Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Akhirnya


__ADS_3

WARNING!!! Udah faham kan jika ada tulisan segede itu 😁😁😁... Yuk cekidot.....


"Hampir saja, ini semua gara-gara abang! Untung saja Pak Jamal tidak melihat ku seperti ini" gerutu Viera saat menggunakan jas milik Varo.


"Maaf, aku akan memberikan hukuman pada pria jomblo itu" ucap Varo.


"Dulu juga abang jomblo akut" ucap Viera yang segera duduk sambil melipat kedua tangan nya didepan dada.


Varo hanya diam dan dia meminta Viera untuk masuk kedalam kamar presidential sweet khusus untuk Varo istirahat. Karena dia akan menghukum Jamal yang sudah mengganggu kesenangan nya.


"Kau keruangan ku sekarang juga" Varo memanggil Jamal untuk masuk kedalam ruangan nya.


"Baik Tuan Muda" jawab Jamal yang sudah ketakutan saat mendengar perintah dari Varo, Tuan Muda nya.


"Apa yang akan Tuan Muda lakukan padaku? Semoga saja Tuan Muda tidak memberikan hukuman berat" gumam Jamal yang beberapa kali menghela nafasnya, saat akan menuju ruangan Varo.


Jamal langsung menuju ruangan Varo. Karena jika dia lama untuk kesana, bisa-bisa dia akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi. Dia bergegas masuk kedalam setelah mengetuk pintu ruangan Varo.


Jamal melihat sekelilingnya yang hanya ada Varo saja disana. Dia segera menunduk saat Varo menatapnya dengan tajam.


"Apa kau tahu kenapa saya memanggil mu kemari?" tanya Varo yang menatap kearah Jamal.


"Tahu Tuan Muda" jawab Jamal yang semakin menundukan wajahnya semakin dalam.


"Jika kau tahu, berarti kau juga tahu apa yang harus kau lakukan?" tanya Varo lagi sambil terus menatap kearah Jamal.


"Tidak tahu Tuan Muda, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tapi, sebelumnya saya minta maaf. Karena saya sudah lancang pada anda, karena masuk kemari tidak meminta izin dulu" ucap Jamal yang memberanikan diri untuk mengatakan apa yang sudah dia lakukan.


"Benarkah? Benarkah kau tidak tahu?" tanya Varo dengan tatapan yang semakin mengerikan untuk dilihat oleh Jamal. Jangankan Jamal, orang lain saja tidak berani menatap Varo yang sedang seperti itu.


"Saya tidak tahu Tuan Muda" jawab Jamal yang masih tetap menundukan wajahnya.


"Kau, kau sangat membuat ku kesal. Sebagai hukuman untuk mu, kau harus mengerjakan semua tugas-tugas yang sudah saya list. Baca dan tandatangani sekarang juga" ucap Varo yang melemparkan sebuah berkas pada Jamal.


"Tu... Tuan Muda, ini harus saya kerjaan semuanya?" tanya Jamal saat membaca deretan tulisan yang memerintahkan dirinya untuk kerja lembur tanpa uang lemburan dan harus bekerja bagai kuda tanpa menerima bayaran.


"Kenapa? Apa kau tidak mau, atau kau mau saya pindahkan ke PENZ.DRC?" tanya Varo dengan tatapan dingin nya.


"Tidak Tuan Muda, saya disini Tuan Muda tidak apa-apa" jawab Jamal menelan slifanya susah payah.


"Jika begitu, kau keluar sekarang dan jangan kemari lagi untuk mengganggu saya" ucap Varo yang memerintahkan Jamal keluar dari ruangan nya.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda, permisi" ucap Jamal yang langsung pergi dari sana setelah mengatakan itu pada Varo.


"Nasib-nasib, gini amat ya nyari duit? Apa Babeh gini juga ya, saat kerja pada Tuan David? Kenapa anaknya kek gini amat" gumam Jamal yang masuk kedalam ruangan nya sambil menghela nafasnya.


.


Sedangkan didalam kamar presidential sweet, Viera sedang berendam didalam bathtub sambil memejamkan matanya, menikmati aromatherapy yang sedang dia rasakan sekarang.


"Dia dimana? Kenapa tidak ada" gumam Varo saat memasuki kamar tidak ada siapa-siapa didalamnya.


"Apa dia sedang mandi? Tapi kenapa tidak ada suaranya?" gumamnya lagi sambil masuk kedalam kamar mandi perlahan.


"Astaga, dia tertidur?" ucapnya saat membuka pintu kamar mandi dan melihatlah jika Viera sedang terlelap dalam bathtub.


"Dia ini jelmaan putri tidur atau bagaimana? Kenapa mudah sekali until terlelap?" gumam Varo saat melihat Viera yang terlelap dengan nyaman nya.


Varo malah tersenyum smirks, dia segera membuka semua pakaian nya dan tidak tertinggal satu benangpun melekat pada tubuhnya. Dia juga ikut masuk kedalam bathtub dengan perlahan dan posisinya dibelakang Viera.


"Bahkan kau tidak terusik sama sekali, walau aku sudah berada didekatmu seperti ini" gumam Varo yang malah memegang pinggang Viera dengan lembut.


"Kau begitu menggairahkan honey" ucap Varo yang merangkulnya dan mencium leher Viera dan meninggalkan jejaknya lagi disana.


Varo malah semakin melancarkan aksinya saat melihat wajah nikmat Viera. Dia me*emas bukit kembar Viera perlahan dan dia merasakan jika belutnya sudah bangun dan siap untuk memasuki rumahnya.


"Kau sangat membuat ku candu honey, ah" gumam Varo lagi yang malah mengarahkan belutnya menuju sarangnya yang masih sempit itu.


"Aahhh, abang kenapa. Ssshhh" ucap Viera saat terbangun dan malah mendapatkan caplokan dari Varo.


"Nikmati saja honey, kau akan mendapatkan kenikmatan juga" ucap Varo yang membalikan tubuh Viera untuk menghadap kearahnya.


Lalu dia langsung mellumaat bibir ranum Viera, memberikan kenyamanan dulu padanya. Supaya Viera merasanyaman dan tangan nya mengarahkan belutnya menuju sarangnya.


BLES...


"Ah, honey" teriak Varo saat belutnya sudah masuk sempurna kedalam sarangnya yang masih sempit dan juga legit itu.


"Aaaa, sakit!!!" teriak Viera sambil mencakar punggung Varo dengan sangat dalam.


"Ssshhh" sedangkan Varo hanya mendesis, merasakan kenikmatan yang baru pertama kalinya dia merasakan nya dan juga perih pada punggungnya yang mendapatkan cakaran dari Viera.


"Maafkan aku honey, dan terimakasih sudah menjaganya hanya untuk ku" ucap Varo yang mengangkat tubuh Viera, tanpa melepaskan penyatuan mereka.

__ADS_1


"Bang, ini sakit sekali. Juga mengganjal dan tidak nyaman" ucap Viera saat Varo menggendongnya seperti koala.


"Maaf, rasa sakitnya pasti akan segera hilang dan bergantung dengan rasa nikmat" ucap Varo yang masih menggendong Viera dan berjalan menuju ranjang.


"Tapi" belum selesai Viera mengatakan nya, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Varo yang tebal dan sexy.


Tanpa disadari oleh Viera, Varo menggerakan pinggulnya sambil berdiri dan menggendong Viera. Viera masih merasakan sakit dan perih pada inti tubuhnya, tapi lama kelamaan mulai merasakan kenikmatan nya juga.


Mereka berdua melakukan nya masih berdiri. Karena Varo sangat menyukainya dan dia bisa sambil memeluk juga melakukan hal lainnya lagi selain pada itu saja.


Hingga Viera menyerah akan kekuatan Varo yang tidak bisa lemas dalam maktu singkat. Mereka melakukan nya lebih dari satu jam dan berbagai gaya mereka berdua lakukan.


"Bang, aku sudah lemas dan tidak kuat Lagi. Apa abang masih lama?" tanya Viera yang masih berada didalam kungkungan Varo.


"Sebentar lagi honey, aku, aku akan sampai" jawab Varo yang memacu tubuhnya semakin kencang dan membuat Viera juga dirinya berteriak untuk mencapai kenikmatan nya.


"Abang.... Ah" teriak Viera saat ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam intinya.


"Bersama honey, uh... Ah... " ucap Varo yang mempercepat dan terus memompanya hingga dia mengerang panjang saat para kecebongnya keluar memmenuhi sarang belutnya.


"Ah, terimakasih honey" ucap Varo mengecup kening Viera yang dipenuhi oleh peluh.


"Sama-sama bang, tapi turun dari atas ku. Berat" ucap Viera yang meminta Varo untuk turun dari tubuhnya.


"Maaf" ucap Varo yang segera berguling dan dia langsung bangkit berdiri tanpa menggunakan apa-apa.


"Dasar tidak tahu malu!" ucap Viera menatap Varo yang akan berbalik dan dia mengernyitkan keningnya saat Viera mengatakan itu padanya.


"Kenapa, apa kau menginginkan nya lagi. Hmm?" tanya Varo yang malah kembali mengungkung Viera.


"Nggak lah, aku sangat lelah bang. Lagian aku sudah sangat lemas. Lihat, belut abang juga sudah lemas seperti itu" jawab Viera yang menunjuk belut milik Varo menggunakan bibirnya.


"Belut?" tanya Varo yang mengernyitkan keningnya lalu menatap Viera dengan lekat.


"Iya belut. Apa lagi memang jika bukan belut yang suka masuk kedalam lubang?" jawab Viera yang balik bertanya pada Varo.


"Kau ini" ucap Varo yang mulai faham dan dia mencubit hidung Viera, lalu dia segera bangkit menuju kamar mandi.


"Punggungnya kenapa? Kenapa terdapat luka cakaran?" gumam Viera saat melihat punggung Varo yang tersayat oleh kuku lumayan dalam dan masih menyisakan darah dipunggungnya.


Viera membungkus tubuhnya dengan selimut tebalnya, lalu dia berjalan menuju kamar mandi juga. Saat akan masuk, Varo lebih dulu keluar dan menatap Viera yang terkaget menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2