Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Cuek


__ADS_3

Semua kariawan sudah berbaris dengan sangat rapih dan menunggu kedatangan big Bos mereka. Saat menapakan kakinya dilantai semua mata tertuju pada seseorang wanita yang sangat cantik dan juga terlihat sangat cantik juga elegant.


Jangan lupakan jika dia itu menggunakan hijab yang sangat manis. Mereka berjalan dengan beriringan juga bergandengan tangan, apa lagi wanita cantik tersebut terlihat sangat tegas. Membuat hati seseorang menjadi menceos, Siapa lagi jika bukan Viera yang melihatnya merasa tidak enak dan ada yang sakit tapi tidak berdarah.


'Ada apa dengan gue? Kenapa gue merasakan ada yang aneh melihat mereka berjalan bergandengan seperti itu? Ada apa ini, Vi. Loe jangan seperti itu, itu yang diinginkan olehnya dan lihatlah dia, dia sangat cantik dan mereka sangat serasi sekali. Sebaiknya loe sadar diri' ucapnya dalam hati dan dia hanya bisa menunduk merasakan sedih yang tidak dia sadari kenapa.


'Maafkan aku, aku hanya tidak ingin jika kamu akan selalu mengingat kejadian malam itu. Aku hanya ingin supaya kamu bisa hidup dengan tenang dan tanpa bayang-bayang dariku' gumam Varo dalam hati dan dia terus menggandeng tangan gadis berhijab itu.


"Loe kenapa sih, kenapa kelihatan tidak bersemangat gitu sih?" tanya Lina saat melihat Viera tidak bersemangat dan hanya diam saja. Yang biasanya banyak bicara sekarang jadi pendiam.


"Nggak kenapa-kenapa. Gue duluan ya" ucap Viera yang langsung berlari menuju ruangan lain.


"Lah, kenapa tuh bocah?" gumam Lina yang melihat Viera berlari kearah lain darinya.


"Kenapa gue merasa sesak dengan semua ini?" ucapnya setelah berada didalam kamar mandi sendirian dan menepuk-nepuk dadanya sendiri.


"Apa mungkin gue memiliki parasaan padanya? Dih, amit-amit gue" gumamnya lagi yang langsung keluar dan mengerjakan tugasnya kembali.


.


Sedangkan didalam ruangan lain, lebih tepatnya didalam ruangan Varo. Dia sedang ditempeli terus oleh gadis yang dia katakan kesana.


"Apa kau tidak bisa duduk saja diam? Kenapa harus melakukan berada didekatku terus?" tanya Varo yang melihat gadis berhijab itu.


"Tidak bisa bang, aku tidak ingin jika harus bertemu dengan pria aneh itu lagi. Lagian abang kenapa ngajakin aku kesini sih" tanyanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Abang ngajak kamu kemari untuk bisa mengelolanya. Kau bilang, ingin belajar mengurus hotel. Jadi sekaranglah waktunya" jawab Varo dengan memberikan setumpuk berkas untuk dipelajari oleh gadis berhijab tersebut.


"Ini apaan? Kenapa abang ngasi ini ke aku?" tanya gadis berhijab tersebut, yang tidak lain adalah adik sepupunya sendiri. Anak dari Uncle Dava yang bungsu.


"Ci, kenapa kau kemari jika tidak mengerjakan semua ini? Apa kau kemari memang hanya ingin bertemu dengan nya?" tanya Varo yang menatap kearah Citra, adik sepupunya itu.


"Iya tahu, tapi tidak sebanyak ini juga keles. Abang kira aku ini apakah?" tanya Citra yang menggerutu dan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara. Sebaiknya kau kerjaan dan pelajari semuanya, jangan ada kesalahan" ucap Varo yang membuat Citra semakin misuh-misuh karena dia salah ingin meminta bantuan.


"Dasar nyebelin, tahu gini. Aku akan minta bantuan pada bang Varuz, dia lebih manusiawi" gerutu Citra yang menatap kearah berkas-berkas didepan nya sekarang.


Varo hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat dan mendengar apa yang dilakukan oleh Citra, dimana dia mengerjakan nya sambil menggerutu dan juga misuh-misuh nggak jelas.


Mereka berdua saling diam dan tidak ada yang bersuara sama sekali. Hingga pekerjaan nya selesai dan mereka akan keluar, tapi saat sedang berjalan mereka berpapasan dengan Viera yang sedang membawa makanan pesanan menuju arah lift.


'Kenapa bang Varo? Kenapa... Ah, aku tahu. Jangan-jangan dia adalah gadis yang sering diceritakan oleh bang Varaz, akan aku bikin mereka berdua bersatu' ucap Citra dalam hati dan dia tersenyum smirks.


"Abang, kita akan kemana lagi? Apa kita akan bertemu dengan Mimi dan Pipi? Aku sudah sangat merindukan nya, apa lagi aku juga baru menyelesaikan kuliah diluar dan belum pernah bertemu dengan Mimi Za dan Pipi David" ucap Citra yang bergelayutan manja pada lengan Varo.


'Apa mereka sudah sedekat itu? Sampai-sampai panggilan kedua orang tuanya saja sama? Ah, kenapa juga gue masih memikirkan ini terus? Come on Vi, loe jangan seperti ini' ucapnya yang menunduk dan dia merasa jika dadanya terasa sesak dan merasa tidak nyaman jika melihat keduanya.


Varo hanya diam dan mengernyitkan keningnya menatap aneh pada Citra yang bersikap aneh. Lalu tatapan nya tertuju pada Viera yang hanya diam dan menunduk. Lalu dia melewati mereka tanpa menatap kearahnya.


'Dia kenapa? Apa dia menyangka jika aku dan Citra memiliki hubungan? Kenapa aku merasa sedih melihatnya seperti itu?' ucap Varo saat Viera melewatinya dan terlihat sangat sedih saat tidak sengaja dia menatap kearah matanya.


"Apa kau tidak bisa diam walau hanya sejenak saja?" ucap Varo yang masih menatap kearah punggung Viera.


"Jika sayang dan cinta itu sebaiknya dikatakan. Bukan malah hanya diam dan melihatnya saja seperti ini" ucap seorang yang tidak lain adalah Varez. Entah sejak kapan berada disana melihat segalanya.


"Abang..." teriak Citra yang akan memeluk Varez langsung ditahan kepalanya oleh Varez.


"Bisa nggak sih, kamu itu bersikap kalem dan nggak pecicilan kayak gini?" ucap Varez yang masih menahan kening Citra untuk menjauh darinya.


"Kalian berdua memang menyebalkan!" ucap Citra yang menghentak-hentakan kakinya dan langsung pergi dari kedua pria menyebalkan menurutnya.


"Terimakasih, kamu hati-hati dijalan" ucap Varez yang melambaikan tangan nya pada Citra yang misuh-misuh.


"Apa kau itu memang sudah menjadi hantu? Selalu saja muncul dimana-mana" tanya Varo yang juga melangkah menjauhi Varez.


"Jika iya, makan kau sendiri adalah hantu juga. Karena kau bisa melihat ku dan berbicara dengan ku" jawab Varez yang mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Varo.

__ADS_1


"What ever" ucap Varo yang pergi dan masuk kedalam lift untuk menuju lobby.


"Dia ini. Kau bisa saja bersikap cuek dan seolah tidak memiliki hati Va, kau hanya butuh menyendiri dan merenungi fikiran dan juga hati mu itu. Jika kau sudah mengerti, maka kau akan menyesal. Karena kau tidak menyadari sejak awal" gumam Varez yang melihat mobil Varo sudah melaju meninggalkan nya.


"Aku akan menguji, bagaimana bar-bar dan galaknya seperti apa" gumamnya lagi sambil berjalan kearah kamar hotel kesukaan nya.


"Maaf, apa saya bisa meminta tolong pada anda Nona?" tanya Varez yang entah sejak kapan sudah berada didalam kamar tersebut. Dan tepat saat Viera selesai mengantarkan pesanan dari penyewa kamar.


"Bisa Tuan, apa yang anda butuhkan?" tanya Viera setelah menjawab pertanyaan dari Varez.


"Tolong bersihkan kamar saya dan jangan lama-lama. Karena saya tidak suka dengan sesuatu yang berantakan" jawabnya dengan datar dan dia menunjuk kearah kamarnya.


"Baik Tuan, saya akan mengambil perlengkapan nya dulu. Mohon tinggi sebentar" jawab Viera yang tersenyum dan dia menyanggupinya.


"Hmm, jangan lebih dari lima menit" ucap Varez yang memberikan waktu pada Viera. Viera segera mengangguk dan pergi dari hadapan Varez.


"Dia memang terlihat sangat unik, pantas saja seorang Elvaroz Malik Tomlinson bisa menjadi kucing manis jika berhadapan dengan nya. Eh, salah sih. Lebih tepatnya terlihat seperti kucing nelen karet, hahaha" gumam Varez yang masuk kedalam kamar lalu membuatnya seberantakan mungkin. Supaya Viera membersihkan nya dengan rapih.


"Ini lebih baik, jika seperti ini akan lebih baik" gumamnya yang melihat is kamarnya sudah sangat berantaka.


"Apa ini tidak keterlaluan ya? Ah, biarkan saja seperti ini. Supaya aku bisa leluasa bertanya padanya" gumamnya lagi. Dan dia segera merebahkan dirinya diatas ranjang yang berantakan.


.


Sedangkan Viera sangat bersemangat untuk bisa mengerjakan tugasnya dengan baik dan melupakan parasaan aneh dalam dirinya. Dengan begitu dia bisa lebih tenang dan bisa fokus pada pekerjaan saja.


"Semangat Vi, loe pasti bisa. Dengan begitu loe bisa membuat adik loe bangga dan senang bisa sekolah tinggi dan tidak seperti diri loe sendiri yang hanya tamatan SMA saja" gumamnya yang menyemangati dirinya sendiri.


Walau dalam hati merasa sakit, tapi dia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuat adiknya mencapai cita-citanya yang sangat mulia itu. Karena Xaqer ingin menjadi seorang dokter dan menyelamatkan banyak nyawa. Supaya tidak ada lagi kejadian, dimana kedua orang tuanya menjadi korban.


Viera terus tersenyum, walau getir dia selalu tersenyum. Dia ingin semuanya baik-baik saja, dan adik satu-satunya bisa hidup tidak kekurangan.


Viera segera masuk kedalam kamar yang melihatnya untuk dibersihkan. Viera melihat banyak barang-barang yang berhamburan, hingga pakaian dan pakaian dalam berceceran dilantai. Membuatnya merasa malu sendiri, walau dia sering melihat pakaian dalam milik adiknya. Tetap saja merasa malu jika melihat milik orang lain.

__ADS_1


__ADS_2