
"Apa kamu memiliki rencana yang bagus jagoan? Pipi rasa, kamu akan melakukan sesuatu yang akan mempermalukan dirimu sendiri" tanya David yang malah merendahkan putra sulungnya.
"Apa Pipi merendahkan kemampuan ku ini? Tidak semudah itu Ferguson" ucap Varez yang langsung mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan dari David.
"Dasar anak durhakim! Bisa-bisanya dia mengatakan itu padaku" gerutu David yang melihat putranya sudah tidak ada lagi disana.
"Sudahlah By, Hubby juga yang selalu mengajarkan untuk menaklukan wanita. Hingga Varaz sangat mirip dengan mu" ucap Zahiya yang beranjak dari duduknya meninggalkan David yang malah misuh-misuh.
"His... Kenapa Ibu dan anak itu sama saja? Malah menyalahkan aku segala" gerutu David berlari mengejar Zahiya yang sudah jauh dari ruangan kerja Varez.
"Astagfirullah, kenapa aku bisa memiliki menantu yang selalu mencemari otak waras anak-anaknya?" gumam Zayn menatap punggung David yang sudah tidak terlihat lagi, karena terhalang oleh pintu.
.
Sedangkan Varez sedang mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat. Dimana ada seseorang yang menjadi incaran nya selama ini.
"Kenapa dia begitu menggemaskan sekali? Dia itu sangat manis" gumam Varez yang menatap kearah seorang wanita cantik disebrang jalan.
"Kenapa kamu sangat sulit sekali aku dekati" gumam Varez yang masih menatap kearah seorang wanita cantik berambut ikal tersebut.
Saat Varez akan keluar dari mobil dia melihat seorang anak kecil yang menghampiri mobilnya entah akan apa.
"Hai Nona manis. Ada apa?" tanya Varez pada anak kecil tersebut.
"Apa yang Paman lakukan disini? Kenapa hanya memperhatikan nya saja?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Varez, anak kecil tersebut malah bertanya dan menunjuk kearah wanita incaran Varez.
__ADS_1
'What the fuc*! Apa yang dia katakan tadi? Paman? Apa aku setua itu? His... Yang benar saja' gerutu Varez dalam hati dan dia menatap tajam pada anak kecil tersebut.
"Kenapa? Apa Paman keberatan dipanggil Paman? Atau mau dipanggil kakak walau sudah tua" tanya anak kecil tersebut dengan nada mengejek.
"Apa kau tidak diajari sopan santun oleh kedua orang tuamu anak kecil? Kenapa mulutmu itu sangat mahir menghina orang lain dan bahkan lebih dewasa darimu?" tanya Varez yang sudah kesal dan ingin rasanya melenyapkan anak kecil itu.
"Sayangnya aku tidak memiliki orang tua. Apa Paman mau menjadi orang tuaku?" tanyanya dengan tatapan yang sama. Yaitu mengejek Varez.
"Aku tidak mau! Kau fikir aku sudi memiliki anak sepertimu yang tidak memiliki sopan santun" ucap Varez yang malah melangkah menuju sebuah cafe, dimana ada wanita incaran nya yang sedang bekerja disana.
Varez langsung duduk dan memanggil pelayan untuk memesan minuman untuknya. Dia juga meminta salah seorang pelayan untuk memanggil seseorang yang dia kenal di cafe tersebut.
"Maaf Nona, apa saya memesan ini? Saya sedang memesan coffeelate. Kenapa anda memberikan jus buah?" tanya Varez pada pelayan wanita yang mengantarkan minuman padanya.
"Oh, maaf Tuan. Saya salah meja. Sekali lagi maafkan saya Tuan" ucap pelayan tersebut yang tidak lain adalah wanita yang selalu mengganggu hari-hari Varez yang selalu tenang dan kadang-kadang tegang.
"Huh, hampir saja dia sadar jika gue ini adalah pria yang sedang mengejar-ngejarnya. Kenapa gue jadi takut gini berhadapan dengan nya? Dasar bodoh! Kenapa gue menjadi penyakit seperti ini berhadapan dengan nya? Pantas saja jika Varo mengatakan gue pengecut. Gue memang pantas mendapatkan julukan seperti itu" gumamnya yang hanya dia saja yang bisa mendengarkan gumaman nya sendiri.
"Sepertinya pria itu tidak asing lagi dan aku sepertinya mengenalnya? Tapi dimananya aku lupa" gumam wanita cantik bernama Aluna. Merasa jika pria yang salah dia antarkan pesanan tersebut.
Saat dia sedang melamun, ada seorang anak yang menghampirinya dengan memanggilnya Bunda.
"Bunda. Bun kenapa Bunda melamun? Apa ada yang mengganggu Bunda?" tanya seorang anak kecil tersebut.
'Bunda? Apa dia adalah Ibu dari anak nakal itu? Jika iya, jadi... Dia seorang janda? His, yang benar saja' gerutu Varez yang mendengar teriakan dari anak kecil yang tadi membuatnya kesal dan hampir memperlihatkan dirinya yang sebenarnya pada seorang anak kecil.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang. Bunda baik-baik saja, Bunda hanya salah mengirim pesanan. Kamu dari mana? Jangan jauh-jauh main nya, Bunda sedang bekerja dulu" jawabnya sambil tersenyum dan bertanya balik pada seorang anak laki-laki kecil tersebut.
"Aku nggak main jauh Bun, hanya main disana saja" tunjuknya pada arah taman dan disana ada sebuah mobil yang sepertinya tidak asing lagi dimatanya.
"Ya sudah, sekarang Fikri main lagi saja. Bunda masih kerja dan nanti saat Bunda istirahat kita makan bersama. Oke" ucap Aluna pada putranya sambil mengusap kepalanya.
"Emm" jawab anak bernama Fikri itu sambil mengangguk dan bermain kembali ditempatnya semula.
"Apa aku memang tidak salah mengenali orang? jangan-jangan dia memang pria gila yang selalu mengganggu ku selama ini" gumam Aluna yang segera pergi dari sana dan melanjutkan lagi pekerjaan nya.
Sedangkan Varez sedang berbicara dengan seseorang yang mana tidak lain adalah manager dan pemilik cafe tersebut. Dan dia adalah seseorang yang sudah menjadi tangan kanan nya untuk mengawasi Aluna.
"Apa yang kau dapatkan selama dia bekerja disini?" tanya Varez dengan tatapan datarnya dan dia malah meminum coffeelate miliknya dengan perlahan.
"Seperti yang Tuan perintahkan pada saya. Saya juga selalu mengirim semuanya pada anda" jawabnya juga dengan santai, karena dia tidak ingin jika Tuan yang ada dihadapan nya itu membuatnya pusing akan masalah wanita yang bekerja di cafe nya.
"Tapi, kenapa kau tidak pernah melaporkan jika dia sudah memiliki seorang anak? Apa kau sengaja melakukan itu hah?!" tanya Varez lagi sambil meletakan cangkir diatas meja lumayan keras.
"Anda tidak pernah bertanya Tuan. Jika saja anda bertanya, maka saya akan menjawab" ucap pria yang ternyata adalah teman nya sejak dulu.
Siapa lagi jika bukan Junior, putra dari Bima. Sahabat David, Ayah nya sendiri itu. Walau usianya lebih tua darinya, tetap saja Varez selalu saja bersikap seperti yang lebih tua dari Junior.
"Huh, cape jika bicara dengan sutis. Suami takut istri!" ucap Varez yang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sedang dia duduki.
"Biarkan saja, dari pada kamu yang jomblo akut. Apa kamu ingin menjadi seperti Pipi kamu yang mendapatkan julukan karatan karena tidak menikah-menikah diusianya yang sudah tua" ucap Junior yang malah mengejek balik Varez.
__ADS_1
"Si alan! Tapi aku bertanya serius padamu. Apa benar jika dia itu sudah memiliki anak? Dan apa dia memang seorang janda? Kenapa aku tidak bisa mengetahui semuanya?" tanya Varez panjang lebar dan itu membuat Junior jengah akan pertanyaan dari Varez.