, apa Varo sudah memiliki tambatan hatinya? Mama sangat senang saat mendengar mereka ini membicarakan Varo yang membawa seorang gadis" tanya Oma Lulu yang membuat Opa Devon mengangguk setuju.


"Iya Ma, dia memang membawa seorang gadis. Dan kelihatan nya juga dia memang menauruh hatinya pada gadis itu, tapi yang aku lihat malah sebaliknya. Karena gadis itu sepertinya tidak memiliki parasaan apa-apa pada Varo" jawab Zahiya yang membuat David mengernyitkan keningnya, juga dengan anak-anaknya yang lain.


"Bagaimana bisa sayang? Aku kira dia memiliki parasaan juga pada Varo, karena dia sudah mau diajak kemari" tanya David yang menatap kearah Zahiya.

__ADS_1


Semua orang saling diam, dalam fikiran nya masing-masing. Entah memikirkan apa mereka semua, hingga diamnya mereka terusik akan kedatangan pelayan yang mengatakan jika makan malam sudah siap.


__ADS_2