
Viera kaget melihat Varo yang hanya berte*anjang dada saja. Bagian tubuh bawahnya hanya ditutupi oleh handuk sebatas pinggangnya.
Deretan roti sobek terpampang nyata dihadapan Viera. Bahkan dia sampai menelan slivanya dengan susah payah.
"Kenapa? Apa ingin menyentuhnya? Atau ingin mengulanginya lagi?" tanya Varo yang dengan santainya berdiri menatap Viera dengan tatapan mesumnya.
"Abang iihhh, ini saja masih sakit banget tahu. Malah mau mengulanginya lagi" ucap Viera yang memutar bola matanya malas dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa menutup pintunya? Apa kamu baik-baik saja? Buka pintunya Xa" ucap Varo yang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Aku baik-baik saja abang, aku ingin mandi dan berendam dulu. Rasanya masih sangat sakit" ucap Viera sambil berteriak dan masuk kedalam bathtub yang sudah terisi air hangat.
Mungkin Varo yang menyiapkan nya untuk Viera supaya nyaman dan meringankan rasa sakit dan perih pada inti tubuhnya.
"Ah, nyaman sekali. Ternyata dia perhatian juga, mau menyiapkan ini semua buat gue" gumam Viera saat sedang berendam didalam bathtub.
"Kenapa rasanya begitu sakit sekali ya? Astagfirullah, miliknya sayang sebesar itu bisa masuk kedalam milik gue yang segede gini ya? Tapi kenapa sakitnya ulang saat keluar masuk kek ingus, hihihi" gumamnya yang malah menertawakan ucapan nya sendiri.
"Gue bener-bener udah jadi wanita sejati dan bukan lagi perawan. Gue udah pecah perawan, sama lakik gue sendiri" gumamnya yang malah menenggelamkan kepalanya juga kedalam bathtub.
Viera berendam lumayan lama. Membuat Varo khawatir akan keadaan nya yang belum juga mau keluar dari dalam kamar mandi. Varo mencari kunci duplikatnya dan segera membuka pintunya.
__ADS_1
Varo langsung berlari saat melihat Viera tenggelam dalam bathtub. Dia langsung mengangkat tubuh Viera dan mengeringkan nya.
"Kenapa kau melakukan ini? Apa kau sudah tidak waras" ucap Varo yang memeluk Viera dengan erat dan dia mengusap-ngusap punggung polos Viera.
"Abang kenapa sih? Aku sedang berendam dan ini sangat nyaman" Viera malah balik bertanya dan dia menampilkan wajah polosnya.
"Kamu sengaja menenggelamkan diri kamu? Kenapa?" tanya Varo yang tidak menjawab pertanyaan dari Viera.
"Iya bang, aku memang sengaja. Habis airnya sangat membuat aku nyaman dan tenang. Hampir saja aku ketiduran didalam sana, kenapa abang malah mengangkat tubuh ku?" jawab Viera yang membuat Varo hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban darinya.
"Lain kali jangan lakukan lagi. Aku sangat panik dan aku tidak mau jika harus kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup ku untuk kedua kalinya. Jadi jangan pernah melakukan nya lagi, faham kamu" ucap Varo yang kembali memeluk Viera dengan erat.
"Kenapa? Apa abang takut kehilangan aku atau apa? Aku masih bingung dengan sikap abang, terkadang kasar, dan terkadang lembut seperti ini. Aku tidak tahu harus berbuat seperti apa, jika abang seperti ini" tanya Viera yang menatap Varo dengan tatapan berkaca-kaca dan dia mendongakan kepalanya, supaya air matanya tidak menetes.
"Kenapa abang berbicara seperti itu? Apa abang berfikir jika aku ini hanya kasihan melihat abang yang selalu menyakiti diri sendiri dan memaksa aku menikah dengan abang? Dan jangan bilang jika saat ada wanita yang abang ajak kedalam apartment juga kamar abang, itu hanya untuk menyakiti aku saja? Apa seperti itu bang?" tanya Viera yang menatap Varo dengan memegang rahang tegas Varo.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin membuat kamu merasa semakin bersalah, karena sudah membuat aku semakin kesal dan semakin bersemangat untuk membuat kamu menderita, saat kamu mengubah panggilan ku. Sungguh, aku minta maaf, maafkan aku. Maaf" ucap Varo yang semakin menunduk dan dia menggenggam tangan Viera sambil mengecupi punggung tangan nya.
"Aku nggak nyangka jika abang berfikiran pendek dan punya fikiran buruk padaku. Aku memang sempat mengatakan... Apa abang menguping pembicaraan aku dan Xaqer waktu itu?" tanya Viera yang mengingat akan ucapan nya dengan Xaqer.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukan itu. Saat itu aku ingin bersama dengan kamu dan aku mendengar semua itu. Maafkan aku, aku mohon maafkan aku honey. Maafkan aku" ucap Varo yang terus memohon dan memeluk Viera untuk tidak marah padanya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, aku ingin sendiri dulu. Biarkan aku menenangkan fikiran ku dulu, jadi, aku ingin minta abang menjauh dulu dari aku" ucap Viera yang melepaskan pelukan Varo. Lalu dia segera membungkus dirinya dengan bathrobe yang tergantung disana.
"Honey, maafkan aku. Aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi dan aku tidak mau kau tinggalkan. Honey aku mohon maafkan aku, maafkan aku jangan tinggalkan aku. Please" ucap Varo yang berlutut dihadapan Viera.
"Jangan seperti ini bang. Tolong, biarkan aku sendirian dulu, aku tidak akan pergi dari abang. Aku hanya ingin menenangkan diri dulu, abang bangunlah" ucap Viera yang membangunkan Varo dari berlututnya.
"Jika abang masih seperti ini. Aku akan benar-benar pergi dari abang dan mungkin aku tidak akan menampakan diri dihadapan abang atau siapapun" ucap Viera dengan tegas dan dia segera membangunkan Varo dari berlututnya.
Varo hanya diam dan membiarkan Viera untuk pergi darinya. Varo terus saja menunduk dan dia merasa, jika dia sudah sendirian. Dia mengambil sesuatu yang ada didalam kamar mandi.
Dia melukai dirinya sendiri kembali, karena sudah membuat wanitanya bersedih juga tidak ingin melihatnya lagi.
"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf. Maafkan aku. Aku minta maaf, kamu pantas marah dan bahkan membenci ku" gumam Varo yang menyayat-nyayat tangan nya sendiri.
Varo benar-benar sudah menyayat seluruh tangan nya hingga darahnya berceceran dilantai dan dia kembali mandi. Bukan mandi dengan air, tapi dengan darahnya sendiri hingga dia langsung terkapar dengan senyuman dibibirnya.
.
Sedangkan Viera, dia sedang menangis dan entah apa yang dia tangisi sekarang. Viera sendiri saja bingung, dia baru menyadari jika pria yang dia nikahi dan dia jauhi adalah pria yang selalu menyakiti diri sendiri.
"Astagfirullah, bagaimana jika dia menyakiti dirinya sendiri?" gumam Viera yang langsung berlari kearah kamar mandi.
__ADS_1
"Gue mohon, jangan bertindak bodoh lagi" gumam Viera yang akan membuka pintu kamar mandi.
Dia berlari dan langsung menjerit histeris saat melihat Varo sudah bermandikan darah. Dia langsung memeluk Varo dan membangunkan nya. Viera berteriak dan meminta tolong, tapi tidak ada yang mendengarkan nya. Dia berlari kembali untuk meminta bantuan petugas keamanan hotel.