Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Diserang


__ADS_3

Variz bangun dari berlututnya dan dia masih dalam posisi menunduk tidak berani menatap kearah Mimi Za. Dia benar-benar merasa sangat bersalah dan menyesal akan apa yang dia lakukan sebelum ini.


"Variz janji akan memperbaiki semuanya Mi, Variz juga akan selalu berhati-hati dalam melakukan segala hal. Ini adalah pelajaran yang paling berharga dalam hidup Variz saat ini dan kedepan nya" ucap Variz yang masih saja menunduk tidak berani menatap kedua orang tuanya.


"Angkat wajah kamu dan tatap Mimi dan Pipi sekarang. Kamu jangan pernah menunduk jika sudah mengakui kesalahan. Ingat ini baik-baik" ucap Mimi Za yang diangguki oleh Pipi David.


"Terimakasih Mi, dan maaf" ucap Variz yang langsung memeluk Mimi Za dengan erat dan membuat Pipi David misuh-misuh akibat istri cantiknya dipeluk oleh putranya sendiri.


"Sudah boy, jangan kelamaan memeluk Mimi kamu. Dia ini adalah istri Pipi" ucap Pipi David yang melepaskan pelukan mereka dan menarik Mimi Za supaya berada didekatnya.


"Dia itu Ibu ku Pi" ucap Variz protes akan overprotective Pipi nya muncul.


"Kalian ini sama saja. Selalu membuat pusing" ucap Mimi Za yang akan meninggalkan mereka berdua didalam ruangan rahasia mereka.


"Kenapa berhenti sayang? Apa ada sesuatu?" tanya Pipi David yang melihat Mimi Za dalam kondisi waspada atau siaga satu.


"Diam dan dengarkan. Sepertinya ada yang berkelahi didepan" ucap Mimi Za yang segera menggunakan perlengkapan nya sebagai Queen Mafia.


"Sayang, kenapa kamu menggunakan ini lagi? Kamu kan sudah berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Kenapa malah sekarang kamu menggunakan nya?" tanya Pipi David yang menahan tangan Mimi Za.


"Pi, jika Mimi tidak turun tangan. Apa yang akan terjadi pada kita semua? Lebih baik Pipi bersiap juga sangat lakukan apa yang akan Mimi intruksikan pada Pipi" ucap Mimi Zahiya sambil mengangguk pasti dan tersenyum pada Pipi David.


"Kamu juga bersiap Riz. Mimi tunggu kalian segera keluar, Mimi yakin jika ketiga saudara kamu yang lain sudah disana" ucap Mimi Za pada Variz yang mengangguk mantap.


"Kalian gunakan ini dan dengan senjata yang kalian berdua bisa juga kuasai" ucap Mimi Za yang berlari secepat kilat. Walau usianya sudah tidak muda lagi, tapi beliau masih sangat gesit dan bisa melakukan segala hal.

__ADS_1


"Apa kalian mendengar sesuatu?" tanya Varez pada kedua adiknya yang mengangguk dan mereka segera melihat kearah luar yang sudah sangat kacau akibat serangan orang tidak dikenal.


"Kita bersiap. Mimi sudah keluar dan Varo juga sudah ada disana bersama dengan istrinya" ucap Varez pada kedua adiknya yang langsung bangkit dan bergabung dengan mereka.


"Apa istrinya bisa beladiri juga bang?" tanya Varuz yang malah bertanya hal yang tidak penting pada Varez.


"Sudahlah tidak penting dia bisa atau tidaknya. Sekarang kita turun" ucap Varez dan mereka bertiga segera turun dan meminta bantuan dari markas untuk membantu mereka.


.


Viera dibuat sangat terkejut saat dia datang kerumah Varo disambut oleh penyerangan orang yang tidak dikenal. Dia sebenarnya tidak bisa beladiri, karena Varo juga belum pulih benar dia mau tidak mau membantunya dengan kekuatan yang dia miliki.


"Abang, tidak apa-apa?" tanya Viera yang memegang tangan Varo yang terluka akibat melindunginya dari serangan.


"Baiklah, aku akan masuk. Tapi abang berjanji tidak boleh terluka lagi" ucap Viera yang menangkup wajah Varo dan dia menatap wajah Varo dengan tatapan sendunya.


"Aku berjanji. Sekarang masuklah" ucap Varo yang mengusap pipi Viera dan memberikan kode pada Ferry untuk membawa masuk Viera dengan selamat.


"Apa kau baik-baik saja bang?" tanya Varuz yang menangkis serangan untuk abang kembarnya.


"Hmm" jawab Varo yang mulai murka akan serangan yang datang kerumahnya.


Ferry juga sudah bergabung begitu juga dengan Leonard dan Marcella yang sudah menyerang mereka dengan sangat lihainya. Bahkan gerakan tubuh mereka sudah sangat terlatih. Hingga Variz berhadapan langsung dengan pria yang menjadi ketua dari mereka yang menyerangnya terluka.


Variz ambruk akibat tembakan yang mengenai dadanya dan itu langsung membuat Mimi Za dan Varo sangat murka. Varo mengeluarkan jarum mematikan nya dan menancapkan nya pada seluruh tubuh pria tersebut, lalu berlari kearah Variz.

__ADS_1


"Kau akan baik-baik saja. Bertahanlah" ucap Varo dan Mimi Za yang menghampiri Variz dan memanggil dokter Aaron dan Aruna.


Variz sudah tidak sadarkan diri lagi, dia juga sudah kehabisan banyak darah. Sedangkan pria yang Varo tanjapkan jarum lebih dari lima buah itu sudah sangat mengenaskan. Bahkan wajahnya sulit untuk dikenali karena racun tersebut. Semua orang-orangnya sudah lari kucar-kacir ketakutan akan mengalami hal yang sama seperti ketua mereka yang sudah tidak bernyawa lagi itu.


"Bagaimana keadaan nya uncle?" tanya Zahiya yang menatap kearah Aaron sedang memeriksa keadaan Varez.


"Plurunya tidak terlalu dalam Queen. Untung saja didalam saku bajunya ada koin ini. Jadi tidak membuat timah panas ini masuk lebih dalam, Tuan Muda akan baik-baik saja Queen" jawab Aaron yang memperlihatkan sebuah koin yang sudah berlubang akibat tembakan itu.


"Syukurlah, semoga semuanya baik-baik saja. Terimakasih uncle" ucap Zahiya yang langsung terduduk dan mengucapkan syukur akan keadaan Variz yang tidak parah.


"Sebenarnya ada apa-apa ini Mi, kenapa mereka menyerang kita dan didalam rumah kita?" tanya Varo yang sejak tadi ingin bertanya itu pada semua orang yang ada disana.


"Nanti akan Mimi ceritakan. Tapi tidak sekarang, sekarang kita berdo'a untuk keselamatan abang kamu saja" jawab Mimi Za yang mengatakan nya sambil terus berdo'a dalam hatinya.


"Baiklah" jawab Varo yang langsung pergi dari sana setelah mengingat Viera yang menunggunya untuk datang menemuinya saat semuanya sudah selesai.


"Sayang, honey? Apa kau mendengarku" tanya Varo yang masuk kedalam kamarnya malah tidak ada siapa-siapa didalamnya.


"Dia dimana? Kenapa tidak ada disini? Apa" Varo tidak melanjutkan ucapan nya lagi. Dia malah berlari kearah Ferry yang dia tugaskan untuk mengamankan Viera nya.


"Dimana kau amankan istriku" tanya Varo pada Ferry yang merasa bingung akan pertanyaan Tuan nya itu.


"Saya mengantarkan Nona kedalam kamar anda Tuan. Saya sudah memastikan jika beliau sudah masuk dengan selamat" jawab Ferry dengan sangat yakin dan pasti pada Varo.


"Jika dia adalah disana. Saya tidak akan bertanya padamu!" ucap Varo yang menatap dengan tatapan mengerikan nya. Membuat nyali Ferry menciut ditatap seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2