Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Susah sekali!!


__ADS_3

"Jangan menyalahkan diri abang, abang tidak salah. Aku juga baik-baik saja, abang harus berjanji. Jangan mengulangi yang sama lagi jika abang ingin melihat aku tidak kenapa-kenapa dan bisa bersama dengan abang" ucap Viera yang menangkup wajah Varo dan tersenyum padanya.


"Iya, maafkan aku. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Varo yang kembali memeluk Viera dengan erat.


"Abang jangan keras-keras peluknya. Masih sakit ini" ucap Viera yang menepuk lengan Varo agar melonggarkan pelukan nya.


"Maaf honey, apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Aku akan panggil dokter dulu" ucap Varo menatap wajah Viera dan membolak balikan tubuh Viera dan akan bangkit dari duduknya.


"Nggak perlu bang, aku baik-baik saja. Apa abang benar sudah baik-baik saja sekarang?" jawab Viera yang balik bertanya pada Varo.


"Apa kamu yakin tidak apa-apa? Aku takut kamu kenapa-kenapa honey" bukan nya menjawab pertanyaan Viera, dia malah balik bertanya.


"Iya, abang bisa melihatnyakan? Aku baik-baik saja. Kenapa abang tidak menjawab pertanyaan aku?" tanya Viera yang mengerucutkan bibirnya pada Varo.


"Maaf-maaf, aku sudah baik-baik saja. Ini semua berkat kamu dan pertolongan kamu, ternyata darah kita juga sama dan kita sudah saling menyatu. Bukan hanya aku dan kamu saja yang menyatu, darah kita juga sudah menyatu satu sama lain" ucap Varo yang tersenyum tipis pada Viera dan dia memeluk Viera kembali.


"Masa sih bang? Kenapa hati kita belum menyatu? Bukankah semuanya abang bilang menyatu? Tapi yang satu itu belum bukan?" tanya Viera yang malah menggoda Varo dengan tatapan datarnya.


"Memangnya kamu juga merasakan seperti itu padaku?" Varo menatap dengan menyelidik pada Viera yang terlihat kesal padanya.


"Au, males ngomong sama abang!" gerutu Viera yang membalikan tubuhnya memunggungi Varo.


"Kenapa malah membelakangi aku?" tanya Varo yang memegang bahu Viera dan menatap wajah Viera dari sampingnya.


"Au, males aku. Susah banget mengatakan perasaan pada istri sendiri saja susah banget" ucap Viera yang mengatakan nya sambil menggerutu dan menepis tangan Varo yang sedang memegang bahunya.

__ADS_1


"Apa semua tindakan yang aku berikan pada kamu tidak bisa membuktikan jika itu saja sudah cukup?" tanya Varo yang berpindah posisi untuk bisa menatap wajah Viera.


"Iya, aku tahu. Tapi apa salahnya jika mengatakan aku mencintai mu, atau I love you. Atau sebagainya yang berhubungan dengan kata itu. Susah banget mengatakan kata-kata seringan itu" gerutu Viera yang malah mencubit gemas perut Varo.


"Memangnya sangat penting mengatakan itu semua? Bukankah dengan tindakan saja sudah cukup untuk membuktikan segalanya? Jadi tidak perlu mengatakan kata-kata menggelinjang itu" tanya Varo yang tidak sadar, jika dia sudah sering mengatakan kata-kata menggelikan itu saat sedang terobsesi pada Viera yang mirip dengan seseorang.


"Menyebalkan, sudahlah. Aku mau istirahat dulu, abang jangan ganggu aku" ucap Viera yang kembali memunggungi Varo dan memejamkan matanya dengan erat.


"I love you" bisik Varo ditelinga Viera dan dia memeluk Viera dan membalikan tubuhnya untuk bisa menatap wajah Viera dengan dekat.


Viera membolakan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar saat Varo mengatakan kata cinta padanya.


"Bisa abang ulangi lagi kata-kata abang lagi? Aku ingin mendengarnya lagi" tanya Viera yang baru sadar dari terkesimanya akan ucapan Varo padanya, dan dia sudah kembali menjadi Viera yang selalu ingin mendengarnya lagi dan lagi kata-kata keramat itu.


"Diamlah, bisakah kau ini diam dan merasakan jika aku ini ingin memelukmu" ucap Varo menetralkan perasaan nya yang sedang deg-degan karena ditatap sangat lekat oleh Viera.


"Apa! Katakan sekali lagi" ucap Varo yang ingin Viera mengulangi kata sayangnya pada Varo.


"Maaf, tidak ada kata ulang!" jawab Viera judes sambil menelusupkan wajahnya pada dada bidang Varo.


"Kau ini" ucap Varo yang memeluk dan menciumi kening Viera dengan gemas dan mereka berdua malah saling tersenyum bersama.


.


Ditempat yang lain, Varez sedang bersenang-senang dengan senjata kesayangan nya. Bagaimana tidak bersenang-senang, jika sekarang dia sedang membantai klan-klan nya yang sudah berani bermain-main dengan nya.

__ADS_1


Semua klan nya sudah tewas dengan sangat tragis. Bahkan mereka semua sudah tidak bisa digunakan lagi. Varez sedang mengejar pengkhianat yang kabur darinya dan anggotanya.


Tapi bukan Varez namanya jika tidak bisa melumpuhkan nya. Dengan sangat mudah Varez menghadangnya dan membuatnya tidak bisa berkutik lagi.


"Apa kau sudah puas berlari? Atau masih ingin berlari lagi?" tanya Varez yang memang selalu menggunakan masker hitamnya.


"Maafkan saya Prince. Saya tidak akan melakukan nya lagi dan saya hanya sedang terdesak dan terpaksa melakukan ini semua. Tolong lepaskan saya Prince" ucapnya yang memohon ketakutan saat melihat Prince Mafia itu.


"Apa kau tidak bisa mencari alasan yang lebih bisa dipercaya? Kenapa semua pengkhianat selalu mengatakan kata-kata yang sudah sangat sering terdengar. Apa kau tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal?" tanya Varez lagi tanpa beranjak dari berdirinya menyandar pada pohon disampingnya.


"Prince, saya mengatakan yang sebenarnya. Saya bersungguh-sungguh mengatakan nya" ucapnya dengan suara bergetar dan ketakutan saat melihat mata elang Varez.


"Apa kau fikir saya ini bodoh dan tidak menyelidiki sebelum memburu kalian semua, tanpa mengetahui kebenaran nya? Sungguh konyol" ucap Varez yang malah melipat kedua tangan nya didepan dada dan berdiri dengan sangat santai.


"Prince, sungguh. Saya minta maaf, saya terpaksa" ucap pria yang menjadi pengkhianat dalam anggotanya.


"Sudahlah, jangan membuat kesal dan berbelit-belit mencari alasan. Sekarang kau hanya memiliki dua pilihan. Mati dengan cara mudah atau dengan cara sulit? Jawab sekarang dan jangan berbelit-belit" ucap Varez yang malah menyimpan kedua tangan nya kedalam saku celananya dan berjalan kearah pria didepan nya.


"Prince, ampuni saya. Saya tidak ingin memilih salah satunya, saya hanya ingin mendapatkan ampunan dari anda Prince. Saya bersungguh-sungguh memohon ampun pada anda Prince" ucapnya yang ingin pergi dari sana dan menembakan senjatanya kearah Varez.


DOR...


DOR...


"Kau memilih dengan cara sulit rupanya" ucap Varez yang tersenyum miring dan dua peluru itu tidak ada yang menembus dadanya satupun juga.

__ADS_1


"Prince ampuni saya, tolong ampuni saya. Saya mohon" ucapnya yang berdiri ketakutan dan dia sudah tahu sepak terjang Prince nya jika membantai semua klan nya tanpa tersisa.


"Wah, saya merasa terharu dengan kata-kata mu itu" ucap Varez merebut senjata milik pria didepan nya yang sedang berdiri ketakutan pada Varez.


__ADS_2