
"Ini kamar apa kapal pecah? Berantakan banget" gumam Viera yang langsung membereskan pakaian dan juga barang-barang yang berceceran dimana-mana.
"Jika setiap pengunjung seperti ini, pasti akan sangat lelah mengerjakan nya" gumamnya lagi yang melihat seseorang sedang berbaring diatas ranjang dengan dibungkus oleh selimut tebalnya.
"Kenapa gue jadi takut? Apa gue keluar saja? Lebih baik gue keluar, dari pada gue yang jadi kenapa-kenapa" gumam Viera yang langsung pergi dari kamar pria tersebut.
Viera merasa ada yang aneh dengan pria yang tidak dia kenal itu, apa lagi saat diminta membereskan kamarnya dia pasti sengaja tidak menggunakan pakaian nya sama sekali.
"Gila, kalo gue melanjutkan yang ada gue yang bakalan dikerjain oleh tuh orang" gumamnya yang terus saja berjalan menuju belakang. Tapi tiba-tiba ada tangan yang menariknya menuju arah lift.
"Hey, apa yang loe..." ucap Viera yang tidak melanjutkan ucapan nya saat melihat sosok pria yang selalu dia fikiran.
"Kenapa, apa yang ingin kau katakan?" tanya Varo yang membawanya kedalam lift.
'Kenapa dia adalah disini lagi? Kenapa juga dia berada didepan gue sekarang? Bikin gue kesel aja' ucap Viera dalam hati dan dia langsung menepis tangan Varo yang memegang pinggangnya.
"Maaf Tuan Muda saya harus kembali bekerja" ucap Viera yang mencoba melepaskan diri dari Varo.
"Saya memecatmu sekarang juga, jika kau tidak mau menuruti apa yang saya inginkan" ucap Varo penuh dengan penekanan disetiap kata yang dia ucapkan.
Viera tidak berani membantah lagi apa yang dikatakan oleh Varo, dia hanya diam dan tidak terasa air matanya malah menetes. Dia sendiri tidak tahu, Varo mengajak Viera masuk kedalam kamar presidential sweet dan melihat jika Viera menangis.
'Kenapa dia menangis? Apa ada yang salah dengan ku? Apa dia... ****!' umpatnya dalam hati yang langsung memegang Viera dan menatapnya lekat.
Viera hanya menangis dalam diam. Entah apa yang sedang ditatap tangisi dan kenapa dia menangis. Varo langsung memeluknya dan membuatnya sedikit tenang.
"Maaf" ucap Varo dengan singkat dan itu membuat Viera merasa sedikit tenang saat Varo mengucapkan kata maaf padanya.
"Maafkan aku, kau tidak bermaksud untuk menyakiti parasaan kamu dan membuatmu bersedih. Maaf juga sudah membuat kamu merasa rendah atau sebagainya, maaf" ucap Varo yang memeluk Viera dengan erat lalu menangkup wajah Viera.
"Gue benci sama loe! Kenapa loe tidak pernah menemui gue? Bahkan tadi saat melihat gue, loe seperti tidak mengenal gue" ucap Viera yang menangis terisak dan memukul-mukul dada Varo.
"Maaf, maafkan aku" ucap Varo yang menunduk dan dia juga meneteskan air matanya juga.
"Au ah gelap!" ucap Viera yang langsung meninggalkan Varo.
Varo mengernyitkan keningnya dan dia melihat Viera menjauh darinya. Dia merasa heran dan bingung juga melihat Viera yang mengerucutkan bibirnya menggerutu dan dia duduk diatas sofa.
"Kenapa, apa yang kamu katakan?" tanya Varo yang melihat kearah Viera.
"Stop! Loe itu selalu aneh, jangan deket-deket gue" ucap Viera yang meninggalkan Varo sendiri didalam ruangan nya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada yang salah?" ucap Varo sambil bertanya pada Viera.
"Nggak, nggak ada. Lebih baik loe deketi saja tuh cewek loe itu, gue ogah deket-deket sama loe" ucap Viera yang menunjuk kearah Varo.
"Satu lagi, gue tahu jika gue ini adalah orang miskin dan juga rendah dimata loe. Gue minta, loe jangan deket-deket gue dan lanjutkan saja kagak kenal gue. Gue cukup tahu diri, jadi jangan ganggu gue dan hidup gue juga adik gue. Gue nggak mau banyak hutang budi pada loe" ucap Viera yang segera pergi dari hadapan Varo dan dia merasa ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Apa dia bilang? Atau dia menyangka jika aku dan Citra memiliki hubungan? Jika iya, dia salah faham, tapi... Kenapa dia bisa berfikiran seperti itu? Aku harus meminta penjelasan darinya" ucap Varo menatap punggung Viera yang menjauh dan sudah tidak terlihat lagi.
'Keputusan loe sudah benar Vi, loe emang harus sadar dan tahu diri Vi" gumamnya sambil berlari pergi dari ruangan Varo.
Varo terus mengikuti Viera setelah pulang kerja, dia melihat jika Viera tidak seperti biasanya yang selalu ceria. Sekarang terlihat kesukaan dan sedih, Varo semakin merasa bersalah padanya. Dia memutuskan untuk mengajak Viera pulang bersama dengan nya.
"Masuk sekarang" ucap Varo yang membukakan pintu mobilnya untuk Viera.
"Gue bisa pulang sendiri dan kagak mau punya hutang budi lagi" ucap Viera melewati Varo yang masih berdiri membukakan pintu mobil.
"Aku bilang masuk sekaranglah baik-baik atau paksa" ucap Varo penuh dengan penekanan pada Viera.
"Dasar tukang paksa!" ucap Viera yang melihat sekelilingnya tidak ada siapa-siapa, dan percuma saja jika dia lari. Hanya buang-buang tenaga saja.
Viera mau tidak mau, akhirnya menuruti keinginan Varo. Dia hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa, karena Viera merasa leans juga lelah dan memegangi perutnya.
"Gue baik-baik saja" jawab Viera yang masih memejamkan matanya.
"Kau tidak baik-baik saja, aku akan membawamu berobat dan jangan perotes" ucap Varo saat Viera akan menolaknya, Varo segera menegaskan untuk mengajak Viera berobat.
"Ini dimana? Kenapa mengajak gue kemari?" tanya Viera yang melihat sebuah rumah besar didepan nya.
"Ini rumah kedua orang tuaku" jawab Varo yang berjalan kearah pintu mobil.
'Ngapain juga dia ngajakin gue kerumahnya? Apa kata keluarganya, bisa-bisa gue disangka cewek kagak bener lagi oleh keluarganya' gumam Viera dalam hati dan dia hanya diam saja saat Varo membukakan pintu mobil.
"Kenapa hanya diam? Keluarlah, kau harus segera diperiksa dulu" ucap Varo bertanya dan langsung mengajak Viera keluar dari mobil.
"Assalamualaikum" ucap Varo saat masuk kedalam rumah.
"Wa'allaikumsalam" jawab Zahiya yang ternyata sedang kedatangan tamu.
"Abang baru pulang? Kenapa lama sekali?" tanya gadis yang tadi siang Viera lihat.
"Lepas, kenapa kau ini selalu mengganggu ku? Apa kau tidak ada kerjaan" ucap Varo yang melepaskan belitan tangan gadis berhijab itu yang tidak lain adalah Citra.
__ADS_1
Sedangkan Zahiya hanya menatap datar saja pada gadis yang dibawa oleh putranya. Viera hanya menunduk dan merasa tidak nyaman berada ditengah-tengah keluarga Varo. Dia ingin pergi dari sana, tapi tangan nya ditahan oleh Varo.
"Kita masuk sekarang" ucap Varo mengajak Viera masuk kedalam kamar untuk diperiksa.
"Tapi" ucap Viera berjalan mengikuti Varo yang menuntun tangan nya.
"Mi, apa dia adalah calon kakak ipar?" tanya Citra yang menatap kearah Varo dan Viera.
Zahiya hanya diam dan juga menatap mereka berdua. Dia baru kali ini melihat Varo membawa seorang wanita setelah belasan tahun lamanya.
"Mi, apa Mimi baik-baik saja? Kenapa hanya diam saja?" tanya Citra yang menatap kearah Zahiya.
"Iya, Mimi baik-baik saja. Mungkin saja, karena kamu tahu sendiri bukan, jika abang kamu yang satunya ini sulit dekat dengan orang lain" jawab Zahiya dengan singkat.
"Amiin, semoga saja Allah mengabulkan nya" ucap Citra yang mengusap wajahnya seperti sedang berdo'a.
.
Sedangkan didalam ruangan untuk periksa, Varo meminta dokter pribadinya untuk memeriksakan keadaan Viera.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Varo saat putra dari Aaron memeriksakan kondisi Viera.
"Nona baik-baik saja Tuan Muda, hanya sedang mensturai makanya terlihat pucat. Dengan sedikit meminum pil tambah darah saja" jawab dokter tersebut pada Varo.
"Apa kau yakin? Kenapa dia terlihat sangat pucat?" tanya Varo lagi dan dia menatap tajam pada dokter tersebut.
"Saya sangat yakin Tuan Muda, jika kurang percaya anda bisa menanyakan nya langsung pada Nona" jawab dokter Aruna tersebut.
"Apa yang dikatakan olehnya benar?" tanya Varo pada Viera yang hanya diam saja.
"Jawab saja Nona, karena Tuan Muda tidak akan percaya jika saya yang menjelaskan nya. Silahkan saja anda jelaskan, saya akan memberikan pil tambah darahnya" ucap Aruna pada Viera untuk menjelaskan pada Varo.
Varo menatap Viera dengan sangat lekat dan meminta penjelasan darinya.
"Iya, yang dia katakan memang benar. Gue sedang mensturasi, dan ini sudah bisa untuk gue jika hari pertama mensturasi" jawab Viera yang merasa malu dan dia kesal juga pada Varo.
"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan nya?" tanya Varo lagi pada Aruna.
"Hanya butuh istirahat dan meminum antibiotic saja, karena perlahan-perlahan dan sedikit dikompres bisa meringankan nya" jawab Aruna yang memberikan pil tambah darah dan antibiotic untuk Viera.
"Semoga lekas sembuh Nona, sebaiknya anda banyak istirahat saja sekarang. Tuan Muda sudah sangat khawatir akan keadaan anda" ucap Aruna melirik kearah Varo yang hanya menatapnya datar.
__ADS_1