Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Varo terluka


__ADS_3

"Kita bisa bernegosiasi, jika anda melepaskan saya. Saya akan memberikan pekerjaan untuk anda dan orang-orang anda yang ada disini, semuanya. Tapi jika sebaliknya, bahkan jika saya mati. Kalian juga akan mati, karena orang-orang King dan Queen Z menuju kemari" ucap Varo yang memberikan tawaran pada orang yang sedang bingung.


"Ketua, jangan dengarkan dia. Dia itu membual dan mungkin saja ini adalah sebuah jebakan. Jadi jangan mempercayainya, lebih baik kita lenyapkan saja dan hilangkan jejaknya" ucap seorang pria yang entah kenapa sangat membenci Varo.


"Apa kalian tidak bisa melihat, jika saya tidak memiliki senjata apapun? Apa kalian begitu takut pada priamu yang tidak memiliki senjata? Dengarkan, ini adalah tawaran yang baik dan yang terakhir kalinya saya katakan. Karena mereka sudah semakin dekat kemari" tanya Varo untuk yang terakhir kalinya pada orang-orang yang ada disana.


"Saya mempercayai anda Tuan, tapi jika anda berbohong maka bukan hanya nyawa anda saya yang akan kami lenyapkan. Tapi seluruh keturunan anda" ucap pria bertubuh besar dan yang sedang memegangi Varo.


"Oke, deal" ucap Varo yang menjabat tangan pria tersebut.


Saat setelah mereka sedang berjabat tangan. Zayn, Zahiya dan Varez datang menodongkan senjatanya dikepala mereka semua. Orang-orang yang ada disana juga saling menodongkan senjata mereka pada Zayn, Zahiya dan Varez juga anggotanya. Tapi karena mereka melihat Varo baik-baik saja dan tidak ada yang mencurigakan, mereka semua menurunkan senjata mereka semua.


"Turunkan senjata kalian semua. Aku baik-baik saja dan mereka sudah menjadi tim ku sekarang" ucap Varo yang membuat Zahiya langsung memeluknya dan menangis dalam pelukan putranya.


"Kau baik-baik saja Va? Syukurlah, kita pulang sekarang dan mereka akan pulang juga ketempatnya masing-masing" ucap Zahiya setelah mengurai pelukan nya pada Varo.


Tapi saat semua orang akan pergi dari sana begitu juga dengan orang-orang yang sudah menjadi anggota Varo. Mereka semua lengah dan akhirnya Varo tumbang dengan luka yang sangat parah pada tubuhnya.


DOR...


DOR...


DOR...


"Varo!!!" teriak semua orang saat Varo sudah tergeletak bersimbah darah.


"Va, bangun Va. Jangan seperti ini" ucap Zahiya yang memeluk dan menepuk-nepuk pipi Varo.


"Sebaiknya kita segera bawa Varo pulang dan suruh Aaron bersiap-siap. Cepat" ucap Opa Zayn yang meminta Zahiya dan Varez membawa Varo sebelum terlambat.


"Kalian semua temukan dia hidup-hidup dan jangan melakukan apapun tanpa perintah dariku" teriak Opa Zayn yang memerintahkan semua orang dan juga anggotanya.

__ADS_1


Varo terkena tembakan tiga kali dan itu langsung membuatnya tidak sadarkan diri. Orang-orang Zayn dan yang lainnya langsung mengejar orang yang melakukan tembakan itu. Dengan kecepatan kilat orang tersebut sudah ditangkap oleh orang yang baru saja bernegosiasi dengan Varo.


.


"Abang!!!" teriak Viera yang terbangun dari tidurnya dengan berteriak.


"Kenapa gue mimpiin bang Varo yang bersimbah darah? Apa dia baik-baik saja? Kenapa perasaan gue nggak enak gini sih" gumam Viera yang segera meloncat dari ranjang menuju pintu.


Sepertinya ikatan batin antara Varo dan Viera sangat kuat. Bahkan Viera memimpikan Varo yang bersimbah darah, dan itu adalah kenyataan nya. Varo sedang terluka sangat parah dan akan dibawa kerumah untuk segera mendapatkan pertolongan dan perawatan.


"Sial! Kenapa dikunci?" gumamnya yang segera menggedor-gedor pintu kamarnya.


BRAK...


BRAK...


BRAK...


"Sial! Kenapa mereka semua tiba-tiba menjadi tuli? Aku akan mencari jalan keluar lain, pasti ada" gumam Viera yang menuju arah balkon kamarnya.


"Wah, jika gue jatuh sakit nggak ya? Apa akan membuat gue mati? Bodo, yang penting gue bisa keluar dan mencari keberadaan Varo" ucap Viera yang menyambung-nyambung sprei dan selimut tipis untuk bisa membuatnya turun.


"Ah, selesai juga. Gue bisa turun sekarang" gumam Viera yang segera turun menggunakan sambungan sprei.


BUK...


"Aw... Sakit juga, ini padahal tidak sampai dua meter tingginya. Tapi sakit, sepertinya kaki gue terkilir deh" gumamnya yang segera berjalan menuju halaman depan.


Saat akan menuju gerbang, disana malah ada mobil yang masuk dengan tergesa-gesa dan parkirkan dengan asal. Viera awalnya tidak mau menghiraukan apa yang terjadi dan siapa didalam mobil tersebut.


Tapi saat dia mendengar nama Varo disebut langsung berlari kearah suara tersebut dan dia tidak bisa melihat, karena semua orang menutupinya dan tidak sengaja dia melihat tangan yang tergeletak diatas brangkar itu ada cincin pernikahan mereka berdua.

__ADS_1


Viera sekuat tenaga mengejar dan tidak memperdulikan kakinya yang terluka. Viera berlari hingga dia terjatuh dan dia menabrak seseorang yang tidak lain adalah Varez. Dia tidak menghiraukan saat Varez bertanya.


"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Varez dan itu tidak dijawab oleh Viera.


"Apa yang terjadi Mi? Apa abang baik-baik saja?" tanya Viera yang mendekati Zahiya.


"Kau langsung masuk saja dan berikan darah kamu untuknya" jawab Zahiya dengan tatapan kosongnya.


Viera segera menerobos masuk dan dia melihat Varo sedang ditangani oleh beberapa dokter dan perawat. Viera mendekati mereka yang sedang menangani Varo.


"Nona, sebaiknya anda menunggu diluar saja" ucap Aaron yang meminta Viera keluar, tapi saat menatap wajah Aruna yang menggeleng.


"Nona, bersiaplah untuk melakukan transfusi darah untuk Tuan Muda" ucap Aaron yang meminta Viera bersiap dengan perawat yang membawanya berbaring disamping Varo.


Viera hanya mengangguk dan mengikuti apa yang perawat itu minta, Viera terus menangis dan saat pengecekan ada kejanggalan pada Viera.


"Dok, sepertinya Nona tidak bisa mendonorkan darahnya" ucap perawat tersebut yang membuat Viera merasa bingung dengan perkataan dari perawat tersebut.


"Apa yang terjadi? Apa Nona sedang tidak sehat?" tanya Aaron mendekati Viera dan perawat tersebut.


"Dad, Nona Muda sedang mengandung. Aku sudah mengeceknya dan didalam rahimnya ada janin" Aruna yang menjawab pertanyaan dari Aaron.


Viera mendengarnya merasa terharu dan juga sedih. Senang saat dia mendengar kabar baik jika dia sedang berbadan dua, sedih saat ini Varo sedang sekarat.


"Apa kau yakin?" tanya Aaron yang ikut memeriksa Viera.


"Dokter, Tuan Muda mengalami kejang-kejang!" teriak seorang perawat yang berada didekat Varo.


Aaron segera memberikan pertolongan pertama untuk Varo. Aaron dan Aruna sangat sibuk dan mencarikan darah yang sama dengan Varo, Aaron memang sudah menyiapkan semuanya dan bahkan sudah ada beberapa kantung darah untuk Varo.


Viera berjalan mendekat kearah Varo dan menggenggam tangan Varo dengan erat. Dia tak henti-hentinya menangis dan tidak mau jauh-jauh dari Varo.

__ADS_1


__ADS_2