
"Nyonya, makan malam sudah siap" ucap salah seorang pelayan yang mengatakan nya pada Zahiya.
"Terimakasih" ucap Zahiya yang mengangguk dan memintanya untuk pergi.
"Kita makan malam sekarang, biarkan saja mereka istirahat dulu" ucap Zahiya yang mengajak semua orang untuk makan malam.
"Tapi nak, lebih baik kita panggil saja. Tidak baik jika mereka hanya berdua kita biarkan berdua saja, walau tidak ada parasaan apapun. Yang namanya syetan tidak akan menendang teman atau kekasih. Biar Mama saja yang memanggil mereka berdua" ucap Oma Lulu yang menjelaskan pada Zahiya.
"Baiklah Ma, aku kesana duluan" ucap Zahiya yang mengangguk dan pergi menuju ruang makan diikuti oleh suami dan anak-anaknya.
TOK...
TOK...
TOK...
"Va, waktunya makan malam nak" ucap Oma Lulu yang masuk setelah mengetuk pintu ruangan.
"Oma, maaf. Aku ketiduran" ucap Varo yang segera bangkit dari berbaringnya.
"Tidak apa-apa sayang, Oma mengerti. Kamu pasti sangat kelelahan seharian bekerja, sekarang bersihkan lah tubuh my lalu kita makan bersama" ucap Oma Lulu yang langsung diangguki oleh Varo.
"Nak, bngunlah. Kita makan malam bersama dulu" ucap Oma Lulu dengan sangat lembut pada Viera. Setelah Varo keluar dari ruangan tersebut.
"Tapi Nyonya, saya sudah sangat merepotkan kalian semua. Saya akan pulang saja" ucap Viera yang menunjuk dan dia ingin pergi dari sana setelah merapihkan pakaian dan ranjang bekasnya tidur.
"Kenapa harus pulang? Dan jangan panggil saya Nyonya, karena saya bukan Nyonya kamu. Panggil saja Oma, sama seperti Varo juga cucu-cucu Oma yang lain" ucap Oma Lulu yang ikut duduk disamping Viera.
"Tapi, baiklah Oma. Tapi saya harus pulang, saya tidak mungkin berada didalam keluarga Bos saya, saya harus pulang saja Oma" ucap Viera yang kukuh ingin pulang saja.
"Baiklah, Oma tidak akan memaksa kamu. Tapi setidaknya hargai, jika seseorang mengajak makan, setelah itu baru boleh pulang. Bersiaplah, kita keluar sekarang, ayo" ucap Oma Lulu yang membuat Viera mau tidak mau menuruti keinginan dari Oma Lulu.
'Ya Allah, kenapa hamba harus terjebak dengan keluarga ini? Kenapa hamba harus berada ditengah-tengah keluarga mereka. Mana Oma nya baik dan ramah banget, gue jadi nggak enak jika harus terus-terusan menolak keinginan nya' ucap Viera dalam hati dan dia hanya bisa mengangguk.
"Ya sudah, kita keluar sekarang" ucap Oma Lulu menggandeng tangan Viera keluar ruangan.
__ADS_1
Saat Oma Lulu mengajak Viera keluar menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana. Viera dibuat terperangah saat melihat ada tiga Varo sedang duduk dan menatap kearahnya.
"Ayo duduk nak, kita makan malam bersama" ucap Opa Devon mengajak Viera untuk duduk bergabung dengan mereka.
Viera hanya mengangguk dan disana tidak ada yang bersuara sama sekali. Viera menatap semua orang yang ada disana dan mereka juga melakukan hal yang sama dengan Viera.
"Bang, apa semuanya baik-baik saja? Kenapa tadi siang kau susah dihubungi?" tanya Zahiya yang sedang mengambilkan makanan untuk David.
"Abang habis menyelesaikan misi Mi, dan sedikit sukses" jawab Varez yang langsung mengunyah makanan nya.
"Kenapa tuh kanebo kering belum kemari juga?" tanya Varuz yang menghela nafasnya dan wajahnya sangat datar.
"Maaf, lama" ucap Varo yang baru bergabung dan dia duduk disamping Viera, karena hanya itu tempat yang masih kosong.
"Makanlah nak, jangan sungkan dan jangan heran jika disini ada empat Varo" ucap Oma Lulu yang meminta Viera untuk makan.
"Terimakasih Oma" ucap Viera yang membuat Varo mengernyitkan keningnya saat mendengar Viera memanggil Oma juga pada Oma Lulu.
Semuanya makan malam dengan tenang dan setelah selesai mereka semua berpindah kedalam ruang keluarga. Sebenarnya Viera merasa sungkan akan semua ini, tapi karena Oma Lulu yang memintanya. Jadi mau tidak mau Viera menurutinya.
"Siapa nama kamu sayang? Oma sampe lupa menanyakan nama kamu" tanya Oma Lulu pada Viera.
"Nama yang bagus, apa kamu masih memiliki keluarga? Seperti saudara atau kedua orang tua? Maaf jika Oma lancang bertanya perihal pribadi pada kamu nak, jika tidak bisa mengatakan nya juga tidak apa-apa" tanya Oma Lulu lagi dan itu membuat Viera hanya diam dan menunduk semakin dalam.
Tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tangan nya. Entah dorongan dari mana yang membuatnya merasa jika ada sebuah dukungan dengan genggaman lembut dari seorang Elvaroz. Pria yang selalu dia panggil gila dan tidak waras itu.
"Saya masih memiliki keluarga Oma, lebih tepatnya keluarga saya satu-satunya semenjak kedua orang tua kami pergi uantuk selamanya. Yaitu adik laki-laki saya, dia adalah alasan untuk saya bisa kuat dan bekerja keras supaya dia bisa tetap melanjutkan pendidikan nya" jawab Viera merem*as tangan Varo yang sedang menggenggam tangan nya.
"Maaf sudah membuat kamu sedih nak. Kamu adalah kakak yang baik dan bisa mengasuhnya dengan baik. Semoga saja apa yang kamu inginkan tercapai dan Allah mendengarkan do'a kamu nak" ucap Oma Lulu yang mengusap kepala Viera.
"Oh iya sampe lupa. Kita semua belum berkenalan. Yang sedang duduk disebelah sana adalah anak dan menantu Oma, kedua orang tuanya Varo dan mereka semua. Mereka adalah kembar empat, yang disana sisulung namanya Alvarez yang tertua dan tidak kembar. Yang kembar pertama adalah Alvaraz, kedua Alvariz, ketiga Elvaroz dan sibungsu Elvaruz. Jadi sudah mengerti bukan, jika wajar saja jika mereka semua mirip" ucap Oma Lulu pada Viera.
'Eh buset, kembar empat? Banyak bener, tapi bisa sekalian banyak jika satu kali hamil dan melahirkan empat, dua kali saja sudah banyak. Hihihihi' ucap Viera yang mengatakan nya hanya dalam hati. Bisa mampus jika dia mengatakan nya langsung, sedangkan aura dari Zahiya saja sudah membuat nyalinya ciut.
"Hai, panggil saja saya Varez. Kita bertemu lagi Nona" ucap Varez yang langsung mendapatkan pelototan dari Varo.
__ADS_1
"Ah, iya Tuan. Maaf saya tidak mengenali anda" ucap Viera yang menundukan kepalanya pada Varez.
"Kau curang sekali bang, kenapa kau sudah lebih dulu bertemu dengan adik ipar?" tanya Varaz merasa jika hanya dia dan adik-adiknya saja yang belum tahu.
"Abang nggak sengaja ketemu tadi. Abang sedang berada dihotel dan meminta salah seorang pegawai untuk membereskan kamar. Makanya bisa kenal, walau hanya wajahnya saja, bukan namanya" jawab Varez dengan santainya.
"Oh iya Nona, dia adalah Alvaraz atau Varaz, sebelahnya Alvariz atau Variz, dan yang sebelah saya ini Elvaruz atau Varuz. Jika disamping anda tidak perlu saya kenalkan, karena anda sudah sangat mengenalnya bukan?" ucap Varez yang tersenyum penuh article saat mengatakan nya pada Viera.
'Bukan hanya kenal, bahkan dia ini adalah pria paling menyebalkan dan paling tidak waras yang pernah gue kenal. Untung saja ganteng, kalo nggak, gue ceburin empang haji Nasir deket rumah gue' ucap Viera dalam hati sambil tersenyum dan itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Varo.
"Apa kau sedang mengumpatku? Jika iya, bersiaplah tidak akan ku biarkan pulang atau keluar dari rumah ini walau hanya satu langkah saja" ucap Varo yang berbisik tepat ditelinga Viera.
"Kagak takut gue, kita lihat saja. Gue akan keluar dengan atau tanpa izin dari loe" jawabnya dengan sinis dan itu membuat Varez hanya tertawa terbahak-bahak.
Membuat semua orang menatap kearahnya merasa bingung, karena tiba-tiba dia tertawa sangat kencang.
"Maaf-maaf, hanya tadi ada yang lucu. Lebih baik aku pergi saja. Karena sudah mengantuk" ucap Varez yang kabur dan tidak ingin jika akan ada banyak pertanyaan dari adik-adiknya dan semua yang ada disana.
Untuk sesaat semuanya diam dan larut dalam fikiran nya masing-masing. Lalu mereka kembali dibuat terganggu saat Zahiya sudah mulai angkat bicara pada Varo dan Viera.
Jika sudah begitu, baik Mama Lulu maupun Papa Devon, tidak ada yang berani mengatakan apa-apa. Karena itu adalah keputusan atau kata-kata yang mutlak dan tidak terbantahkan. Sekalipun itu David, suaminya sendiri.
"Va, apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Zahiya dengan datarnya.
"Tidak ada Mi" jawab Varo dengan singkat, jelas dan padat.
"Baiklah, kalian berdua ikut Mimi dan Pipi sekarang" ucap Zahiya yang bangkit dari duduknya dan diikuti oleh David tentunya.
"Iya Mi" jawab Varo yang langsung menggandeng tangan Viera untuk ikut dengan nya.
"Mereka mau membicarakan apa kira-kira?" tanya Varuz pada Varaz dan Variz.
"Entahlah, mungkin sisanya kapan nikah" jawab Varaz asal dan langsung mendapatkan lemparan bantal sofa oleh kedua adiknya.
"Kalian berdua, awas. Akan aku balas" ucap Varaz yang menimpuk kedua adiknya menggunakan bantal sofa juga.
__ADS_1
"Sudah-sudah, kalian bertiga ini sudah besar dan dewasa, masih saja seperti anak kecil. Membuat Oma pusing saja" ucap Oma Lulu yang segera bangkit dari duduknya menuju kamarnya dengan diikuti oleh Opa Devon dibelakangnya.
Mereka bertiga hanya menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, mereka sedang memikirkan apa yang akan kedua orang tuanya bicarakan dengan Varo dan gadis bernama Viera itu.