
Tapi saat akan berteriak dan beranjak dari sana tangan nya digenggam sangat kuat oleh Varo. Sehingga dia tidak bisa kemana-mana, bahkan perutnya sudah semakin sakit dan ada air yang mengalir melalui sela pahanya.
"Bang, perut aku sakit. Tolong lepaskan tangan aku dulu" ucap Viera yang sudah sangat lemas dan dia seperti tidak memiliki tenaga untuk berbicara lagi.
Tangan nya yang satu lagi menekan tombol untuk memanggil para dokter dan perawat. Tidak lama kemudian dokter dan perawat datang. Mereka semua kaget saat melihat Viera yang sudah sangat pucat. Apa lagi dilantai sudah banjir oleh air ketuban nya yang pecah.
"Nona, anda akan melahirkan. Tolong lepaskan tangan anda dari Tuan" ucap Aaron meminta Viera melepaskan tangan nya dari Varo.
"Bukan saya yang menggenggamnya dok, dia yng menggenggam saya sangat kuat. Tolong bantu saya, saya sudah tidak kuat lagi. Perut saya semakin sakit" jawab Viera yang mengatakan nya sambil bertumpu pada tangan yang satunya lagi untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Ba-baik Nona" ucap Aaron yang membantu melepaskan tangan Varo. Tapi semuanya orang tidak bisa sampai dokter Maya datang untuk membantu Viera bersalin.
"Nona, sebaiknya anda melakukan persalinan disini saja. Sepertinya Tuan Muda tidak ingin ada pergi, walau bagaimana alam bawah sadarnya menahan anda untuk pergi. Jadi anda masih bisa melakukan nya disini dengan tangan masih digenggam oleh Tuan" ucap dokter Maya yang langsung diangguki oleh Viera. Dia sudah tidak tahan lagi untuk segera melahirkan ketiga buah hatinya.
Setelah membaringkan tubuhnya, Viera dibantu oleh dokter Maya dan dokter Aruna. Karena Viera meminta dokter Aaron dan perawat pria keluar. Hanya ada beberapa perawat wanita yang tinggal disana dengan dua dokter yang akan menangani Viera.
'Bangun bang, mereka ingin melihat abang. Apa abang tidak ingin melihat mereka bertiga? Aku sangat ingin melihat mereka, tolong bangunlah bang' ucap Viera dalam hati sambil meneteskan air matanya melirik kearah Varo.
"Nona kami harus melakukan tindakan operasi cesar untuk menyelamatkan ketiga baby anda. Karena tenaga anda sudah habis" ucap dokter Maya dan Viera hanya mengangguk saja.
Dia memang sudah sangat lemas untuk menged*an. Dia tidak akan sanggup melahirkan baby triplets dengan cara normal. Dia sudah tidak kuat lagi, saat dokter memberikan anastesi pada Viera. Perlahan Varo membuka matanya dan itu membuat semua orang yang ada disana antara senang dan khawatir.
__ADS_1
Senang karena Varo bisa bangun lagi dari komanya. Khawatirnya mereka takut jika Varo akan murka saat melihat keadaan Viera yang sedang menjalani operasi cesar untuk melahirkan baby triplets mereka.
Varo hanya menatap bingung pada semua orang yang ada disana dan dia langsung melirik kearah sampingnya. Dimana Viera sedang tersenyum padanya. Antara bahagia dan haru menjadi satu saat orang pertama yang dilihat Varo adalah wajah istrinya yang tersenyum padanya dengan sangat manis.
'Sweetie, kau disini sejak tadi? Aku sangat merindukan kamu. Kenapa kamu berada disini dan, apa yang sedang mereka lakukan padamu?' tanya Varo menatap Viera dengan tatapan penuh tanya.
'Aku sedang berjuang melahirkan buah hati kita bang. Aku hamil dan abang tidur begitu lamanya, sehingga tidak tahu aku hamil dan mengalami ngidam' seolah mereka sedang berbicara melalui fikiran mereka berdua.
Saat Varo akan mengatakan sesuatu tidak jadi saat mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring kedalam indra pendengaran mereka berdua.
"Selamat Tuan, Nona. Baby pertama adalah laki-laki" ucap dokter Maya memperlihatkan nya pada Varo dan Viera.
Tak berselang lama baby kedua dan ketiga lahir. Tapi apa yang aneh dengan baby mereka yang ketiga. Dia sama sekali tidak menangis dan mengeluarkan suaranya. Membuat dokter Maya dan dokter Aruna panik, mereka segera melakukan tindakan untuk baby ketiga mereka.
Sedangkan dokter Aruna segera mengerjakan tugas untuk menutup kembali luka operasi diperut Viera. Baik Varo maupun Viera merasa bingung, bukankah tadi dokter Maya bilang baby mereka ada tiga? Kenapa hanya terdengar dua tangisan baby saja yang bersahutan. Fikir mereka berdua.
.
Sedangkan diluar ruangan, Aaron, Oma Lulu dan Opa Devon sedang berdo'a untuk keselamatan ketiga cicitnya. Bahkan mereka tidak berhenti mengucapkan syukur dan do'a untuk keselamatan cucu dan cicitnya.
"Mas, apa mereka akan baik-baik saja? Aku takut mereka kenapa-kenapa, apa lagi jika tahu saat Viera hamil itu seperti apa keadaan nya" tanya Oma Lulu saat merasakan kekhawatiran begitu dalam pada Viera.
__ADS_1
"Kita do'akan semuanya baik-baik saja sayang. Ingat, jangan berfikiran yang tidak-tidak. Walau kondisi Viera saat hamil itu seperti apa, semoga Allah selalu melindungi mereka semua" ucap Opa Devon yang menenangkan Oma Lulu yang panik.
"Aaron, apa mereka benar baik-baik saja? Kenapa tidak terdengar suara bayi ketiganya? Bukankah mereka ada tiga?" tanya Opa Devon menatap dengan sangat serius.
"Saya juga tidak tahu Tuan, saya tidak mungkin masuk kedalam. Karena Tuan Muda tidak mungkin mengizinkan nya, sebaiknya kita semua berdo'a saja" jawab Aaron yang juga merasa panik akan pertanyaan yang keluar dari Opa Devon.
'Apa kalian bisa menanganinya? Kenapa kalian begitu lama sekali, sungguh. Jangan pernah berbuat kesalahan dalam keadaan panik seperti ini' ucap Aaron dalam hati untuk bisa menenangkan fikiran nya sendiri.
Tak berselang lama semua orang berkumpul dan saling menanyakan keadaan Viera. Terutama Zahiya yang begitu panik dan khawatir, karena ini adalah pengalaman pertamanya menunggu seorang cucu pertamanya lahir.
Tak berselang lama dua perawat keluar dengan mendorong dua box baby. Membuat mereka semua heran akan satu baby lagi. Zahiya segera menghampiri mereka berdua lakukan bertanya.
"Kenapa hanya ada dua? Dimana baby satu lagi?" tanya Zahiya dengan tatapan tajamnya.
"Maaf Queen, dokter sedang menangani Tuan Muda kecil. Karena pada saat dilahirkan tidak menangis saja sekali. Dokter sedang memastikan semuanya baik-baik saja" jawab perawat tersebut dengan gemetar, karena takut menatap tatapan menakutkan dari Zahiya.
"Astagfirullah" semua orang langsung lemas mendengar penjelasan dari perawat tersebut.
Mereka semua mencoba untuk saling menguatkan. Zahiya, Oma Lulu dan para wanita langsung menangis mendengar kabar buruk yang menimpa Varo dan Viera. Tidak henti-hentinya cobaan datang pada keduanya.
Pertama mereka harus terpisahkan karena keadaan Varo yang koma dan Viera hamil dengan berbagai macam keluhan
__ADS_1